Banyak Polisi AS Mundur Usai Kematian George Floyd

Pengunduran diri polisi banyak terjadi Amerika Serikat usai pembunuhan warga kulit hitam George Floyd. Mereka menyatakan mundur karena menentang tindakan tersebut atau sebagai protes atas buruknya keselamatan bagi petugas keamanan.
Seperti diberitakan CNN, Rabu (17/6), peristiwa ini setidaknya terjadi di beberapa kota tempat terjadinya protes atas pembunuhan Floyd. Pria kulit hitam itu tewas terbunuh oleh polisi Derek Chauvin di Minneapolis pada 25 Maret lalu.
Di Minneapolis sendiri setidaknya ada tujuh polisi yang mundur karena memprotes pembunuhan Floyd. Sekitar enam polisi di kota itu saat ini masih dalam proses pengunduran diri, seperti yang disampaikan juru bicara kota kepada CNN.
Pekan lalu, sebanyak 14 anggota polisi menuliskan surat terbuka mengecam pembunuhan George Floyd. Menurut mereka, Chauvin tidak manusiawi dan tindakannya tak mencerminkan seluruh anggota kepolisian Minneapolis.
Pengunduran diri polisi juga terjadi di Atlanta. Di kota ini pekan lalu terjadi pembunuhan Rayshard Brooks, pria kulit hitam 27 tahun, oleh polisi. Peristiwa ini semakin mengobarkan amarah masyarakat atas perlakuan buruk polisi terhadap warga kulit hitam.
CNN melaporkan, di Atlanta ada delapan polisi yang mundur bulan ini. Padahal biasanya pada 2020 setiap bulan paling banyak 6 polisi yang mengundurkan diri di Atlanta.
Di South Florida, pengunduran diri dilakukan 10 anggota tim SWAT. Mereka khawatir akan keselamatan mereka selama menjaga keamanan protes yang berujung rusuh atas kematian Floyd.
Dalam suratnya, mereka mengaku tak dilatih dan dipersenjatai dengan baik. Bahkan, kata mereka, keamanan anjing polisi lebih diutamakan ketimbang keselamatan mereka. Selain itu, cara polisi menjaga keamanan telah dipolitisir.
"Sampai kondisi ini belum diatasi, kami tidak akan aman, efektif, dan yakin dalam menjalankan tugas ini tanpa menempatkan diri dan keluarga kami dalam risiko," ujar surat tersebut.
Di Buffalo, New York, sebanyak 57 polisi menyatakan mundur dari tim respons darurat. Mereka menentang pemecatan dua polisi yang mendorong pemrotes berusia 75 tahun hingga jatuh dan tak sadarkan diri. Menurut mereka, tindakan tersebut hanyalah perintah.
"Sebanyak 57 polisi mundur karena muak terhadap perlakuan dua kawannya, yang hanya menjalankan perintah," kata kepala asosiasi polisi Buffalo, John Evans kepada media WGRZ.
Mereka memang tak keluar dari kepolisian, tapi mundurnya 57 orang ini membuat departemen kepolisian Buffalo tak lagi memiliki tim respons darurat.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)
***
Yuk! bantu donasi atasi dampak corona
