kumparan
19 Sep 2019 20:30 WIB

Asap Kebakaran Hutan di Riau Makin Tebal, Warga Mengungsi ke Medan

Pengendara kendaraan bermotor menembus kabut asap pekat dampak dari kebekaran hutan dan lahan di Pekanbaru, Riau, Jumat (13/9). Foto: ANTARA FOTO/Rony Muharrman
Kabut asap karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di Provinsi Riau, Kamis (19/9). Akibatnya, sejumlah warga Riau memilih mengungsi sementara di Kota Medan, Sumut, demi menghindari penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA).
ADVERTISEMENT
Warga Riau banyak memadati sejumlah terminal bus di Medan. Salah satunya di Terminal Bus Makmur yang berada di Jalan SM Raja, Kota Medan.
Terminal itu melayani penumpang rute Riau-Medan. Para penumpang dari Riau tampak menggunakan masker.
Penumpang jurusan Riau- Medan saat baru turun di Terminal Makmur, Medan. Foto: Rahmat Utomo/kumparan
Viktor, salah seorang karyawan perusahaan penyedia bus CV Makmur mengatakan, sepekan belakangan jumlah penumpang dari Riau meningkat dibanding hari biasa. Para penumpang dari Riau membeludak lantaran menghindari kabut asap.
"Ramainya penumpang biasanya terjadi saat hari raya, musim libur sekolah dan tahun baru. Namun, dalam dua pekan ini, jumlah penumpang naik kira-kira 10 persen,” ujar Viktor di lokasi, Kamis (19/9).
Pengendara kendaraan bermotor melintas di jalan Soekarno Hatta ketika kabut asap pekat dampak karhutla menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau, Selasa (17/9/2019). Foto: ANTARA FOTO/Rony Muharrman
Selain Medan, menurut Viktor, warga Riau juga mengungsi ke kabupaten/kota di Sumut lainnya, seperti Kota Tebing Tinggi, Binjai, Deli Serdang, hingga Langkat. Pada umumnya mereka singgah ke tempat sanak saudaranya.
ADVERTISEMENT
Loading Instagram...
Viktor mengatakan, kabut asap juga mengganggu pengemudi bus antarkota rute Riau-Medan. "Kabut asap memengaruhi waktu tempuh yang biasanya 1,5 jam, kini lebih satu hingga dua jam,” ujar Viktor.
Penumpang jurusan Riau- Medan saat baru turun di Terminal Makmur, Medan. Foto: Rahmat Utomo/kumparan
Sementara itu, seorang warga Riau bernama Fatimahtizzahra El Karim mengaku sengaja datang ke Medan bersama anaknya yang masih berusia 1,5 tahun agar tidak terkena ISPA.
"Saya terpaksa mengungsi karena asap di sana (Riau) semakin tebal. Anak kami juga masih kecil. Saya takut anak saya ini terdampak asap dan terkena penyakit saluran pernafasan,” ujar Fatimah.
Di Medan, Fatimah sudah lebih dari tiga hari tinggal di rumah kakak iparnya yang berada di Jalan Brigjen Katamso. Sementara itu suaminya yang berprofesi sebagai fotografer hanya mengantarnya ke Medan, sebelum akhirnya kembali pulang ke Riau untuk bekerja.
Fatimah saat mengendong anaknya saat berada di Medan. Foto: Dok. Istimewa
Fatimah sengaja mengungsi ke Medan lantaran tidak tahan lagi dengan kabut asap yang semakin tebal di daerah rumahnya di Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau.
ADVERTISEMENT
Fatimah mengaku akan tinggal lama di Medan apabila kondisi di Riau sudah benar-benar kondusif. "Kalau tidak berbahaya kemungkinan kami akan kembali ke Kampar," ujar Fatimah.
Perahu melintas di sungai Siak saat kabut asap dampak dari kebakaran hutan dan lahan kembali menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau. Foto: ANTARA FOTO/Rony Muharrman
Hingga kini, sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan masih diselimuti kabut asap akibat karhutla. Sebagian masyarakat juga mulai terpapar ISPA.
Pemerintah tengah menyiapkan cara menghilangkan kabut asap dengan membuat hujan buatan. Sementara itu, Presiden Jokowi bersama Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian sempat memantau kondisi pemadaman dan penanganan karhutla di Riau pada Selasa (17/9).
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan