Bakso dan Lebaran, Kesegaran yang Melawan Jenuh Santan
ยทwaktu baca 2 menit

Pada pekan lebaran, bakso adalah kudapan yang diserbu pembeli. Para pedagangnya juga kadang enggan tutup, bahkan saat Hari H Lebaran sampai beberapa hari sesudahnya.
Mereka punya alasan. Mengejar omset yang anjlok selama bulan Ramadan jadi salah satunya.
"Kemarin saat kami Ramadan, pendapat hanya nutup modal saja, gak dapat untung, karena pembeli sepi juga," ucap Wagino, pemilik warung Bakso Widuri, Palmerah, Jakarta Selatan, Jumat (12/4).
Wagino, menjelaskan, saat Ramadan mereka hanya memasak 20 kilogram bakso saja. Berbeda dengan hari biasa, yang mencapai 50 kilogram bakso.
"Kalau Lebaran gini, 100 kilogram saja habis," ucapnya.
Ia juga bilang, tak hanya pembeli yang datang ke warung saja yang menghabiskan dagangannya. Bakso Widuri yang sudah buka sejak tahun 1976 ini bahkan dibanjiri pesanan oleh artis hingga media.
"Kemarin itu ada Andre Taulany, terus Nikita, lebih kurang 200 mangkok. Kompas juga, 100 mangkok dua kali itu sempat," ucap Wagino.
"Kalau dituruti terus, gak bakal selesai (orderan)," katanya.
Tak hanya Widuri, beberapa bakso di kawasan ini juga ramai pelanggan. Bakso MBG misalnya, mereka juga tak tutup pada pekan Lebaran.
Sementara warung-warung kecil, juga tak kalah ramai. Bakso Podomoro di kawasan Pasar Kembang, Rawa Belong juga tak henti diserbu pelanggan.
"Alhamdulilah, kalau lebaran gini malah panen kita. Soalnya banyak warung yang gak jual juga kan," ucap Ihsan, pedagang bakso Podomoro.
Dari sisi pelanggan, bakso juga memberikan citarasa yang berbeda dari kudapan Lebaran yang didominasi santan, seperti opor atau rendang.
"Seger aja makan bakso, habis makan santan-santan, kan enak cari yang seger-seger," kata Astuti salah seorang pelanggan bakso Podomoro.
