Awal Terungkapnya Kasus Beras Oplosan: Beras Surplus tapi Harga Naik

Kasus beras medium dan premium oplosan sedang jadi perbincangan hangat belakangan ini. Adanya kasus beras oplosan ternyata bermula dari temuan Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, yang heran terjadi kenaikan harga ketika masa panen raya.
"Karena di masa panen raya, beras surplus kok terjadi kenaikan harga yang luar biasa. Ini yang disampaikan, dan trennya tidak menurun tapi malah naik," kata Kasatgas Pangan Polri, Brigjen Helfi Assegaf, dalam jumpa pers di Bareskrim Polri, pada Kamis (24/7).
Amran, kata Helfi, kemudian melakukan pengecekan ke sejumlah provinsi selama kurun waktu 6 Juni hingga 23 Juni 2025 dan mendapati 268 sampel beras dari 212 merek. Hasilnya, didapati kualitas beras medium dan premium yang tak sesuai mutu.
"Beras premium terdapat ketika sesuai mutu di bawah standar regulasi sebesar 85,56 persen, ketidaksesuaian HET sebesar 59,78 persen, ketidaksesuaian berat beras kemasan atau beras rill di bawah standar sebesar 21,66 persen," jelas dia.
"Kemudian terhadap beras medium terdapat ketidaksesuaian mutu beras di bawah standar regulasi sebesar 88,24 persen, ketidaksesuaian HET sebesar 95,12 persen, ketidaksesuaian berat beras kemasan berat rill di bawah standar sebesar 90,63 persen," lanjut dia.
Atas adanya ketidaksesuaian mutu tersebut, sambung Helfi, nominal kerugian yang diderita para konsumen mencapai angka Rp 99,35 triliun tiap tahunnya. Dari temuan itu, polisi melakukan rangkaian penyelidikan.
"Terdiri dari beras premium sebesar Rp 34,21 triliun, dan beras medium sebesar Rp 65,14 triliun," jelas dia.
Hingga saat ini, polisi belum mengungkap tersangka dalam kasus beras oplosan tersebut. Namun kasus tersebut telah naik ke penyidikan. Polri akan segera melakukan gelar perkara.
