AS Umumkan Pelonggaran Visa dan Remitansi untuk Kuba

17 Mei 2022 15:00
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Presiden AS Joe Biden berbicara terkait penumpukan militer Rusia di perbatasan Ukraina, dari Gedung Putih di Washington, AS, Jumat (18/2/2022). Foto: Kevin Lamarque/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Presiden AS Joe Biden berbicara terkait penumpukan militer Rusia di perbatasan Ukraina, dari Gedung Putih di Washington, AS, Jumat (18/2/2022). Foto: Kevin Lamarque/REUTERS
Amerika Serikat (AS) mengumumkan pada Senin (16/5/2022), Washington akan melonggarkan pembatasan terhadap Kuba. Keputusan ini mengubah kebijakan keras AS terhadap Kuba yang diberlakukan oleh eks Presiden Donald Trump.
Keputusan pelonggaran termasuk ketentuan saling kunjung antar warga kedua negara. Pemrosesan visa akan meningkat, termasuk di Konsulat Havana. Namun, sebagian visa masih akan ditangani Kedutaan AS di Guyana.
AS juga akan menghapus pembatasan perjalanan ke Kuba. Alhasil, akan ada peningkatan jumlah penerbangan yang diizinkan antara AS dan Kuba. Negeri Paman Sam mengizinkan kunjungan kelompok tertentu yang saat ini dilarang.
Pengiriman remitansi antara keluarga dari kedua negara tersebut diperbolehkan pula. Remitansi ialah adalah transfer uang dari pekerja asing ke penerima di negara asalnya.
Demi meningkatkan aliran pengiriman uang, AS mencabut pembatasan yang ada. Batas pengiriman saat ini sebesar USD 1.000 (setara Rp 14,6 juta) per kuartal bagi setiap pengirim. AS memungkinkan remitansi non-keluarga pula untuk menyokong pengusaha independen Kuba.
Sisa-sisa peluru di kolom depan kedutaan Kuba di Washington, Amerika Serikat. Foto: AFP/NICHOLAS KAMM
zoom-in-whitePerbesar
Sisa-sisa peluru di kolom depan kedutaan Kuba di Washington, Amerika Serikat. Foto: AFP/NICHOLAS KAMM
"Rakyat Kuba menghadapi krisis kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan kebijakan kami akan terus fokus pada pemberdayaan rakyat Kuba untuk membantu mereka menciptakan masa depan yang bebas dari penindasan dan penderitaan ekonomi," jelas Kementerian Luar Negeri AS, dikutip dari AFP, Selasa (17/5/2022).
Dengan demikian, AS turut memfasilitasi pendidikan antara kedua negara. Pihaknya juga akan memberikan dukungan untuk penelitian profesional. Bantuan itu termasuk perluasan akses internet dan perusahaan remitansi.
Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodriguez, menyebut keputusan itu sebagai langkah kecil menuju arah yang benar. Tetapi, dia menekankan, AS tetap tidak mengubah embargo yang berlaku sejak 1962.
"Baik tujuan maupun instrumen utama kebijakan Amerika Serikat terhadap Kuba, yang merupakan sebuah kegagalan, tidak berubah," tegas Rodriguez.
Terlepas dari kritik itu, Kuba menyambut keputusan AS. Di sisi lain, sejumlah pejabat AS mengecam pencabutan pembatasan.
Seorang pria ditangkap selama demonstrasi menentang pemerintah Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel di Havana, pada 11 Juli 2021. Foto: Yamil Lage/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Seorang pria ditangkap selama demonstrasi menentang pemerintah Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel di Havana, pada 11 Juli 2021. Foto: Yamil Lage/AFP
"[Rezim Kuba] melanjutkan penganiayaan kejamnya terhadap warga Kuba yang tak terhitung jumlahnya dari semua lapisan masyarakat," tulis anggota Partai Demokrat AS, Bob Menendez.
"Mereka yang masih percaya bahwa peningkatan perjalanan akan menumbuhkan demokrasi di Kuba hanya sedang menyangkal. Selama beberapa dekade, dunia telah bepergian ke Kuba dan tidak ada yang berubah," lanjutnya.
Anggota Partai Republik AS, Marco Rubio, juga mengecam pengumuman tersebut. Rubio merupakan keturunan Kuba.
"[Rezim Kuba] mengancam Biden dengan migrasi massal dan memiliki simpatisan di dalam pemerintahan," cuit Rubio.
Biden tengah menapaki garis tipis di Kuba. Dia berupaya membantu rakyat Kuba dan mendorong perkembangan demokrasi. Tetapi, dia mencari jalan agar rezim Komunis tidak mendapatkan manfaatnya.