Bagaimana Nasib Anies Setelah Ridwan Kamil Maju Pilgub Jakarta?

Gerindra dan Golkar sepakat mengusung Ridwan Kamil untuk maju di Pilgub Jakarta. Bahkan, keduanya membawa serta Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus. Artinya, akan ada partai di luar KIM yang turut mendukung.
Majunya Ridwan Kamil di Jakarta dengan sokongan KIM plus menimbulkan pertanyaan selanjutnya, bagaimana nasib Anies Baswedan ke depan?
Anies memang sudah didukung lebih dulu oleh PKS, NasDem, dan PKB Jakarta. Tapi, NasDem tak menyertakan dukungan dengan SK. Begitu juga dengan DPP PKB yang malah belum menyatakan dukungan secara resmi.
PKS juga demikian belum ada SK dukungan resmi. Namun di Pilgub Jakarta, PKS menyodorkan paket Anies-Sohibul Iman. Ini tentu jadi hambatan sendiri bagi partai lain untuk masuk dan mendukung pasangan itu.
Di sisi lain, PDIP juga belum menentukan pilihan mereka di Jakarta. Di internal masih ada nama Anies dan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.
Di survei, memang keduanya tertinggi di survei, tapi itu tak cukup untuk membawa mereka menang di Pilgub Jakarta.
Bagaimana pun tingginya dinamika di Pilgub Jakarta, syarat utama seseorang bisa mau, yakni kecukupan jumlah kursi DPRD. Setiap partai atau gabungan partai harus punya minimal 22 kursi DPRD Jakarta hasil Pileg 2024 untuk mengajukan pasangan calon.
Menariknya di Jakarta, tak ada satu pun partai yang bisa mengajukan sendiri calon mereka karena jumlah kursinya di bawah 22.
PKS sebagai pemenang Pileg di Jakarta, punya 18 kursi.
PKB punya 10 kursi, NasDem ada 11 kursi, sedangkan PDIP punya 15 kursi.
Setelah ada keputusan Ridwan Kamil maju dengan sokongan KIM Plus, tak menutup kemungkinan partai-partai yang sebelumnya mendukung Anies bisa saja berbelok merapat ke Ridwan Kamil dengan berbagai alasan.
PKB dan NasDem yang sudah "disowani" Prabowo sesaat setelah Pilpres selesai masih punya kans untuk merapat dan mendukung Ridwan Kamil, meski wakilnya belum ditentukan.
Duet PKS dan PDIP memang bisa saja mengusung Anies karena jumlah kursinya lebih dari cukup: 33. Tapi apa itu mungkin?
Tapi, cerita akan berbeda bila PKS akhirnya memilih mengulang nostalgia dengan Prabowo di Pilpres 2014-2019. Presiden PKS Ahmad Syaikhu bahkan tak sungkan lagi menyebut ingin diajak gabung. Momen ini terjadi saat peringatan Harlah PKB.
“Oke, saya kira, untuk Pak Dasco khususnya dan Gerindra, ajak-ajak lah PKS,” ujar Syaikhu disambut tawa hadirin di Jakarta Convention Center pada Selasa (23/7).
“Jangan hanya NasDem dan PKB, PKS ditinggal sendirian. Pak Surya dan Gus Imin itu rupanya takut makanya tempat duduk saya dipisahkan di sana,” sambung Syaikhu dengan nada candaan.
Kode lainnya dari PKS, yakni dukungan kepada menantu Presiden Jokowi, Bobby Nasution di Pilgub Sumut. Ini disebut-sebut sebagai pintu masuk PKS untuk bergabung ke koalisi Prabowo.
Ini tentu bisa saja terjadi di Jakarta. Apalagi, bila KIM menawarkan kursi cawagub untuk PKS. Sebagai pemenang Pileg 2024 di Jakarta, PKS tentu pantas menerima posisi itu.
Berikut perolehan kursi DPRD Jakarta di Pileg 2024.
PKS: 18
PDIP: 15
Gerindra: 14
NasDem: 11
PSI: 8
Golkar: 10
PAN: 10
Demokrat: 8
PKB: 10
PPP: 1
PERINDO: 1
Bantah Jegal Anies
Ketua Harian Gerindra Sufmi Dasco Ahmad membantah koalisi KIM Plus dibuat untuk menjegal Anies Baswedan untuk maju Pilgub Jakarta.
Apalagi, ia mengatakan target kerja sama KIM Plus ini bukan hanya di Pilgub.
“KIM Plus ini dibentuk untuk kemajuan Indonesia ke depan. Tidak hanya sebatas pilkada,” kata Dasco saat ditemui di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (5/8).
Menurut Wakil Ketua DPR RI itu, KIM tidak bisa melarang partai politik untuk bergabung, sebab ini adalah alam demokrasi.
“Iya. Sekarang ini alam demokrasi. Kalau partai politik ingin mencalonkan siapa kan kita juga enggak bisa melarang,” ucap dia.
