Asa Warga Kampung Kerang Agar Pesisir Pantai Jakarta Bersih dari Limbah Cangkang

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah kerang hijau terlihat di kawasan Muara Angke, Jakarta Utara, Sabtu (2/10). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah kerang hijau terlihat di kawasan Muara Angke, Jakarta Utara, Sabtu (2/10). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Cangkang kerang menggunung di pesisir laut Kampung Kerang kawasan Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara. Cangkang itu dibiarkan menumpuk lama atau hilang sedikit demi sedikit tergerus ombak.

Sementara, di sekitar gunungan cangkang karang, marak warga beraktivitas. Ada anak-anak yang bermain, hingga lansia yang beristirahat menikmati usia senjanya. Meski terlihat terbiasa dengan gunungan kerang, warga punya harapan agar gunungan cangkang kerang itu lenyap.

"Penginnya dibersihin sih, saya keberatan juga kena hawa baunya, terus juga kan kalau lagi musim hujan uletnya pada ke sini," kata Warga Kampung Kerang, Suparni, ketika ditemui, Jumat (5/12).

Suparni berharap ada alat pengolah cangkang kerang menjadi lebih bernilai. Sebab, cangkang kerang yang menggunung itu sudah begitu menganggu, apalagi saat kesehatannya sedang tidak baik.

Warga beraktivitas di tumpukan limbah kulit kerang hijau yang menggunung melebihi tanggul laut setinggi 5 meter di kawasan pesisir Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (28/5). Foto: Thomas Bosco/kumparan

"Saya keberatan juga baunya. Apalagi kalau kesehatan lagi kurang enak, kan kurang enak. Ya penginnya mah dibersihin, ada yang apa gitu. Jalan keluarnya apa, diangkut pakai apa biar gak menumpuk gitu," ujar dia.

Dahulu, cangkang kerang yang menumpuk pernah dibersihkan oleh petugas. Namun karena warga terus membuang cangkang ke lokasi tersebut, limbah-limbah itu akhirnya menumpuk dan menggunung. Dia menyebut satu pemilik lapak atau yang biasa dipanggil 'bos' bisa membuang 100 karung cangkang kerang tiap harinya.

"Susah karena kan di sini mayoritas kerjanya begitu semua, jadi ya sehari-hari penuh terus. Sementara kan bukan satu bos satu dua bos aja, tapi banyak kan," kata dia.

Nelayan menurunkan kerang hijau usai dipanen dari Teluk Jakarta di Cilincing, Jakarta, Rabu (30/8/2023). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO

Hal senada dikatakan Sani (29). Ia punya anak yang masih berusia 2 tahun, dan berharap ada solusi atas cangkang kerang yang menggunung itu. Ia khawatir, belatung, lalat dan tikus mengganggu kesehatan anaknya.

"Penginnya dibersihin soalnya juga kan ngundang lalat kecil gak enak ya, kalau lagi sama anak juga suka nemplok di makanan," kata dia.

Aktivitas para pekerja kerang hijau terlihat di pesisir Cilincing, Jakarta Utara, Jumat (5/12/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Sebelumnya, praktisi kesehatan masyarakat lulusan Universitas Indonesia dr. Ngabila Salama, menjelaskan dampak kesehatan jangka pendek dan jangka panjang dari limbah cangkang kerang.

Terutama jika berada di lingkungan permukiman, pesisir, pasar, atau tempat pengolahan seafood.

Berikut dampak kesehatan yang ditimbulkan dari limbah cangkang kerang tersebut:

Sejumlah nelayan memilah kerang hijau untuk segera dijual di kawasan Cilincing, Jakarta Utara, Minggu (5/12). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Timbunan cangkang kerang yang membusuk menghasilkan gas seperti amonia dan hidrogen sulfida (H₂S). Paparan ini dapat menyebabkan:

  • Batuk

  • Sesak Napas

  • Iritasi Tenggorokan

  • Sakit Kepala

Penyakit Kulit

  • Lingkungan yang kotor dan lembap menjadi tempat ideal bagi bakteri dan jamur.

  • dermatitis

  • gatal-gatal

  • infeksi kulit karena kontak dengan air tercemar

Diare dan Gastroenteritis

  • Pembusukan limbah dapat mencemari air tanah dan saluran air dengan bakteri patogen seperti:

  • E. coli

  • Vibrio

  • Salmonella

Dampaknya adalah:

  • Diare

  • Muntah

  • Kram perut

Leptospirosis

Timbunan limbah menarik banyak tikus, yang membawa bakteri Leptospira.

Penyakit ini bisa menyebabkan:

  • demam tinggi

  • nyeri otot

  • gagal ginjal (pada kasus berat)

Penyakit akibat Nyamuk (Dengue, Chikungunya)

Genangan air yang muncul di antara tumpukan cangkang dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes dan Culex.

Risikonya adalah:

  • Demam Berdarah (DBD)

  • Chikungunya

  • Filariasis atau kaki gajah

Keracunan Hidrogen Sulfida (H₂S)

Jika konsentrasi gas pembusukan tinggi, maka yang akan terjadi:

  • Pusing

  • Mual

  • Hilang kesadaran di kasus ekstrem

  • Iritasi Mata dan Saluran Napas

Karena limbah menarik lalat, tikus, dan hewan pemulung lainnya, risiko penyakit seperti:

  • Tifus (dari lalat atau tikus)

  • Kolera

  • Penyakit bawaan vektor lainnya