Bau dari RDF Rorotan Diprotes Warga, Pramono: Masalah di Pengangkutan Sampah
·waktu baca 2 menit

Warga yang tinggal di sekitar fasilitas pengolahan sampah Refuse-Derived Fuel (RDF) Rorotan, Jakarta Utara, kembali melayangkan protes imbas bau menyengat yang dihasilkan oleh sampah yang diolah di sana.
Mereka kemudian mendesak agar RDF Rorotan ditutup karena menimbulkan polusi bau dan sejumlah masalah kesehatan.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengakui memang ada permasalahan dalam sistem pengangkutan sampah ke RDF Rorotan yang tak tertangani dengan baik, sehingga menimbulkan bau tak sedap ke permukiman di sekitarnya.
“Saya mengakui secara jujur problemnya adalah di pengangkutan dan sampahnya,” kata Pramono kepada wartawan usai membuka Job Fair & Upskilling Disabilitas di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Senin (3/11).
Ia menjelaskan, seharusnya sampah di lokasi tersebut tidak berada lebih dari dua hingga lima hari.
“Kemarin mobil yang mengangkut itu air lindinya [limbah cair] betebaran. Itu yang kemudian menyebabkan bau ke mana-mana. Lalu, sampah yang tadi belum diolah itu sudah menimbulkan bau,” ujarnya.
Menurut Pramono, RDF Rorotan sebenarnya sudah bisa beroperasi dengan kapasitas commissioning [uji coba fungsional] 1.000-1.200 ton. Ia mengatakan akan turun langsung ke lapangan dan menemui warga yang mengeluhkan bau dari fasilitas tersebut.
“RDF Rorotan, apa pun (yang terjadi), harus diselesaikan,” tegasnya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta Asep Kuswanto mengungkap pengoperasian fasilitas RDF di Rorotan ditargetkan mulai berjalan pada bulan November 2025 ini.
Pemprov DKI telah melakukan sejumlah perbaikan, salah satunya dengan pemasangan deodorizer atau alat penyerap bau.
