Awal Mula Terungkapnya Kasus Anak di Bojonggede Tewas Dianiaya Ibu Tiri
·waktu baca 3 menit

Kasus kematian Muhammad Arrasya Alfarizky (6) mulai terungkap setelah relawan pemandi jenazah, Sugeng, berkoordinasi dengan warga dan perangkat RT usai pemakaman.
Rasya tewas usai dianiaya ibu tirinya, Rita Novita Sari (30), pada Minggu (19/10). Pelaku sempat mengarang cerita bahwa korban sakit hingga meninggal dunia.
Sugeng yang biasa memandikan jenazah itu ditugaskan untuk memandikan jenazah Arrasya. Saat Sugeng pertama kali melihat luka-luka di tubuh korban, Sugeng merasa ada yang janggal.
Sugeng sempat bertanya soal penyebab meninggalnya korban. Saat itu, sang nenek menjawab bahwa cucunya meninggal karena sakit.
"Menurutnya itu karena sakit panas tinggi," kata Sugeng saat ditemui kumparan di TPU Kalang Anyar, Bojonggede, Kabupaten Bogor, Kamis (23/10).
Sugeng mengatakan dia sempat memeriksa wajah korban. Saat itu dia melihat tisu yang menyumpal mulut korban. Setelah tisu itu dilepas, dia melihat ada luka sobek.
"Pertama saya periksa dulu, buka mukanya dulu, seperti apa. Pertama saya lihat, mohon maaf, ada di mulutnya itu ada tisu untuk menyumpal mulutnya itu. Karena ternyata setelah saya lepas tisunya itu, ada luka sobek pada bagian bibir korban," ungkapnya.
Tisu itu disinyalir Sugeng untuk menyumpal darah yang keluar dari bibir korban.
"Iya, masih [ada darah]. Makanya ada sumpal tisu supaya berhenti. Setelah saya buka tisunya, saya tutup kembali mukanya ya. Karena saya harus membereskan dulu tempat mandi. Makanya saya bersama warga membereskan tempat mandi," ceritanya.
Menurut Sugeng, proses pemandian jenazah itu turut disaksikan dan dibantu ayah kandung korban. "Ketika proses memandikan, ternyata saya [lihat] luka, beberapa luka di bagian muka," kata dia.
"Bagian pelipis ini. Pelipis kanan. Pelipis kanan ya, itu membiru. Kemudian, yang tadi bibir pecah ya. Kemudian bagian perut sini juga membiru," tambahnya.
Sugeng mengaku sempat bertanya soal luka tersebut ke ayah korban. Saat itu, ayah korban menjawab luka itu didapat anaknya akibat kejedot pintu.
Sugeng saat itu menahan diri untuk tidak bercerita karena alasan etika pemandian jenazah.
"Saya enggak cerita ke siapa-siapa dulu. Dalam etika memandikan jenazah, itu enggak boleh disebarkan ke orang luar," kata Sugeng.
Namun, setelah pemakaman selesai, dua orang perempuan datang menemuinya dengan tergesa-gesa. “Dua ibu-ibu (tetangga korban) dari Griya Citayam Permai lari-lari nyusul saya. Mereka tanya, 'Apakah jenazah sudah dikuburkan?' Saya jawab sudah. Mereka bilang, 'Ini anak korban KDRT',” ujarnya.
Namun Sugeng tidak menjelaskan lebih lanjut soal alasan dua perempuan itu menyebut Rasya merupakan korban KDRT.
Pernyataan itulah yang membuat Sugeng mulai mengaitkan luka-luka yang dilihatnya saat memandikan jenazah dengan dugaan kekerasan.
“Baru setelah itu saya hubungkan. Oh, ternyata luka-lukanya karena kekerasan,” katanya.
Koordinasi dengan RT Lapor ke Polisi
Setelah mendengar keterangan dari dua warga itu, Sugeng segera berkoordinasi dengan pengurus lingkungan. “Kami koordinasi dengan RT setempat, Pak Wahyu, RT 4 RW 4,” ucapnya.
Diketahui bahwa area RT 4 RW 4 adalah tempat tinggal nenek dari Arrasya, tak jauh dari rumah kontrakannya.
Sugeng mengatakan kasus ini lalu dilaporkan seorang warga ke Polsek Bojonggede.
“Saya kemudian diminta datang karena saya yang memandikan jenazah. Malamnya saya bersama warga Griya Citayam Permai (GCP) berangkat ke Polsek Bojonggede, lalu lanjut ke Polres Depok untuk dimintai keterangan,” kata Sugeng.
Saat ini jenazah Arrasya sedang dilakukan ekshumasi di TPU Kalang Anyar, Bojonggede, Kabupaten Bogor.
Sementara Rita sudah ditetapkan sebagai tersangka usai ditangkap pada Selasa (21/10).
