Atta Halilintar Puji Buku Kepala BIN Budi Gunawan 'Demokrasi di Era Post Truth'
·waktu baca 2 menit

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Prof Jenderal Pol (Purn) Budi Gunawan meluncurkan buku berjudul 'Demokrasi di Era Post Truth'. Influencer Atta Halilintar memuji buku tersebut.
Menurut Atta Halilintar, buku yang ditulis Budi Gunawan ini memberikan pelajaran terkait etika bermedia sosial. Sehingga, pembaca bisa belajar menyaring informasi dan tidak mudah percaya dengan hoaks.
"Buku karya dari Prof Jenderal Pol (Purn) Budi Gunawan ini sangat luar bisa. Zaman sekarang sangat perlu kita belajar agar tidak jadi tangan-tangan hoaks," ujar Atta saat ditemui di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, Jumat (10/12).
Atta mengaku sering menemukan berita bohong di berbagai platform media sosial, sehingga menurutnya, masyarakat khususnya anak muda perlu mencerna dan memilih informasi.
"Tinggal gimana kitanya sebagai anak muda bisa memilih-milih, melihat berita yang bagus dan engga, serta mencernanya. Jangan langsung gampang nge-post, itu bisa berakibat fatal untuk bangsa kita juga," ucapnya.
Atta menganggap buku karya Budi Gunawan itu memiliki pesan agar masyarakat lebih teliti dalam membaca informasi. Selain itu, buku tersebut juga memiliki bahasa yang ringan dan mudah dipahami, serta memiliki visual yang menarik.
"Maka penting sekali buku ini dibaca untuk anak-anak muda, karena banyak sekali pelajaran di dalamnya seperti perkembangan media sosial dan ada algoritmanya. Yang anak muda inginkan seperti bahasa yang ringan, ada gambar, dan lainnya ada di sini," kata Atta.
"Buku Demokrasi di Era Post Truth cocok untuk anak muda pada masa ini, untuk indonesia lebih baik," lanjutnya.
Buku tersebut telah dicetak pertama pada April 2021 lalu dan cetakan kedua terbit pada Mei 2021.
Buku karya Budi Gunawan ini membahas tentang disinformasi di era post-truth sebagai ancaman kesehatan demokrasi elektoral. Buku ini juga menyoroti keyakinan personal yang lebih penting daripada fakta objektif dalam membangun opini publik, sehingga antara kebohongan dan kebenaran sulit diidentifikasi.
