News
·
6 April 2021 11:32

Aturan Baru Polri: Larang Media Tampilkan Tindakan Polisi Arogan

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Aturan Baru Polri: Larang Media Tampilkan Tindakan Polisi Arogan  (212757)
Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Argo Yuwono memberikan keterangan terkait peristiwa bom Gereja Katedral Makassar di Mabes Polri, Jakarta, Minggu (28/3). Foto: Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO
Mabes Polri mengeluarkan surat telegram terkait aturan fungsi humas di wilayah. Aturan itu dikeluarkan langsung oleh Divisi Humas Polri sebagai bidang tertinggi di kepolisian untuk Humas.
ADVERTISEMENT
Surat telegram tersebut tertuang dengan nomor ST/750/IV/HUM.3.4.5./2021 yang diteken langsung Kadiv Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono, Senin (5/4). Salah satu poin telegram tersebut, meminta media tak menayangkan atau menampilkan aksi kekerasan saat polisi melakukan penindakan terhadap tindak pidana.
Kabagpenum Divisi Humas Polri Kombes Pol Ahmad Ramadhan mengatakan, telegram ditujukan untuk bagian Humas Polri. Alasan Polri mengeluarkan telegram itu, untuk menunjukkan kinerja Polri yang semakin baik dan humanis.
Aturan Baru Polri: Larang Media Tampilkan Tindakan Polisi Arogan  (212758)
Kabareskrim Polri Komjen Pol Agus Andrianto (kanan) bersama Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono (kedua kanan) bergegas usai mengikuti upacara pelantikan dan serah terima jabatan pejabat tinggi Polri di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (24/2). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO
“Iya, tujuannya agar kinerja Polri di kewilayahan semakin baik, humanis dan profesional,” kata Ahmad Ramadhan kepada kumparan, Selasa (6/4).
Belakangan, Ramadhan memberi penjelasan lebih soal aturan ini. Dia menyebut, aturan ini ditujukan untuk media internal Polri. Bukan untuk media massa umum di luar Polri.
ADVERTISEMENT
“Ini ditujukan untuk internal bukan untuk media (umum),” tambah dia.
“Artinya media yang dimaksud pun media intenal,” ucap dia.
Berikut isi telegram tersebut:
  1. Media dilarang menyiarkan upaya/tindakan kepolisian yang menampilkan arogansi dan kekerasan, diimbau untuk menayangkan kegiatan kepolisian yang tegas namun humanis.
  2. Tidak menyajikan rekaman proses interogasi kepolisian dan penyidikan terhadap tersangka tindak pidana.
  3. Tidak menayangkan secara terperinci rekonstruksi yang dilakukan oleh kepolisian.
  4. Tidak memberitakan secara terperinci reka ulang kejahatan meskipun bersumber dari pejabat kepolisian yang berwenang dan atau fakta pengadilan.
  5. Tidak menayangkan reka ulang pemerkosaan
  6. Menyamarkan gambar dan identitas korban kejahatan seksual, keluarganya, serta pelaku kejahatan seksual dan keluarganya.
  7. Menyamarkan gambar wajah dan identitas korban kejahatan seksual, keluarganya, serta orang diduga pelaku dan keluarganya yaitu korban di bawah umur.
  8. Tidak menayangkan secara eksplisit dan terperinci adegan reka ulang bunuh diri dan identitas pelaku.
  9. Tidak menayangkan tawuran atau perkelahian secara detail.
  10. Dalam upaya penangkapan pelaku tidak membawa media, dan tak boleh disiarkan secara live.
  11. Tidak menampilkan gambar secara eksplisit dan terperinci tentang cara membuat dan mengaktifkan bahan peledak.
ADVERTISEMENT
****
Saksikan video menarik di bawah ini: