Asal Usul Albino

Kulitnya putih pucat, rambutnya tak berwarna, dan pandangannya kabur. Beberapa orang lahir berbeda dengan kondisi tersebut. Merekalah orang-orang albinisme atau biasa dipanggil ‘albino’.
Albinisme adalah kondisi tubuh yang terjadi amat langka yang disebabkan oleh penyaluran gen. Dia bukan penyakit menular ataupun sesuatu kecacatan. Mereka terlahir berbeda tanpa pigmen melanin di kulit, mata, dan rambut yang membuatnya tidak mampu menangkis sinar UV.
Proses menjadi albinisme bermula dari mutasi genetis. Mengutip dari Scientific American, albinisme adalah kondisi di mana manusia tetap memiliki melanocytes, namun mengalami mutasi genetis yang menghambat produksi pigmen atau kemampuan sel tubuh untuk menyalurkan zat keratinocytes, sel penting yang terdiri dari epidermis atau bagian terluar dari kulit.
Albinisme kemudian bercabang menjadi lima jenis, namun hanya dua jenis yang jamak terjadi yaitu oculocutaneous tipe 1 (OCA 1) dan tipe 2 (OCA 2). Oculocutaneous secara ilmiah berarti “mempengaruhi mata dan kulit” karena dalam bahasa ilmiah ocula berarti mata dan cutaneous berarti kulit.
Pengidap OCA1 memiliki mutasi gen yang disebut TYR yang bertanggung jawab membuat enzim tyrsinase. Enzim ini berguna untuk mengubah asam amino tirosin menjadi molekul pigmen yang memberi warna terhadap kulit, rambut, dan mata. Sedangkan OCA2 yang merupakan kejadian paling umum di Afrika kurang lebih sama dengan OCA1. Hanya saja, OCA2 dihasilkan dari mutasi gen yang juga mengubah tata letak struktur protein.
Kondisi tubuh ini membuat orang penyandang albinisme terlihat berbeda dengan yang lain. Ketika manusia begitu berwarna dengan keragaman ras, orang penyandang albinisme cenderung sama: berkulit putih pucat, tidak memiliki pigmen di mata, dan berambut seputih salju.

Albinisme tidak hanya terjadi di manusia, namun juga terjadi di makhluk hidup bertulang belakang. Hewan juga bisa menjadi albinisme terutama melanocyte atau sel pemberi warna dalam kulit. Kondisi albinisme hewan dengan manusia berbeda bentuk. Hewan albinisme tidak selalu berkulit putih tanpa warna, bahkan hewan tersebut mungkin berkulit transparan.
Dampak perbedaan fisik ini begitu berpengaruh pada hidup manusia. Albinisme bukan penyakit yang harus diobati. Mereka memiliki kecerdasan normal, hanya fisik mereka memang terlahir lebih renta. Menurut penelitian lembaga advokasi albinisme Under the Same Sun, perlu empati dengan bantuan berbagai fasilitas untuk melihat para penyandang agar bisa berdaya.
Kanker kulit adalah ancaman yang setiap hari membayangi. Jalan hidup orang allbino hampir pasti mengalami masalah kulit serius ketika memasuki usia 30 tahun. Resiko penyandang albinisme terkena kanker kulit hampir 1000 kali lipat dibanding orang pada umumnya.
Selain ancaman kanker kulit, penyandang albinisme rentan terhadap gangguan penglihatan. Kondisi mata mereka tidak seperti orang pada umumnya akibat photoreceptor (sel retina yang mendeteksi cahaya) tidak mampu mengubah cahaya yang ditangkap menjadi sinyal di otak mereka. Kondisi ini disebut nystagmus yang membuat mata mereka terus berdenyut.
Upaya menghindarkan manusia dari albinisme telah terpintas di pikiran beberapa ilmuwan. Peneliti dari University of Minnesota, Richard King, telah berhasil menemukan cara mutasi genetik yang dapat mengubah struktur DNA agar tidak memiliki potensi albinisme ketika lahir. Namun penelitian itu belum mampu memastikan untuk dapat bekerja di manusia.
Langkah paling mudah untuk menghormati perbedaan kondisi saudara-saudara kita penyandang albinisme adalah mengubah cara pandang. Kita sering merujuk kata albinisme yang kemudian tersemat pada mereka. Mengutip laporan Al Jazeera, kata albino hanya mengartikan kondisi fisiknya yang sering dimaknai sebagai panggilan yang menyinggung, sehingga mereka lebih nyaman dipanggisl sebagai ‘penyandang albinisme’.
Kata ‘penyandang albinisme’ menempatkan mereka sebagai manusia dan tidak sebagai kondisi mereka. Perubahan kata ini mampu melihat penyandang albinisme dengan esensi kemanusiaan.
