Balmon Aceh Jawab Isu Starlink Bantuan Bencana Ditarif Rp 20 Ribu

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepala Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio Kelas II Banda Aceh, Luthfi. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kepala Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio Kelas II Banda Aceh, Luthfi. Foto: kumparan

Starlink merupakan salah satu komponen bantuan yang dikirimkan untuk membantu komunikasi di tengah bencana Sumatera. Tapi, ada kabar miring soal adanya tarif Rp 20 ribu kepada warga yang ingin menggunakan fasilitas Starlink ini.

Terkait hal itu, Kepala Balai Monitor (Balmon) Spektrum Frekuensi Radio Kelas II Banda Aceh, Luthfi, menegaskan perangkat bantuan tersebut belum didistribusikan ke masyarakat. Maka itu tidak mungkin ada pungutan biaya.

“Isu tarif itu tidak benar. Dua puluh perangkat Starlink bantuan Komdigi saat ini masih dalam proses distribusi dan belum digunakan oleh masyarakat,” ujar Luthfi saat dikonfirmasi Selasa (2/12).

Ia menjelaskan, seluruh perangkat itu baru diserahterimakan pada 1 Desember 2025 sekitar pukul 12.00 WIB. Saat ini masih berada di Dinas Kominfo Aceh untuk proses penyaluran lebih lanjut.

Ilustrasi layanan internet Starlink. Foto: Wirestock Creators/Shutterstock

Kabar tarif Rp 20.000 tersebut, lanjut Luthfi, diduga berasal dari praktik komersial milik penyedia layanan internet kecil, seperti ISP lokal atau RT/RW Net. Mereka juga menggunakan Starlink secara mandiri.

“Memang banyak Starlink dipakai oleh ISP atau RT/RW Net. Mereka menjual layanan internet dalam bentuk paket atau voucher, misalnya Rp 5.000 sampai Rp 20.000 per jam di warung kopi,” jelasnya.

Menurutnya, praktik tersebut murni bisnis penyedia jasa internet dan tidak terkait dengan bantuan pemerintah.

“Starlink itu operator internet seperti yang lain. Paketnya berbayar dan penyedia jasa bisa menjual kembali. Namun, itu bukan bagian dari program bantuan Komdigi,” tegasnya.

Sebelumnya, Komdigi mengirim 20 perangkat Starlink untuk mempercepat pemulihan komunikasi di 18 kabupaten/kota terdampak banjir dan longsor di Aceh.

Bantuan itu dikirim karena jaringan seluler di sejumlah lokasi masih terganggu akibat padamnya listrik dan kerusakan infrastruktur.

“Perangkat ini diharapkan mempercepat akses komunikasi di wilayah yang masih terisolasi dan membantu koordinasi distribusi logistik,” kata Luthfi.