Basarnas: Pencarian 5 Wartawan dan 3 ABK yang Hilang di Selat Sunda Dihentikan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tim penyelamat melakukan operasi pencarian dan penyelamatan untuk para jurnalis dan awak kapal yang hilang kontak saat meliput letusan gunung berapi Anak Krakatau di Selat Sunda pekan lalu, di Carita, Kabupaten Pandeglang, Selasa (15/9/2026). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Tim penyelamat melakukan operasi pencarian dan penyelamatan untuk para jurnalis dan awak kapal yang hilang kontak saat meliput letusan gunung berapi Anak Krakatau di Selat Sunda pekan lalu, di Carita, Kabupaten Pandeglang, Selasa (15/9/2026). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Operasi pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga anak buah kapal (ABK) yang hilang di Selat Sunda dihentikan pada hari ke-10. Meski demikian, Basarnas tetap melakukan pemantauan di wilayah Selat Sunda.

Kepala Basarnas Banten, Al Amrad, mengatakan meski operasi SAR dihentikan, pihaknya tetap melakukan pemantauan terhadap delapan orang yang hilang.

"Setelah pencarian ini kita hentikan, kita lakukan dengan pemantauan melalui VTS, termasuk dari Lanal, termasuk Polairud yang melakukan patroli di sekitar situ, termasuk aktivitas kapal yang melintas di Selat Sunda ini yang akan menjadi ujung tombak kita bila menemukan informasi lebih lanjut," kata Al Amrad di posko pencarian Marina Carita, Pandeglang, Banten, Kamis (17/9/2026).

Al Amrad mengatakan pemantauan terhadap kapal yang melintas di Selat Sunda akan terus dilakukan dengan mengandalkan informasi dari patroli maupun laporan masyarakat.

"Apabila ada tanda-tanda, maka operasi SAR akan dinyatakan dibuka kembali," jelasnya.

Gubernur Banten Andra Soni menyebut pihaknya menghormati keputusan Basarnas untuk menghentikan proses pencarian dan pertolongan. Namun, ia berharap operasi dapat kembali dilakukan apabila terdapat informasi, tanda-tanda, atau petunjuk baru terkait keberadaan para korban.

"Oleh karena itu, kami menghormati keputusan Basarnas untuk menghentikan proses pencarian dan pertolongan ini. Namun, kami berharap setiap ada informasi baru atau tanda-tanda baru, atau petunjuk di lapangan, mohon kita dapat berkoordinasi dan ditindaklanjuti bersama-sama. Dan kepada keluarga survivor, atas nama masyarakat Banten, kami menyampaikan keprihatinan yang mendalam," ujar Andra Soni di posko pencarian Marina Carita.

Keluarga Minta Pencarian Diperpanjang

Sementara itu, Desi Purnamasari, istri jurnalis Antara Bagus Choirunnas yang hilang bersama tujuh orang lainnya di Selat Sunda, meminta operasi pencarian diperpanjang.

Desi juga meminta Tim SAR melakukan penyisiran di sejumlah pulau yang berada di sekitar Selat Sunda. Permintaan tersebut disampaikan saat Tim SAR menyatakan operasi pencarian dihentikan.

"Izin, Bapak. Saya menyampaikan beberapa. Saya minta untuk kami, khususnya dari pihak keluarga, dilakukan pengecekan kembali, yaitu pertama ada di Pulau Tinjil Besar, Tinjil Kecil. Untuk di Tinjil Besar dan Tinjil Kecil ini kan memang katanya sudah dilakukan penelusuran ke sana. Tapi saya memohon proses pencarian untuk dilakukan dari selatan Binuangeun," ujar Desi.

Desi juga meminta penyisiran dilanjutkan ke arah Lampung dengan menyisir sejumlah pulau, di antaranya Pulau Panjurit, Pandang Lunik, Pandang Balak, dan Pulau Penyu.

"Dan selanjutnya untuk di arah Lampung, Pak. Itu ada di Pulau Panjurit, Pandang Lunik, Pandang Balak, Pulau Penyu. Dan untuk di wilayah Panaitan juga ada Pulau Panaitan, Sebuku, dan Pulau Handeuleum," kata Desi yang hadir bersama keluarga korban hilang lainnya.