Batu Nisan Peninggalan Kerajaan Aceh Ditemukan di Area Proyek Jalan Tol Kajhu

Puluhan batu nisan diduga berasal dari peninggalan Kerajaan Aceh ditemukan di lokasi proyek pengerjaan jalan Tol Kajhu di kawasan Kajhu, Aceh Besar.
Letak batu nisan ini saling berdekatan tetapi kondisi makam-makam itu telah terkubur di balik tanah dan ranting-ranting pohon.
Pantauan kumparan, makam itu ditemukan di depan dan sisi kanan pintu gerbang Tol Kajhu atau tepatnya di pinggir jalan. Letak masing-masing batu nisan berjarak sekitar 2 sampai 5 meter. Ada yang berbentuk kecil dan juga besar.
Kondisi makam ini tak lagi utuh, kebanyakan di antaranya telah tertimbun tanah. Hanya beberapa yang masih berdiri tegak dan bersih.
Batu-batu nisan itu berbentuk silinder, diduga kuat milik kesultanan pada masa kerajaan Aceh Darussalam.
Ketua Komunitas Peubeudoh Sejarah, Adat dan Budaya (Peusaba) Aceh, Mawardi Usman, menceritakan mulanya batu nisan itu ditemukan oleh anggotanya yang sedang berkeliling melihat lokasi situs cagar budaya di kawasan Aceh Besar dan Banda Aceh.
Mawardi menambahkan, anggota Peusaba juga menerima laporan dari masyarakat tentang adanya batu nisan mirip masa Kerajaan Aceh di lokasi pengerjaan proyek jalan tol.
“Kapolsek juga ikut turun dan mengabarkan bahwa ada beberapa makam yang mengenai tol. Dia meminta untuk dikunjungi, setelah dikunjungi ternyata benar,” kata Mawardi, Rabu (10/2).
Dari hasil pemeriksaan sementara, jumlah batu nisan di sana ada sekitar 20-an. Dari jenis dan bentuknya, batu itu diduga milik orang penting era kesultanan Aceh Darussalam.
“Melihat bentuknya, batu nisan ini diproduksi pada era masa Syekh Abdur Rauf as-Singkili. Dari bentuk batu nisan itu menandakan bahwa di sini (Kajhu) banyak makam ulama sufi,” tuturnya.
Kawasan situs sejarah Kajhu, kecamatan Baitussalam, adalah kawasan khusus era kesultanan Aceh Darussalam. Kawasan ini sejak dulu terkenal sebagai tempat kediaman para keluarga Raja.
Berdasarkan catatan sejarah, Tuanku Hasyim Banta Muda (1848-1897) Wali Sultan Muhammad Dawod Syah, dan Panglima Perang Aceh yang melawan Van Swieten, dilahirkan di sini.
“Kawasan ini juga dikenal sebagai tempat berdiam Wazir Sultan Panglima Paduka Sinara yang juga Ulebalang Pulau Weh,” ceritanya.
Selain itu, ada Ulebalang lain yang terkenal yakni Teuku Paya Ulebalang Mukim Paya dan Lambada. Mereka adalah anggota Dewan Delapan, yaitu 8 pembesar Aceh yang melakukan lobi melawan Belanda di Penang.
Ketika Perang Aceh terjadi, Teuku Paya mengirimkan surat kepada Presiden Amerika U.S. Grant (1869-1877) dan kepada Presiden Prancis (1873-1879) Marshal Mc Mahon.
Mawardi berharap, batu nisan ini bisa diselamatkan dan dipugar sehingga sejarah masa lalu tidak hilang akibat proyek pembangunan jalan tol.
“Kita tidak menolak pembangunan jalan tol. Akan tetapi bagaimana kita bisa sama-sama mencari solusi, agar batu-batu nisan yang telah ditemukan ini juga bisa diselamatkan dan dipugar kembali,” pungkasnya.
