Awal Pelecehan Pemilik Ponpes di Karawang Terungkap: Curhatan Para Santriwati
ยทwaktu baca 4 menit

Kiki Andriawan, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Isra, di Dusun/Desa Ciranggon, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Karawang, dilaporkan atas tuduhan pencabulan atau pelecehan seksual terhadap 20 santriwati.
Sekretaris YLBH Sanggabuana Karawang, Saepul Rohman, yang mendampingi para korban, mengatakan saat ini kondisi kesehatan mental kliennya masih tertekan.
"Sampai sekarang mereka masih trauma berat, kita dampingi terus agar tidak merasa tertekan lagi," ucap dia, Jumat (9/8).
Terungkap dari saling curhat para santriwati
Saepul menuturkan, terkuaknya kasus ini berawal saat para santriwati saling berkeluh kesah terkait ulah pimpinan pondok tersebut.
Hingga akhirnya saat menjelang kelulusan sekolah pada Maret 2024 lalu, salah satu santriwati memberanikan diri mengadu ke ibunya tentang apa saja yang dia alami bersama teman-temannya selama di ponpes.
"Ada salah satu santri awalnya cerita ke ibunya, awalnya takut, tapi saat cerita ke ibunya, ibunya terus memberikan dorongan agar apa pun yang terjadi, si anak ini harus cerita sampai akhirnya terbuka siapa saja yang menerima perlakuan itu," katanya.
Menurutnya, saat bulan Ramadan 2024 kemarin ada sekitar 10 orang tua datang ke ponpes untuk meminta penjelasan.
"Waktu itu si terlapor ini memang mengaku salah dalihnya khilaf, sampai nangis-nangis, tapi hari ini seakan dibantah semua," kata Saepul.
Terlapor tak takut dipolisikan
Hanya saat itu, kata Saepul, memang tidak ada ancaman secara langsung jika kasus ini sampai dipolisikan. Oknum tersebut hanya mempersilakan seraya menyatakan bahwa pihak ponpes memiliki kuasa hukum yang andal.
"Memang bukan ancaman secara spesifik, waktu itu ketika didatangi pihak keluarga, orang itu bilang 'silakan kalau nggak terima, kalau mau lapor polisi silakan, kita punya pengacara'. Yang namanya orang tua mungkin jadi tertekan ya karena jawabannya seakan menantang balik," ucapnya.
Terlapor bantah
Kiki Andriawan, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Isra, mengklarifikasi soal tuduhan pencabulan atau pelecehan seksual terhadap 20 santriwati.
"Saya selaku pengasuh ponpes memastikan bahwa isu dugaan pelecehan seksual yang bergulir itu tidak benar," kata Kiki di aula Kementerian Agama Kabupaten Karawang, Jumat (9/8).
Kiki menyampaikan klarifikasi itu didampingi Humas Kemenag Karawang dan PCNU Karawang.
Berikut klarifikasi Kiki selengkapnya:
Saya selaku pengasuh ponpes memastikan bahwa isu dugaan pelecehan seksual yang bergulir itu tidak benar.
Kalau saya harus berbicara kronologi dari awal, panjang.
Ketika itu santri bersangkutan terindikasi melakukan tindakan di luar sewajarnya, pacaranlah, bahasanya, tapi akhirnya kena-kenanya saya.
Saya khawatir hubungan dia sama lawan jenis, khawatir berimbas ke keselamatan dirinya.
Jadi waktu itu pun sudah saya hadirkan ortu santri untuk mengklarifikasi, saya kasih informasi bahwa anak tersebut sudah melakukan tindakan yang kurang baik dengan lawan jenis.
Saya menolong awalnya.
Nah dari indikasi ini, dari kasus tersebut anak ini menyimpan rasa kesal, barangkali, dendam sehingga dia membuat kelompok di mana ada beberapa santri tidak tahu apa-apa terbawa-bawa isu bahwa saya melakukan pelecehan.
Saya pastikan, pelecehan itu tidaklah terjadi baik sengaja maupun tidak disengaja.
Kemudian, di saat itu pun kami sudah ada yang namanya pertemuan dengan orang tua santri Sabtu hari pas Ramadan, dan semua orang tua santri tiba-tiba datang tanpa ada tabayun. Kan adabnya, bisa tabayun dulu dengan pihak kami. Kalaupun memang terbukti, ayo selesaikan.
Saat itu, karena mereka langsung percaya dengan laporan anaknya, dengan seolah si anak itu dilecehkan sengaja oleh saya, orang tua tersebut langsung percaya. Orang tua termakan informasi yang datangnya dari santri. Seolah itu benar-benar nyata adanya padahal saat itu tidak ada kejadian apa pun.
Ini diinisiasi oleh dua orang santriwati, dia telepon melalui hp ke orang tuanya. Mereka orang tua membuat grup secara khusus tanpa sepengetahuan saya, secara etika kan kalian kalau ada yang mau disampaikan bisa baik-baik dulu komunikasi ke saya. Jangan langsung menjustifikasi bahwa saya seperti itu.
Akhirnya meluas ke mana-mana, bahkan saya di situ langsung dituduh mentah-mentah oleh salah satu orang tua siswa.
Nah, akhir daripada itu berpengaruh pada yang lainnya padahal selama saya di sini, lillahitaala membantu (mengurus) santri, tapi kenyataannya kebaikan yang saya berikan, hangus oleh satu hal ini.
Jujur kami semua pengelola kaget dengan ini, saya tulus dari hati yang paling dalam mendidik anak-anak.
Mudah-mudahan teman-teman media dapat mampu menetralisir kejadian ini
Ini kan sudah lama selesai saat itu. Setelah itu, tidak ada laporan kedua kalinya. Tapi setelah santri bersangkutan menerima ijazah, baru mereka bermain.
Bahkan ada salah satu ortu siswa itu melontarkan bahasa kasar yang tidak baik, sampai ada bahasa iblis ke saya.
Saya dianjing-anjing digoblog-goblog, bilang anak trauma. Usut punya usut saya telusuri kepada guru-guru, trauma di mananya. Mereka baik-baik saja, euforia tidak ada trauma apa pun. Sekolah tetap sekolah.
Saya khawatir dengan adanya ini akan ada oknum yang menunggangi untuk semakin menjatuhkan kredibilitas yayasan kami ataupun marwah pesantren.
Saya pastikan waktu itu sudah selesai persoalan ini, tapi ternyata mereka diam-diam melaporkan ini kepada pihak berwajib.
