Badan Geologi: Blue Fire di Papandayan Sudah Tak Terlihat, tapi Tetap Waspada

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Fenomena api biru di kawasan Gunung Papandayan, Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kamis (24/9/2026). Foto: Dok. Badan Geologi
zoom-in-whitePerbesar
Fenomena api biru di kawasan Gunung Papandayan, Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kamis (24/9/2026). Foto: Dok. Badan Geologi

Badan Geologi menjelaskan fenomena sinar api atau blue fire yang muncul di Gunung Papandayan, Jawa Barat. Blue fire teramati di area Kawah Manuk pada (24/9) dini hari.

Gunung Papandayan adalah gunung api aktif yang terletak di Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, dengan ketinggian 2.665 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan, fenomena blue fire sebelumnya pernah tercatat pada 22 Februari 2023 dan 12 Juli 2025. Namun, kedua fenomena tersebut teramati di dinding Kawah Baru.

Sementara pada kemunculan terbaru, blue fire terlihat di lokasi Manifestasi Panas Baru, kompleks Kawah Manuk yang masih termasuk dalam kawasan kawah aktif Gunung Papandayan.

instagram embed

Tim juga menemukan serbuk berwarna menyerupai abu sisa pembakaran di sekitar lokasi.

"Fenomena ini menunjukkan adanya pelepasan panas yang cukup tinggi hingga mampu menyebabkan pembakaran material permukaan," kata Lana dalam keterangannya dikutip Senin (28/9).

Badan Geologi menjelaskan, Kawah Mas yang berada di dekat lokasi Manifestasi Panas Baru tidak menunjukkan perubahan rasio gas yang berarti.

Berdasarkan data tersebut, tidak terdapat indikasi perubahan sistem hidrotermal yang signifikan di bawah Gunung Papandayan yang dapat dikaitkan dengan kemunculan Manifestasi Panas Baru di Kawah Manuk.

Petugas memantau aktivitas kawah Gunung Papandayan di Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Minggu (27/9/2026). Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO

Aktivitas Termal Menurun

Hasil pengukuran dan pengamatan menunjukkan aktivitas termal di lokasi manifestasi cenderung menurun. Meski begitu, kondisi gas di sekitar lokasi masih menunjukkan pelepasan gas vulkanik yang signifikan.

Bau sulfur yang menyengat juga masih tercium pada arah angin dari lokasi manifestasi. Oleh sebab itu, gas di sekitar lokasi masih berpotensi berdampak pada kesehatan jika terpapar secara langsung, khususnya di area yang berada pada arah angin.

Lana mengatakan, kemunculan blue fire di Papandayan merupakan fenomena yang jarang terjadi. Namun, lokasi kemunculannya kali ini perlu menjadi perhatian karena berada dekat dengan jalur pendakian utama dan area perkemahan.

"Potensi bahaya yang dapat terjadi dengan kemunculan sinar api/blue fire ini adalah semburan dan paparan gas vulkanik beracun/di atas ambang batas," ujarnya.

Badan Geologi juga mengingatkan fenomena blue fire dapat muncul di lokasi berbeda di kawasan Kompleks Gunung Papandayan. Karena itu, pengelola TWA Gunung Papandayan diminta menerapkan jarak aman sesuai rekomendasi Badan Geologi jika fenomena tersebut kembali terlihat.

instagram embed

Papandayan Masih Level I

Gunung Papandayan saat ini masih berada pada tingkat aktivitas Level I atau Normal. Meski demikian, masyarakat di sekitar gunung serta wisatawan, pendaki, dan pengunjung diminta tetap waspada.

Badan Geologi merekomendasikan agar masyarakat dan pengunjung tidak beraktivitas maupun menginap di kawasan bukaan kawah aktif, yakni Kawah Baru, Kawah Emas, Kawah Nangklak, serta Kawah Manuk/Balagadama dalam radius 500 meter. Larangan tersebut juga berlaku ketika cuaca mendung dan hujan.

Pengunjung juga diminta mewaspadai gas beracun yang konsentrasinya dapat meningkat secara tiba-tiba, potensi letusan yang terjadi tanpa didahului gejala vulkanik yang jelas, serta potensi longsor di dinding kawah Kompleks Gunung Papandayan.

Berdasarkan pemantauan hingga 26 September 2026, blue fire yang sebelumnya terlihat di area Kawah Manuk sudah tidak teramati.

Meski begitu, Badan Geologi melalui PVMBG tetap melakukan pemantauan secara intensif dan berkelanjutan terhadap aktivitas di Kawah Manuk untuk mengantisipasi kemungkinan fenomena serupa kembali terjadi.

"Badan Geologi senantiasa berkoordinasi dengan pihak pengelola TWA Gunung Papandayan sebagai langkah antisipasi menghindari hal-hal membahayakan yang tidak diinginkan," kata Lana.

Ia menambahkan tingkat aktivitas Gunung Papandayan akan dievaluasi secara berkala maupun jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan.