Bagaimana 27 Orang di Indonesia Terinfeksi Corona?

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Visual story Jejak Pertama Corona di Indonesia. Foto: Maulana Saputra/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Visual story Jejak Pertama Corona di Indonesia. Foto: Maulana Saputra/kumparan

Virus corona (COVID-19) yang semula diyakini pemerintah tak masuk Indonesia, ternyata meledak menjadi 27 kasus hingga Selasa (10/3), dengan sumber kontak dan pola penularan berbeda.

Menurut data, rentang usia para pasien antara 16-71 tahun. Mereka tak hanya dirawat di Jakarta, tapi juga ada yang di beberapa daerah yang tak disebut pemerintah.

Bagaimana kronologi rilis kasus tersebut?

Pasien pertama virus corona diumumkan langsung Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan pada Senin (2/3), menginfeksi dua orang perempuan 31 tahun dan ibunya 64 tahun.

Keesokan harinya, Jokowi menyebut dua pasien positif corona ini sebagai "kasus 1" dan "kasus 2" (tanpa nol). Tak disebut alasannya, tapi ternyata, penggunaan angka --sebagaimana juga diterapkan negara lain--, karena kemungkinan ada kasus-kasus baru.

Benar, muncul kasus 3, 4, dan seterusnya yang rilisnya tak lagi disampaikan Jokowi. Sejak kasus 3, Presiden Jokowi menunjuk juru bicara khusus penanganan corona dari Kemenkes, Achmad Yurianto.

Berikut kronologi rilis kasus positif corona:

2 Maret 2020

Presiden Jokowi mengumumkan kasus pertama corona menginfeksi dua orang yang kemudian disebut kasus 01 dan kasus 02.

6 Maret 2020

Kemenkes mengumumkan dua kasus tambahan positif corona yang disebut kasus 03 dan kasus 04.

8 Maret 2020

Kasus positif corona bertambah lagi. Kali ini 2 orang lagi, sehingga total ada 6 orang positif corona di Indonesia.

9 Maret 2020

Kasus corona tiba-tiba melonjak dari semula 6 kasus menjadi 19 kasus alias bertambah 13 kasus beda satu hari.

Penambahan kasus bukan karena ada yang baru terinfeksi, tapi karena hasil tes di laboratorium Balitbang Kemenkes yang keluar bersamaan.

10 Maret 2020

Data pasien positif corona kembali melonjak bertambah 8 kasus, dari semula 19 kasus, menjadi 27 pasien.

kumparan post embed

Siapa dan Bagaimana Mereka Terinfeksi?

27 Kasus positif corona di Indonesia, bukan disebabkan ada satu kasus positif kemudian menular hingga menjadi 27 kasus. Bukan. Mereka positif corona mayoritas dengan sumber berbeda.

Secara garis besar ada tiga pola berbeda:

  1. Klaster Jakarta. Sumber virus warga Jepang menginfeksi wanita berusia 31 tahun (kasus 01) di klub dansa di Jakarta pada 14 Februari 2020. Dari kasus 01 ini muncul 11 kasus baru yang keseluruhan disebut klaster Jakarta. Dalam isu corona, satu orang yang menginfeksi banyak orang disebut penyebar super (super spreader).

  1. Imported case. Dari 27 kasus positif, ada 13 yang disebut imported case, yaitu WNI/WNA yang terinfeksi corona di luar negeri dan datang ke Indonesia. Lalu, sebanyak 2 dari 13 imported case, menginfeksi 1 kasus baru.

  2. Local transmission. Ada satu kasus yaitu kasus 27 yang disebut local transmission karena belum diketahui sumber kontak virusnya. Dia bukan dari dua pola di atas yaitu klaster Jakarta dan imported case. Sumber kasus 27 ini sedang ditelusuri.

Berikut dalam infografik:

Pola penularan Corona pada ke 27 pasien di Indonesia. Foto: Andri Firdiansyah Arifin/kumparan

Data Tak Lengkap

Pemerintah tidak punya patokan jelas soal data apa saja yang boleh diungkap. Dari 5 kali jumpa pers yang menghasilkan 27 kasus, ada yang tak jelas usianya (kasus 03-04), diketahui klasternya tapi tak jelas sumbernya (kasus 05), tak disebutkan rumah sakitnya (selain 01 dan 02, lokasi RS diumumkan RS setempat).

Selain itu, soal identitas pasien, alamat, dan lainnya, sudah disepakati tak diumumkan. Soal asal negara bagi WNA, tak diumumkan karena permintaan kedutaan bersangkutan.

Istilah Berbeda

Sejak jumpa pers Minggu (8/3), jubir penanganan corona, Achmad Yurianto, menambahkan "0" untuk nomor kasus, mulai kasus 5 dan 6 menjadi "05" dan "06". Padahal, kasus 1 sampai kasus 4, tanpa "0" di depannya.

Dia tak menjelaskan alasannya. Belakangan diketahui di jumpa pers berikutnya ternyata karena ada tambahan 13 kasus baru.

Istilah berbeda terjadi lagi dalam jumpa pers terakhir, Selasa (10/3) kemarin. Achmad Yurianto mengganti istilah "kasus" dengan "pasien" untuk kasus nomor 20 hingga 27. Belum ada penjelasan.

Berikut rincian 27 kasus positif corona:

  1. Kasus 01: Perempuan, 31 tahun. Tertular dari WN Jepang perempuan saat menghadiri acara dansa di Jakarta. Klaster Jakarta. Dirawat di RSPI Sulianti Saroso.

  2. Kasus 02: Perempuan, 64 tahun. Tertular anaknya, kasus 01, saat dirawat di rumah mereka di Depok, Jawa Barat. Klaster Jakarta. Dirawat di RSPI Sulianti Saroso.

  3. Kasus 03: Usia antara 33-34 tahun. Pasien sempat kontak dengan kasus 01 dan kasus 02. Klaster Jakarta.

  4. Kasus 04: Usia antara 33-34 tahun. Pasien sempat kontak dengan kasus 01 dan kasus 02. Klaster Jakarta.

  5. Kasus 05: Laki-laki, 55 tahun. Warga Jakarta. Klaster Jakarta. Dirawat di RS Persahabatan.

  6. Kasus 06: Laki-laki, ABK Diamond Princess Jepang yang dievakuasi bersama 68 WNI lainnya dari Yokohama, Jepang. Usia 36 tahun. Warga Jakarta. Dirawat di RS Persahabatan. Imported case. Tes lab terakhir negatif, dan paling berpotensi sembuh. Jika sekali lagi tes negatif, bisa pulang.

  7. Kasus 07: Perempuan, 59 tahun. Imported case.

  8. Kasus 08: Laki-laki, 56 tahun. Pasien merupakan suami kasus 07 dan tertular dari 07.  Punya riwayat sakit lain, diare dan Diabetes. Kondisi berat.

  9. Kasus 09: Perempuan, 55 tahun. Imported case.

  10. Kasus 10: WNA, laki-laki, 29 tahun. Klaster Jakarta dan hasil tracing dari kasus 01. Dirawat di RSPI Sulianti Saroso.

  11. Kasus 11: WNA, perempuan, 54 tahun. Klaster Jakarta dan hasil tracing dari kasus 01. Dirawat di RSPI Sulianti Saroso.

  12. Kasus 12: Laki laki, 31 tahun. Klaster Jakarta dan hasil tracing dari kasus 01.  

  13. Kasus 13: Perempuan, 16 tahun. Bagian dari hasil tracing subklaster kasus 03.  

  14. Kasus 14: Laki-laki, 50 tahun. Imported case. Warga Jakarta. Dirawat di RS Persahabatan. Tes lab terakhir negatif, dan paling berpotensi sembuh. Jika sekali lagi tes negatif, bisa pulang.

  15. Kasus 15: Perempuan, 43 tahun. Pasien merupakan imported case.

  16. Kasus 16: Perempuan, 17 tahun. Bagian dari hasil tracing subklaster kasus 15.  

  17. Kasus 17: Laki-laki, 56 tahun. Imported case.  

  18. Kasus 18: Laki-laki, 55 tahun. Imported case. Warga Jakarta. Dirawat di RS Persahabatan.

  19. Kasus 19: Laki-laki, 40 tahun. Imported case. Warga Jakarta. Dirawat di RS Persahabatan.

  20. Pasien nomor 20, perempuan, 70 tahun. Bagian dari tracing subklaster Jakarta.

  21. Pasien nomor 21, perempuan, 47 tahun. Bagian tracing subklaster Jakarta.

  22. Pasien nomor 22, perempuan, 36 tahun, imported case.

  23. Pasien nomor 23, perempuan, 71 tahun. Imported case, kondisinya saat ini sedang menggunakan ventilator karena faktor komorbid (penyakit bawaan) cukup banyak, kondisinya stabil.

  24. Pasien nomor 24, laki-laki, 46 tahun. Imported case.

  25. Pasien nomor 25, perempuan, 53 tahun, WNA. Imported case. Kondisi stabil.

  26. Pasien nomor 26, laki-laki, 46 tahun, WNA. Kondisi stabil, imported case.

  27. Pasien nomor 27, laki-laki, 33 tahun. Kondisi stabil. Local transmission, tak jelas sumbernya. Bukan imported case dan bukan bagian dari klaster mana pun.