'Ashiap' Atta Halilintar dan Dinamika Bahasa Indonesia di Media Sosial

6 April 2019 9:16 WIB
comment
9
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
YouTuber, Atta Halilintar. Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
YouTuber, Atta Halilintar. Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan
“Efek utama internet terhadap bahasa adalah meningkatnya kata-kata ekspresif dengan menawarkan dimensi komunikasi baru yang belum pernah ada sebelumnya,’ kata seorang ahli bahasa asal Inggris, David Crystal.
Di Indonesia, salah satu contohnya bisa dilihat pada kata ‘ashiap’ yang dipopulerkan YouTuber Atta Halilintar. Sebuah kata yang sebelumnya jarang terdengar atau mungkin tidak eksis. Namun, tiba-tiba tercipta dan digunakan masyarakat secara meluas.
Kepala Subbidang Kosakata Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB) Kemendikbud, Azhari Dasman Darnis menyebut, fenomena ‘ashiap’ merupakan dialek temporal (sementara).
“‘Ashiap’ itu seperti dialek temporal yang berasal dari dialek perorangan (idiolek). Lalu, diikuti oleh banyak orang, seperti Pak Harto dulu, yang pakai akhiran ken. Itu tidak akan bertahan lama,” ujar Azhari.
Kepala Subbidang Kosakata Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud, Azhari Dasman Darnis. Foto: Sabar Artiyono/kumparan
Munculnya kata-kata baru yang berasal dari internet, menurut Azhari, membuktikan bahwa pengaruh berbahasa Indonesia bukan lagi Jakarta sentris. Tetapi, juga dipengaruhi oleh media sosial.
Dia menambahkan, perkembangan istilah baru ini tidak bisa diatur. Sebab, penggunaannya bukan dalam ranah resmi tetapi dalam hal ‘seru-seruan’. Ditambah lagi, istilah ini sebagai identitas anak muda atau jargon.
“Karena sifatnya muncul dan hilang lagi, istilah seperti itu tidak diatur dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),” tambah Azhari.
Kantor Subbidang Kosakata Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di Rawamangun, Jakarta Timur. Foto: Sabar Artiyono/kumparan
Selain munculnya istilah baru, Bahasa Indonesia juga dihadapkan dengan kata-kata asing yang secara masif digunakan di era digital. Sebut saja, download, upload, e-mail, post, dan masih banyak lagi.
Lalu, bagaimana Bahasa Indonesia menghadapi kontak bahasa di era digital?
“Utamakan Bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing” menjadi slogan BPPB Kemendikbud. Hal ini sesuai jika melihat jumlah bahwa orang Indonesia sebagai polyglot (menguasai tiga bahasa) terbanyak sedunia.
Melihat banyaknya istilah asing, Azhari menjelaskan BPPB melakukan penjaringan kosakata bahasa daerah untuk menjadikannya sebagai kata baku dengan kriteria tertentu. Walaupun nantinya istilah daerah itu tidak bisa masuk Bahasa Indonesia Baku, tapi tetap bisa terinventarisasi.
“Jika BI (Bahasa Indonesia) itu diibaratkan puzzle yang bolong-bolong, bahasa daerah itu pengisi rumpangnya. Seperti unduh (download) dan unggah (upload) yang berasal dari Bahasa Jawa,” jelas Azhari.
Bahkan, dia mengungkapkan, skema pembakuan BI harus mengutamakan bahasa daerah. Jika tidak ada, baru mencari padanan di Bahasa Melayu yang serumpun atau Bahasa Arab. Baru pilihan terakhir jika tidak ada, merujuk ke Bahasa Inggris.
Meski begitu, proses pembakuan BI tidak selalu mulus. Azhari menyebut, penerimaan itu ada di masyarakat yang mau menggunakan atau tidak.
“Ya karena bahasa itu kesepakatan, makanya pemulus jalan adalah media massa, kawan jurnalis, dan selebritis bahasa,” ungkap Azhari.
Sebagai contohnya, ahli bahasa menawarkan dua pilihan untuk bentuk baku e-mail, antara surel dan posel. Kemudian keduanya bersaing, dan akhirnya yang dipakai surel dan dimasukkan ke dalam KBBI.
Kantor Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud di Rawamangun, Jakarta Timur. Foto: Sabar Artiyono/kumparan
Selain tantangan dengan kosakata baru, Azhari menyebut, media sosial juga dapat meningkatkan kepedulian orang dalam berbahasa. Langkah ini juga dimanfaatkan BPPB dengan mengeluarkan kata atau update bahasa.
“Kalau dulu orang bertanya ejaan yang benar seperti apa, tapi sekarang orang mengejar nuansa makna. Misalnya, apa bedanya membuat dan membikin,” ujar Azhari.