Bayi di Bogor Tertukar, Ketahuan saat Usia 1 Tahun setelah Tes DNA

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

Bayi genggam tangan orang dewasa.
 Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Bayi genggam tangan orang dewasa. Foto: Shutterstock

Dua bayi laki-laki yang lahir di RS Sentosa Bogor tertukar. Salah satu orang tua bayi baru mengetahui bayinya tertukar saat anak tersebut berusia 1 tahun setelah tes DNA. Dia pun lapor ke Polres Bogor.

Rusdy Ridho, pengacara ibu bayi yang bernama Siti Mauliah, mengungkapkan awal mula terjadinya peristiwa tersebut.

Pada tanggal 18 Juli 2022, Siti melahirkan secara sesar di RS Sentosa, Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Dia sempat menyusui bayinya di hari pertama lahir.

Di hari kedua, Siti merasa ada yang janggal saat gelang yang dikenakan bayinya berubah dan fisik bayi yang berbeda saat menyusui.

"Ketika hari keduanya dikasih bayi lagi, sudah merasa aneh karena secara psikologis mungkin merasa beda pas nyusui di hari kedua," kata Rusdy saat jumpa pers di Polres Bogor, Jumat (11/8).

Saat Siti sudah pulang ke rumah di hari ketiga usai lahiran, seorang suster datang ke rumah Siti dan bertanya tentang gelang yang dikenakan bayi. Dan gelang ditemukan atas nama pasien lain berinisial B.

"Susternya ke rumah, (tanya) ini atas nama ibu yang pasien B ya, 'oh enggak atas nama Ibu Siti Mauliah'. Di situ mulai tertukar ternyata gelangnya. Namun, saat itu suster bilang ini cuma jatuh aja atau tertukar (gelangnya)," ucap Rusdy.

Menurut Rusdy, sejak awal pihak RS membenarkan ada yang tertukar. Namun, diduga ada kelalaian dari perawat sehingga masalah ini tidak selesai saat itu juga, malah berlarut hingga satu tahun lamanya.

"Ketika itu, suster tidak menyebutkan bayi tertukar, hanya gelang saja yang tertukar. Setelah itu manajemen dari RS ini yang berlarut-larut, tidak ada tindakan cepat, sehingga kasus tertukar ini sampai setahun lebih," jelasnya.

Setahun berlalu, pada Mei 2023 pihak rumah sakit dan orang tua bayi melakukan mediasi dan Siti mengikuti serangkaian tes DNA. Hasilnya, terbukti bahwa anak yang dirawat Siti selama satu tahun bukan bayinya.

"Di situ klien kami baru sadar, kok atas nama pasien yang lain, ya. Dikonfirmasi, alasan rumah sakit itu hanya ketukar gelang. Sampai berlarut sampai setahun ini," ucap Rusdy.

Siti lalu melaporkan kasus ini ke kepolisian. Kuasa hukum dan pihak keluarga berharap kasus ini bisa diselesaikan.

Ibu B yang diduga bayinya tertukar menolak tes DNA

Legal Rumah Sakit Sentosa Bogor, Gregg Djako, mengatakan pihak rumah sakit baru mengetahui kasus ini pada Mei 2023. Saat itu juga pihak RS meminta Siti untuk melakukan tes DNA.

Setelah hasil DNA keluar, pihak rumah sakit memanggil Siti dan Ibu B, pasien lain yang tahun lalu melahirkan bersamaan dengan ibu Siti.

"Tes itu pun dibacakan hasilnya di depan ibu yang lain itu (Ibu B). Dalam pertemuannya terbuka kemudian dibacakan disampaikan infomasi soal itu" kata Gregg.

Pihak RS juga sudah meminta B untuk melakukan tes DNA. Namun dia menolak.

"Sampai sekarang beliau menyatakan belum bersedia, alasan keluarganya. Dia (Ibu B) menyatakan kami belum bersedia untuk melakukan tes," katanya.

RS juga sudah melayangkan surat dua kali ke B. Surat pertama dilayangkan minggu lalu. RS mengundang B untuk hadir dan dites DNA. Namun surat pertama tidak direspons.

"Kemudian surat kedua, kami menawarkan Ibu B mencari lembaga tes DNA yang sekiranya kredibel, menghubungi kami dan akan difasilitasi rumah sakit. Tetapi sampai hari ini juga menurut pengacaranya, masih dilakukan pendekatan supaya yang bersangkutan bersedia," ucap Gregg.

"Yang kami inginkan agar ibu B dan anaknya dites DNA silang, supaya kita mendapatkan hasil baik dan pasti," imbuhnya.

Polisi selidiki

Kasat Reskrim Polres Bogor AKP Yohannes Redhoi Sigiro mengatakan polisi sudah menerima laporan tersebut. Polisi akan menyelidiki kasus tersebut.

"Pengaduan ini kami terima menjadi sebuah dasar dari pendalaman kami atau dalam mekanisme pekerjaan kami dinamakan penyelidikan," kata Yohannes di kantornya, Jumat (11/8).

Polisi akan melakukan pemeriksaan apakah ada unsur pidana dalam kasus ini. "Langkah-langkah teknis dan praktis yang kemudian akan membuat terang, apakah ada unsur pidana yang terjadi di dalam peristiwa atau kejadian ini," katanya.