Bagaimana Orang Tua Mendeteksi Anak Mulai Terpapar Ideologi Terorisme?

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tangkapan layar Kasubdit Kontra Naratif Direktorat Pencegahan Densus 88 Anti Teror Polri AKBP Mayndra Eka Wardhana dalam acara Diskusi Global Terrorism Index 2025, yang dipantau secara daring di Jakarta, Kamis (10/4/2025). Foto: YouTube/BNPT
zoom-in-whitePerbesar
Tangkapan layar Kasubdit Kontra Naratif Direktorat Pencegahan Densus 88 Anti Teror Polri AKBP Mayndra Eka Wardhana dalam acara Diskusi Global Terrorism Index 2025, yang dipantau secara daring di Jakarta, Kamis (10/4/2025). Foto: YouTube/BNPT

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Densus 88, dan KPAI, kompak menegaskan deteksi dini dari orang tua adalah kunci untuk mencegah anak terpapar ideologi terorisme di ruang digital.

Pola ajakan, perubahan perilaku, hingga konsumsi konten kekerasan di internet menjadi sejumlah indikator yang perlu diwaspadai.

Pola Ajakan: “Mana yang Lebih Baik, Pancasila atau Kitab Suci?”

Jubir Densus 88 AKBP Mayndra menjelaskan bahwa pola rekrutmen awal biasanya muncul dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan ideologis yang memancing perbandingan ekstrem.

“Mungkin ada pertanyaan seperti ini ya, ‘Manakah yang lebih baik antara Pancasila dengan kitab suci?’ gitu. Salah satu jebakan pertama,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa perbandingan seperti itu “bukan apple to apple” namun kerap digunakan untuk menjerat anak-anak masuk ke kelompok.

Pertanyaan serupa kembali diajukan untuk menarik respons lebih jauh.

“Kemudian mungkin ditanyakan lagi, ‘Baik mana negara Indonesia dengan negara berdasarkan agama?”

Densus mencatat bahwa anak-anak yang sudah keluar grup kerap “ditarik lagi oleh admin”, terutama jika nomor mereka telah tersimpan. Di grup khusus, konten yang dibagikan bahkan lebih ekstrem.

“Kalau sudah di grup khusus ya, itu sesuatu yang mungkin sudah berbau-bau kekerasan, sudah ada darah, ada beberapa hal-hal yang sadis gitu ya,” jelas.

Karena itu, Densus menekankan pentingnya kontrol orang tua terhadap gawai anak.

Ilustrasi terorisme. Foto: Prazis Images/Shutterstock

“Orang tua punya kendali terhadap anaknya… ambil handphonenya putra-putrinya, secara sidak seperti itu ya.”

KemenPPPA: Orang Tua Harus Melek Media

KemenPPPA menyoroti masalah klasik: banyak orang tua baru menyadari anaknya terpapar radikalisme setelah kasusnya terungkap.

“Orang tua dengan keterbukaan teknologi dan informasi ini, orang tua juga harus dituntut untuk melek media,” ujar PLT Perlindungan Khusus Anak KemenPPPA Ratna

“Orang tua sering ketinggalan ketika sudah kasus terjadi,” tambahnya

Ia menekankan bahwa perubahan perilaku sering terlambat dideteksi. Karena itu sensitivitas orang tua sangat penting.

“Sensitivitas orang tua menjadi sangat penting, keluarga menjadi sangat penting, karena perubahan perilaku itu seringkali terlambat dalam melakukan deteksi dini.”

KemenPPPA juga tengah memperkuat pusat pembelajaran keluarga yang memuat literasi digital bagi orang tua.

Selain itu, mereka mengandalkan Forum Anak dan kelompok GenRe untuk memperkuat kampanye pencegahan, mengingat anak sering lebih percaya pada lingkungan pertemanan.

Komdigi: Deteksi Perubahan Perilaku dan Bangun Ketahanan Digital Keluarga

Komdigi menegaskan bahwa literasi digital di keluarga harus menjadi benteng pertama.

“Bagaimana keluarga, orang tua, itu membangun ketahanan dan literasi digital bagi anak-anak mereka,” ujar Alexander Sabar Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Komdigi.

Ia meminta orang tua memperhatikan perubahan kebiasaan anak, terutama yang berkaitan dengan aktivitas digital.

“Melakukan deteksi awal terhadap mungkin ada perubahan perilaku, mungkin kebiasaan dari anak yang tiba-tiba berubah.”

Jika orang tua mampu mendeteksi sejak awal, komunikasi menjadi langkah penting.

“Orang tua juga memiliki peran untuk bisa menangani awal, untuk berbicara, untuk berkomunikasi dengan anaknya,” tambahnya.

KPAI: Orang Tua Jangan Abai, Cek Grup Media Sosial Anak

KPAI menekankan pentingnya komunikasi terbuka dan pengawasan yang wajar.

“Yang pertama tentu orang tua harus punya komunikasi yang baik dengan anak… jangan abai dengan anak berteman dengan siapa di media sosial,” ujar Ketua KPAI Margaret Aliyatul.

Ia meminta orang tua rutin memeriksa grup yang diikuti anak.

“Cek anak bergabung dengan grup apa saja,”

Orang tua juga disarankan memiliki kesepakatan bersama anak mengenai pemeriksaan perangkat.

“Punya komitmen bersama dengan anak bahwa orang tua perlu sewaktu-waktu melakukan sidak terkait dengan HP atau gadget atau media sosial anak.”

Dengan menyatukan pengawasan orang tua, literasi digital, komunikasi aktif, dan deteksi perubahan perilaku, para pemangku kepentingan berharap potensi anak terjerat jaringan terorisme bisa dicegah sejak dini.