Banjir Mengerikan di Mataram NTB: 30.000 Jiwa Terdampak, 1 Orang Meninggal

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sebuah mobil terseret banjir di sungai di Mataram, NTB, Senin (7/7/2025). Foto: Dhimas Budi Pratama/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Sebuah mobil terseret banjir di sungai di Mataram, NTB, Senin (7/7/2025). Foto: Dhimas Budi Pratama/ANTARA FOTO

Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), menyebutkan data sementara jumlah warga yang terdampak banjir pada Minggu (6/7) malam sebanyak 6.700 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 30.000 jiwa dan satu orang meninggal dunia.

Wali Kota Mataram Mohan Rolisakan, mengatakan banjir yang melanda Kota Mataram pada Minggu (6/7) kemarin merupakan banjir yang terbesar selama ini, karena terjadi merata pada enam kecamatan di kota itu.

Menurutnya, banjir terjadi karena curah hujan tinggi dengan intensitas lama dan merata dari hulu hingga hilir, sehingga menyebabkan air Sungai Ancar dan Kali Unus meluap. Kondisi paling parah di BTN Riverside Selagalas.

Korban banjir, lanjutnya, dievakuasi ke tempat-tempat yang lebih aman dengan menurunkan tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), bekerja sama dengan TNI/Polri, serta pihak terkait lainnya.

"Alhamdulillah, pagi tadi air sudah menyusut dan masyarakat bisa kembali ke rumah masing-masing untuk melakukan pembersihan sisa banjir," kata Mohan dikutip Antara.

1 Orang Meninggal dan 15 Terluka

Sebuah mobil menimpa mobil lainnya pascabanjir di Mataram, NTB, Senin (7/7/2025). Foto: Dhimas Budi Pratama/ANTARA FOTO

Mohan menyebut ada 1 wargnya yang meninggal. Korban merupakan warga Ampenan meninggal karena tersengat listrik lampu penerang jalan yang terdampak banjir.

"Hari ini almarhumah dimakamkan dan Pemkot Mataram sudah memberikan santunan kepada pihak keluarga yang ditinggalkan," katanya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB Ahmadi, mengatakan ada 14 unit perkantoran dan Pendopo Wakil Gubernur (Wagub) Nusa Tenggara Barat (NTB) Indah Dhamayanti Putri terendam air banjir yang melanda Kota Mataram pada Minggu (6/7).

Selain itu banjir juga merendam rumah-rumah warga di enam kecamatan di Kota Mataram, kata dia, mulai dari Sandubaya, Mataram, Cakranegara, Sekarbela, Selaparang, dan Ampenan.

"Ada 7.714 Kepala Keluarga (KK) atau 30.833 jiwa yang terdampak banjir dan 15 orang luka-luka dan 520 mengungsi, 9 unit rumah rusak berat, puluhan toko terendam, dan satu jembatan ikut putus," kata Ahmadi.

Penyebab Banjir

Warga membersihkan rumahnya pascabanjir di Mataram, NTB, Senin (7/7/2025). Foto: Dhimas Budi Pratama/ANTARA FOTO

Sekretaris BPBD Kota Mataram Ahmad Muzaki mengatakan banjir terjadi karena intensitas hujan sedang hingga lebat dengan durasi cukup lama disertai kilat/petir dan angin kencang, sehingga mengakibatkan meluapnya air sungai dan merendam rumah warga.

Akibat curah hujan yang tinggi sekitar pukul 16.00 Wita pada Minggu (6/7), debit air sungai meningkat hingga meluap ke permukiman warga air dengan ketinggian mencapai lebih satu meter.

Tim BPBD NTB dan BPBD Kota Mataram, serta TNI/Polri bersama relawan dan aparat setempat, langsung turun ke lokasi untuk membantu evakuasi.

"Tadi malam kami membuka 10 titik pengungsian. Ada yang di masjid sekolah, Asrama Haji, dan ke rumah-rumah warga sekitar. Tapi Alhamdulillah, hari ini warga kembali untuk membersihkan rumah dari sisa banjir," katanya.

Pihaknya mengimbau masyarakat agar berhati-hati ketika di luar rumah dan diharapkan tidak membuang sampah pada saluran air serta membersihkan drainase untuk mengantisipasi terjadinya luapan air saat hujan terjadi.

"Masyarakat juga perlu mewaspadai adanya potensi terjadi hujan dan angin kencang yang terjadi secara tiba-tiba," katanya.

Satus Tanggap Darurat Bencana

Pemerintah Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, menetapkan status tanggap darurat bencana selama 14 hari ke depan untuk memudahkan upaya penanganan pascabencana banjir yang melanda Kota Mataram pada Minggu (6/7).

"Dengan penetapan status tanggap darurat bencana, memungkinkan kami melakukan penanganan dengan mengerahkan potensi yang ada sesuai kebijakan dan regulasi yang ada," kata Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram Ahmad Muzaki, di Mataram, Senin.

Selama 14 hari ke depan, katanya, akan dilakukan evaluasi dan jika kondisi meningkat maka status akan diperpanjang tetapi kalau tidak akan dilanjutkan dengan tahap pemulihan.

Ia mengatakan, dengan status tanggap darurat bencana tersebut, kini sudah dibentuk satu Posko Tanggap Darurat 2025 terpusat di halaman Pendopo Wali Kota Mataram.

Pembentukan posko itu sesuai dengan regulasi bencana dan hanya satu yang akan menjadi pusat, sehingga bisa memudahkan koordinasi dan menggerakkan semua pihak terkait.

"Sementara posko yang ada di kelurahan, kepolisian, dan lainnya hanya bersifat sementara," katanya.

Di Posko Tanggap Darurat 2025, juga telah dibuka dapur umum dari tim Dinas Sosial Mataram dan didukung dapur umum lapangan milik BPBD Kota Mataram.