Austria Cegah Imigran dari Italia dengan Kendaraan Lapis Baja

Austria memperkuat kontrol perbatasan dengan Italia untuk mengurangi para migran yang masuk. Empat kendaraan lapis bajanya dipindakan di dekat perbatasan.
Dikutip dari Reuters, Rabu (5/7), juru bicara Kementerian Pertahanan Austria, Peter Doskozil, mengatakan kendali tersebut akan mencakup persimpangan sibuk Alpine Brenner. Italia pada tahun lalu memperingatkan bahwa langkah tersebut melanggar aturan Uni Eropa tentang pergerakan bebas.
"Saya berharap kendali perbatasan segera diberlakukan," katanya kepada surat kabar Kronenzeitung.
Baik Italia maupun Austria adalah anggota zona terbuka Uni Eropa-Schengen. Namun pergerakan bebas itu terancam sejak gelombang pendatang muncul pada 2015 dan 2016.
Tidak ada komentar langsung dari pejabat Italia atau Uni Eropa terkait langkah itu.
Doskozil mengatakan tidak ada jadwal yang pasti untuk kontrol baru itu. "Tapi kita lihat bagaimana situasi di Italia menjadi lebih akut dan kita harus siap untuk menghindari situasi serupa pada musim panas 2015," katanya.
Italia telah menampung lebih dari 80.000 pengungsi dan migran sepanjang tahun ini, yang kebanyakan datang dengan kapal dari Afrika, dan menjadikan Italia titik utama masuk ke Eropa.
Menurut Doskozil, Austria telah memindahkan alat berat ke provinsi Tyrol, yang berbatasan dengan Italia, termasuk empat kendaraan lapis baja yang menutup jalan. Mereka juga menyiapkan 750 tentara dalam 72 jam untuk menghadapi keadaan darurat.
"Ini bukan tank tempur, ini adalah kendaraan lapis baja tanpa senjata yang bisa menghalangi jalan. Ini sudah digunakan selama krisis pengungsi 2015 dan 2016 di perbatasan Spielfeld atau persimpangan (dengan Slovenia)," tuturnya.
Pengawasan pada persimpangan Brenner akan sangat sensitif karena perbatasan tersebut melintasi dua komunitas yang merasa terhubung erat - yaitu Tyrol Austria dan Tyrol Selatan Italia. Tyrol Selatan pernah menjadi bagian dari kekaisaran Austro-Hungaria yang lebih luas namun dicaplok Italia pada 1918.
Komisi Eropa berencana menyajikan serangkaian tindakan untuk mengurangi arus migran melintasi pusat Mediterania pada Selasa.
Sebelumnya, Prancis, Jerman dan Uni Eropa menjanjikan lebih banyak dukungan kepada Italia untuk menangani pendatang yang tiba dengan kapal dari Afrika. Mereka juga setuju mendukung pelatihan dan pendanaan patroli pantai Libya dan memindahkan pencari suaka dengan lebih cepat.
Tapi, negara-negara itu tidak mengacu langsung pada permohonan Roma kepada negara Uni Eropa untuk mengurangi tekanan dengan membiarkan kapal penyelamat pembawa pendatang berlabuh di dermaga pelabuhan mereka. Komisi Eropa mengatakan akan menghadirkan seperangkat langkah untuk mengurangi arus pendatang di sepanjang Laut Tengah setelah pertemuan pemimpinnya pada Selasa.
