Banjir Sumatera Bisa Picu Kesehatan Mental, Penyintas Bencana Perlu Dukungan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengendara motor melewati dekat pohon yang terbawa banjir bandang di Batang Toru, Sumatera Utara, Selasa (2/12/2025).
 Foto: Binsar Bakkara/AP Photo
zoom-in-whitePerbesar
Pengendara motor melewati dekat pohon yang terbawa banjir bandang di Batang Toru, Sumatera Utara, Selasa (2/12/2025). Foto: Binsar Bakkara/AP Photo

Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Barat (Sumbar) dinilai tak hanya menimbulkan kerusakan fisik. Bencana kali ini dinilai membawa dampak serius terhadap kesehatan mental masyarakat.

Psikolog dan Associate Professor Universitas Paramadina, Muhammad Iqbal, menilai kondisi psikologis para korban tampak sama beratnya dengan kerusakan material yang mereka alami. Banyak warga kehilangan anggota keluarga, rumah, lahan pertanian, ternak, hingga sumber mata pencarian.

Situasi tersebut, lanjut dia, memunculkan tekanan mental ekstrem yang berpotensi berkembang menjadi gangguan psikologis jangka panjang.

Sejumlah bangunan rusak pascabanjir bandang di Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (4/12/2025). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO

Apalagi, kata dia, dengan banyaknya laporan warga yang hilang, hal itu bisa mengancam kesejahteraan psikologis penyintas.

"Para ahli menilai kondisi ini tidak hanya mencerminkan krisis ekologis dan ekonomi, tetapi juga krisis kemanusiaan yang mengancam kesejahteraan psikologis penyintas," kata Iqbal dalam keterangannya, Jumat (5/12).

"Pengamatan saya di lapangan terlihat dengan sangat jelas bahwa dampak psikologis penyintas tidak kalah berat dibanding kerusakan fisiknya," tambah dia.

Pengendara melintasi jalan darurat di kawasan Mega Mendung, Lembah Anai, Tanah Datar, Sumatera Barat, Kamis (4/12/2025). Foto: Iggoy el Fitra/ANTARA FOTO

Iqbal mengatakan dampak psikologis yang umum muncul setelah bencana antara lain: Acute Stress Reaction, Anxiety Disorders, Prolonged Grief Disorder, dan Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).

"Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 30–50 persen penyintas bencana besar mengalami gejala PTSD dalam tiga bulan pertama. UNICEF juga mencatat anak-anak dan lansia sebagai kelompok paling rentan mengalami dampak psikologis berkepanjangan," tuturnya.

Ia menilai pemerintah perlu menangani masalah pascabencana dengan dukungan profesional. "Dukungan psikososial dalam bentuk intervensi yang menangani dua aspek sekaligus: (a) Psikologis, stres, trauma, kecemasan, kehilangan, dan (b) Sosial, relasi, lingkungan, keluarga, komunitas," ucapnya.

Batang kayu dan tali jadi jembatan darurat menuju Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumut. Foto: Sunyoto Masjid Nurul Ashri Sleman

Iqbal melanjutkan, "Satu pendekatan yang paling banyak digunakan adalah Psychological First Aid (PFA), yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan, relawan, guru, tokoh masyarakat, maupun responden darurat."

Lebih lanjut, Iqbal mengatakan selain kebutuhan dasar seperti makanan, air, selimut, dan tempat tinggal sementara, penyintas memerlukan dukungan emosional, yakni ruang aman untuk bercerita, terapi kelompok, aktivitas psikososial.

"Dukungan komunitas: solidaritas, interaksi sosial, dan pemulihan struktur sosial. Dukungan informasi: edukasi mitigasi, akses bantuan, dan literasi kesehatan mental. Penguatan fungsi keluarga: membantu keluarga stabil, pulih, dan bangkit," ucapnya.

Iqbal menyebut tujuan akhir metode tersebut untuk resiliensi jangka panjang agar penyintas tidak hanya pulih sementara, tetapi mampu menghadapi dan membangun kembali kehidupan pasca bencana.

"Penyintas bencana tidak hanya kehilangan rumah dan harta benda, tetapi juga kehilangan rasa aman, kendali hidup, dan kadang makna keberadaan. Oleh karena itu, dukungan psikososial harus menjadi bagian utama dari penanganan bencana. Bencana boleh merusak bangunan, tetapi jangan sampai meruntuhkan harapan dan martabat manusia," tandasnya.