Australia Akui Tentaranya Bunuh 39 Warga Sipil Tak Bersenjata di Afghanistan

kumparanNEWSverified-green

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi tentara Australia. Foto: AUSTRALIA DEFENCE FORCES/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tentara Australia. Foto: AUSTRALIA DEFENCE FORCES/AFP

Australia membenarkan bahwa militernya yang bertugas di Afghanistan telah membunuh 39 warga sipil tak bersenjata dan narapidana. Tindakan itu berlangsung selama perang 2005 sampai 2016.

Keterangan Kepala Pasukan Pertahanan Australia Angus Campbell, budaya perusak berupa impunitas telah tumbuh di antara pasukan elite. Karena itu, dugaan-dugaan pembunuhan dan penutupan kasus-kasus pelanggaran berat terus terjadi.

“Beberapa anggota kami menggunakan hukumnya sendiri, aturan sudah dilanggar, cerita bohong disampaikan, dan napi dibunuh,” ucap Campbell seperti dikutip dari AFP.

Dalam kesempatan tersebut, Campbell meminta maaf secara tulus kepada warga Afghanistan atas tindakan tentara Australia.

“Catatan memalukan ini mencakup kejadian seorang anggota patroli baru dipaksa menembak seorang tahanan sebagai bukti pembunuhan pertama prajurit itu, praktik mengerikan ini dikenal dengan istilah ‘bloodin’,” ujar Campbell.

Campbell menegaskan tindakan para prajurit Australia meninggalkan noda mendalam kepada resimen, militer, dan Pemerintah Australia.

Prajurit yang terlibat kejahatan tersebut saat ini sudah diinvestigasi terkait dugaan keterlibatan kejahatan perang.

Selain memeriksa prajurit, Campbell juga menarik kembali medali penghargaan yang diberikan kepada pasukan khusus Australia yang bertugas di Afghanistan pada 2007 sampai 2013.

Australia menempatkan 26 ribu tentara ke Afghanistan usai serangan 11 September 2001 lalu. Mereka bertarung bersama tentara AS melawan Taliban.

Pemerintah Australia menarik seluruh pasukannya dari tanah Afghanistan pada 2013 lalu.