Banjir Rob di Kampung Mandar Banyuwangi, 3 Hari Rendam Ratusan Rumah Warga

Ratusan rumah di Kelurahan Kampung Mandar, Banyuwangi, Jawa Timur, kembali terendam banjir rob setinggi 50 hingga 100 sentimeter pada Rabu (28/5). Banjir rob ini sudah seperti 'tamu tahunan', namun kali ini begitu lama terasa.
Air laut pasang yang biasanya hanya singgah sebentar kini betah berlama-lama, sudah menggenangi permukiman warga selama tiga hari terakhir.
Bagi warga Kampung Mandar, pesisir Selat Bali yang indah kini berubah menjadi ancaman. Setiap pagi, air laut perlahan merangkak naik, menyusup melalui gorong-gorong dan selokan, lalu masuk ke dalam rumah-rumah yang bangunannya lebih rendah.
"Biasanya cuma 10 sentimeter. Ini sampai setengah sampai satu meter, masuk semua ke rumah," kata Sama'ati, terlihat pasrah, saat berbincang dengan kumparan.
Sama'ati menceritakan, dulu banjir rob hanya berlangsung dua jam dan air pun tak sampai masuk ke dalam rumah, kini situasinya berbeda. Perabotan rumah tangga, kasur, hingga lemari ikut terendam.
"Kalau orang ketiduran pas banjir, kasurnya pasti basah semua, kecolongan," imbuhnya, menggambarkan betapa sulitnya hidup di tengah kondisi ini.
Perjuangan Mandiri dan Harapan yang Menggantung
Tak tinggal diam, warga pun berupaya melakukan antisipasi mandiri. Mereka sibuk membuat tanggul sederhana di depan pintu rumah menggunakan karung pasir atau kayu seadanya, berharap bisa menahan laju air.
Namun, upaya tersebut tak cukup kuat menghadapi debit air yang terus meninggi.
Sama'ati, yang mengaku rumahnya paling rendah, merasa semakin terdesak.
"Rumah saya ini kan paling pendek. Sudah enggak bisa dibangun ke atas lagi," ujarnya, menunjuk dinding rumah yang kusam akibat sering terendam.
Menurutnya, masalah utama banjir musiman ini adalah penyempitan jalur air.
"Karena tidak ada jalannya air. Dulu di belakang rumah itu kan laut, sekarang dipakai Fish Market Kampung Mandar. Terus di sebelah timur itu jadi jalan sampai ke utara," jelas Sama’ati.
Kondisi tesebut yang membuat air laut tak memiliki jalur keluar yang memadai dan akhirnya meluber ke permukiman.
Tak hanya merendam, air rob juga membawa serta sampah-sampah dari laut, menambah kekhawatiran akan timbulnya penyakit kulit, seperti gatal-gatal di kalangan warga.
Hingga Rabu (28/5) siang, warga Kampung Mandar masih tetap bersiaga. Mereka hanya bisa menunggu air surut dan berharap pemerintah daerah segera turun tangan.
"Harapannya supaya ini dikasih jalan yang baik air laut, biar tidak masuk ke rumah-rumah. Kalau cuma di halaman enggak apa-apa. Ini rumah warga ini masuk semua," ungkap Sama'ati.
Kekhawatiran Warga
Keresahan akan banjir ini turut dirasakan oleh Rony (39). Sebab, dalam kurun waktu sekitar dua bulan saja, Kampung Mandar sudah dua kali terendam banjir rob.
"Kalau dulu, banjir rob setahun sekali. Kalau sekarang, banjir rob berlangsung sekitar sepekan pada setiap waktu. Setiap harinya, air masuk ke rumah dalam durasi hingga tiga jam," tuturnya.
Rony berharap solusi konkret mengatasi kondisi ini.
"Kalau banjir di jalan, kami tidak apa-apa. Asal tidak masuk rumah. Jadi kami tetap bisa tidur dengan tenang," ucapnya.
Mencari Solusi
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi masih mencari solusi permanen untuk mengatasi banjir rob tersebut.
"Kemarin kami sudah cek ke lokasi untuk antisipasi agar ke depan banjir rob ini tidak berulang," kata Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Banyuwangi, Danang Hartanto.
Salah satu opsi yang dianggap cukup efektif adalah pemasangan klep buka-tutup di ujung pembuangan gorong-gorong. Menurut Danang, di kawasan Kampung Mandar terdapat empat gorong-gorong yang bermuara ke laut.
Pemasangan klep di setiap titik dinilai tidak membutuhkan anggaran besar, namun tetap memerlukan kajian teknis agar optimal.
"Kami akan berkoordinasi dengan DPU Pengairan dan kami akan usulkan untuk pemasangan klep," ujar Danang.
BPBD juga mempertimbangkan kebutuhan pompa air, terutama untuk menghadapi situasi di mana air pasang berbarengan dengan hujan deras.
"Kami akan analisa lagi pada beberapa hal agar solusi yang ada bisa optimal," jelas Danang.
