BBMKG: Hujan Ekstrem yang Picu Banjir di Bali akibat Gelombang Ekuatorial Rossby
ยทwaktu baca 3 menit

Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar mengungkapkan gelombang ekuatorial Rossby memicu terjadinya cuaca buruk di Bali dalam dua hari terakhir. Cuaca buruk ini menyebabkan curah hujan ekstrem hingga sebagian besar kawasan Bali terendam banjir.
"Aktifnya gelombang ekuatorial Rossby di wilayah Bali dan sekitarnya mendukung pertumbuhan awan konvektif penyebab hujan lebat," kata Ketua Kelompok Kerja Operasional Meteorologi BBMKG Wilayah III Wayan Musteana di Denpasar dilansir Antara, Rabu (10/9).
Kondisi tersebut, katanya, juga didukung nilai kelembaban udara tinggi dari lapisan permukaan hingga lapisan 500 milibar (mb).
Gelombang ekuatorial Rossby atau Rossby Ekuator adalah gelombang atmosfer yang bergerak ke arah barat di sekitar ekuator.
Wayan mengatakan apabila gelombang itu aktif, maka dapat menyebabkan terjadinya peningkatan pertumbuhan awan hujan di wilayah yang dilewati.
Kondisi ini, kata Wayan, diprediksi terjadi hingga hari berikutnya, tren curah hujan juga diprediksi akan menurun.
Musim peralihan
BBMKG Denpasar memperkirakan kondisi musim saat ini di Bali sudah memasuki musim peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.
Masyarakat diimbau untuk selalu mewaspadai potensi cuaca ekstrem seperti hujan yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang serta selalu membarui kondisi cuaca terkini dari BBMKG Denpasar.
Hujan ekstrem di atas 150 milimeter per hari
Sementara itu, Kepala BBMKG Wilayah III Cahyo Nugroho di Denpasar, Bali mengatakan, curah hujan lebat hingga ekstrem di Bali angkanya di atas 150 milimeter per hari pada periode 9-10 September 2025.
"Dalam tiga hari ke depan masih berpotensi terjadi hujan ringan hingga sedang di sebagian besar wilayah Bali," kata Cahyo.
Berdasarkan hasil pantauan, lanjut dia, hujan sejak Selasa (9/9) di Kabupaten Jembrana, Tabanan, Badung, Kota Denpasar, Kabupaten Gianyar, Klungkung dan Karangasem dalam kategori lebat di atas 50 milimeter (mm) per hari hingga kategori ekstrem di atas 150 mm.
Hujan tersebut bahkan berlanjut hingga Rabu pagi ini hingga menyebabkan bencana hidrometeorologi, di antaranya banjir di sejumlah titik.
Selain itu, ada juga kelembaban udara dalam kategori lembab hingga lapisan 200 milibar (mb) atau hingga 12.000 meter.
"Kondisi itu mendukung pembentukan awan konvektif dengan puncak awan yang tinggi sehingga menimbulkan hujan lebat disertai kilat atau petir," ucapnya.
Banjir di Berbagai Titik di Denpasar
Sementara itu, banjir terjadi di sejumlah titik di Denpasar, di antaranya di permukiman Pura Demak, kemudian kawasan Pasar Badung yang berada dekat aliran Tukad (Sungai) Badung di Denpasar.
Banjir juga melanda permukiman warga di Dusun Munduk, Desa Pengambengan, Kabupaten Jembrana mengakibatkan satu orang hilang terseret arus banjir yang saat ini masih dalam pencarian.
Bencana alam di Jembrana itu juga berdampak terhadap lalu lintas vital jalur Denpasar-Gilimanuk sehingga menyebabkan kemacetan di sejumlah titik menuju Pelabuhan Gilimanuk.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali juga mendata di Tabanan dan Karangasem juga terjadi pohon tumbang yang menutup akses jalan dan menimpa kabel listrik.
