Awal Cerita Potensi Besar Lalu Mohammad Zuhri Ditemukan

Lalu Muhammad Zohri dijadwalkan tiba di Indonesia pada Selasa (17/7) sekitar pukul 23:00 WIB. Pemuda berusia 18 tahun itu mulai dikenal publik saat menjadi juara dalam turnamen bertajuk 'IAAF World Championship U-20' yang diselenggarakan di Finlandia.
Sebagai seorang sprinter, nama Zohri mungkin tidak setenar Egy Maulana Vikri, gelandang Timnas U-19 yang hilir mudik di layar kaca. Bagaimana pun, kompetisi lari jarak pendek memang sedikit diminati para pemuda. Dan tentu saja, Zohri adalah yang sedikit itu.
Lebih jauh, pencapaian Zohri menjadi juara dunia itu pun tak dapat dilepaskan dari pembibitan yang dilakukan Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI). Ketua Komisi Pembibitan dan Pemasalan PASI Paulus Lay mengatakan, pihaknya sudah melihat potensi besar yang dimiliki pemuda asal NTB itu sekitar dua tahun lalu.
"Dua tahun lalu potensi Zohri ditemukan, saat ada Kejurnas Junior Remaja di Jakarta. Ada tim yang dibentuk untuk memilih talent scouting berbakat kemudian diusulkan apabila bisa dibina untuk jangka panjang," jelas Paulus saat dihubungi kumparan, Selasa (17/7).

Kejurnas yang dimaksud Paulus itu merujuk pada perhelatan kejuaraan antarprovinsi di Stadion Atletik Rawamangun, Jakarta, pada 23-26 Maret 2016. Saat itu sejumlah perwakilan dari berbagai daerah berdatangan ke stadion tersebut untuk menunjukkan kebolehan.
Saat itulah PASI mulai melirik Zohri dari NTB yang dianggap memiliki segudang potensi untuk menjadi seorang juara. Kejurnas Junior dan Remaja memang rutin diselenggarakan PASI setiap tahunnya untuk mencari bibit-bibit unggul.
"Prestasinya waktu dia lomba, jauh langkah (kakinya), gerakan sprint yang baik, yang mungkin (semuanya) masih bisa ditingkatkan," tambah Paulus.

Selain harus mengantongi catatan prestasi, postur tubuh yang ideal dan kondisi fisik yang mumpuni juga jadi pertimbangan PASI untuk memilih pemuda-pemuda yang akan disodorkan pada kejuaraan internasional. Semua kriteria itulah yang melekat pada diri Zohri.
"Sprinter daerah itu dipilih ketika ada kejuaraan junior remaja, itu ada timnya di kejurnas. Ada tim juga yang memilih atlet berbakat untuk diusulkan," ucapnya.
Tak heran jika kemudian Zohri diikutsertakan dalam pelatnas jangka panjang. Bersama Zohri, terdapat 99 anak muda lainnya dari berbagai macam daerah yang digembleng secara khusus sejak Januari 2018. Mereka digembleng di empat stadion yang terpencar di Rawamangun, Pangalengan, Bali, dan Bogor.
Di pelatnas itu, tugas Zohri dan atlit lainnya hanyalah berlatih, berlatih dan berlatih Soal akomodasi selama latihan itu Zohri jelas tak dipusingkan. Sebab dia mendapatkan akomodasi dan makanan dari pemerintah, beserta uang saku sebesar Rp 8 juta per bulan.
