Australia Gagal Bendung Islamofobia

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Umat Muslim merayakan Idul Fitri di Masjid Al Bayt Al Islami, Senin (31/3/2025). Foto: Saeed Khan/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Umat Muslim merayakan Idul Fitri di Masjid Al Bayt Al Islami, Senin (31/3/2025). Foto: Saeed Khan/AFP

Australia gagal membendung Islamofobia yang makin intensif. Hal itu diungkap Utusan Khusus Pemerintah untuk Memerangi Islamofobia, Aftab Malik, Jumat (12/11).

Dia mengatakan masalah Islamofobia sebagai tantangan sosial yang mengakar kuat. Dalam beberapa tahun terakhir masalah Islamofobia semakin meroket.

Malik menyebut, penelitian itu berdasarkan investigasi yang digelar selama setahun terakhir.

Seorang pria Muslim, terlihat memegang susu dan kurma yang dibagikan di Masjid Gallipoli untuk berbuka puasa, meninggalkan tempat tersebut setelah salat Jumat pertama yang diselenggarakan di bulan suci Ramadan, di Sydney, Jumat (16/4/2021). Foto: Saeed Khan/AFP

"Kenyataannya adalah Islamofobia di Australia terus-menerus terjadi, terkadang diabaikan dan terkadang disangkal, tetapi tidak pernah ditangani sepenuhnya," ujar Malik seperti dikutip dari Reuters.

“Tanpa solusi apa pun, Islamofobia telah meningkat selama dua dekade terakhir,” sambung dia.

Dia menambahkan, saat ini 54 rekomendasi sudah diserahkan ke parlemen dan pemerintah. Rekomendasi berisi langkah meminta pertanggungjawaban pelaku ujaran kebencian.

Selain itu, dalam rekomendasi tersebut juga berisi pemberian dukungan lebih besar terhadap korban Islamofobia.

“Islamofobia tidak hanya bersifat interpersonal, tetapi juga institusional dan struktural," tambah Malik.

Ia kemudian menambahkan, perlu adanya tinjauan independen terhadap UU kontra-terorisme, serta penyelidikan tentang penyebab dan solusi rasisme anti-Palestina.

Dari hasil investigasinya, Muslim di Australia kerap menjadi sasaran tindakan grafiti sarat kebencian, vandalisme properti, hingga kekerasan verbal serta fisik.

Malik menceritakan ada satu kasus satu keluarga di Australia didekati seorang asing lalu diancam akan dibunuh.

“Ini adalah momen di mana kita memutuskan siapa diri kita sebagai sebuah negara dan apakah kita siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan bahwa setiap orang di Australia, terlepas dari keyakinan, etnis, atau latar belakang, aman, dihargai, dan diperlakukan dengan bermartabat," ujarnya.