Bedah Buku 'Warna Bali': Menggali Makna Warna Dalam Identitas Budaya di Bandung

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ahda Imran, penulis/sastrawan, Qanissa Aghara, Kurator Muda dan Praktisi Seni Bandung, Heru Rukayat, Kurator Selasar Sunaryo Bandung, dan Rizki A. Zaelani, Kurator dan Praktisi Seni, pada Acara Bedah Buku "Warna Bali" di Bandung, Rabu (22/7/2026). Foto: Abisatya/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ahda Imran, penulis/sastrawan, Qanissa Aghara, Kurator Muda dan Praktisi Seni Bandung, Heru Rukayat, Kurator Selasar Sunaryo Bandung, dan Rizki A. Zaelani, Kurator dan Praktisi Seni, pada Acara Bedah Buku "Warna Bali" di Bandung, Rabu (22/7/2026). Foto: Abisatya/kumparan

Yayasan Parahyangan Satya bersama Yayasan Satya Djaya Raya menggelar bedah buku "Warna Bali" di Silokarupaka Indoor Teater, Bale Pare, Kota Baru Parahyangan, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (22/7/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian diskusi yang sebelumnya telah berlangsung di Bentara Budaya Jakarta dan selanjutnya akan diselenggarakan di Yogyakarta serta Bali.

Buku "Warna Bali" merupakan hasil kolaborasi lima seniman dan akademisi Bali, yakni I Wayan Seriyoga Parta, I Made Susanta Dwitanaya, Dewa Gede Purwita, Dewa Ayu Eka Savitri Sastrawan, serta I Gede Gita Purnama Arsa Putra. Melalui buku ini, warna dipahami bukan hanya sebagai elemen visual dalam karya seni, tetapi juga sebagai bagian dari sistem pengetahuan yang berkaitan dengan aspek teologi, kosmologi, ritual, dan spiritual masyarakat Bali.

Diskusi menghadirkan tiga narasumber, yaitu Rizki A. Zaelani yang merupakan kurator, praktisi seni, dan dosen Pascasarjana ITB Bandung, Heru Hikayat selaku Kurator Selasar Sunaryo Bandung, serta Qanissa Aghara sebagai kurator muda sekaligus praktisi seni di Bandung.

Acara dipandu oleh penulis dan sastrawan Ahda Imran sebagai moderator. Melalui beragam latar belakang para pembicara, bedah buku ini diharapkan mampu menghadirkan perspektif lintas disiplin mengenai tradisi warna Bali sekaligus relevansinya dengan perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia.

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Satya Djaya Raya, I.G. Mahendra Kusumaputra, menegaskan bahwa buku "Warna Bali" merupakan sebuah "peta jalan pulang" untuk memahami makna warna dalam kebudayaan Bali.

"Buku ini merupakan peta jalan pulang menuju pemahaman bahwa warna dalam tradisi Bali, bukanlah sekadar estetika, warna adalah simbol kosmologi, ia adalah bahasa spiritual, ia adalah cara manusia berdialog dengan alam dan leluhur", tegasnya.

Diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas, buku ini menjelaskan bahwa warna-warna tradisional Bali seperti merah yang berasal dari cinnabar atau gincu, biru dari daun indigo, kuning dari kunyit, hingga hitam yang dihasilkan dari arang maupun jelaga, lahir melalui proses panjang yang berakar pada kebutuhan spiritual. Karena itu, warna dipandang sebagai bagian dari narasi budaya yang hidup dalam berbagai medium, mulai dari sesajen, topeng, lukisan wayang Kamasan, hingga kain tenun tradisional.

Buku tersebut juga mengulas bagaimana proses akulturasi budaya turut membentuk perkembangan warna tradisional Bali. Salah satu contohnya adalah penggunaan pigmen merah yang dikenal sebagai gincu atau kencu, yang memiliki keterkaitan historis dengan tradisi penggunaan zhu sha (cinnabar) di Tiongkok. Fakta ini menunjukkan bahwa kebudayaan Bali berkembang melalui proses interaksi dengan budaya luar yang kemudian diolah menjadi bagian dari identitas lokal.

Ahda Imran, penulis/sastrawan, Qanissa Aghara, Kurator Muda dan Praktisi Seni Bandung, Heru Rukayat, Kurator Selasar Sunaryo Bandung, dan Rizki A. Zaelani, Kurator dan Praktisi Seni, pada Acara Bedah Buku "Warna Bali" di Bandung, Rabu (22/7/2026). Foto: Abisatya/kumparan

Selain membahas aspek sejarah, buku ini juga mengupas proses pembuatan warna tradisional Bali yang membutuhkan ketelitian serta pengetahuan turun-temurun. Berbeda dengan penggunaan cat sintetis modern, pembuatan warna alami dilakukan melalui tahapan yang panjang, seperti menghasilkan warna hitam dari jelaga minyak kelapa atau arang buah camplung, serta warna biru melalui proses fermentasi daun indigo. Seluruh proses tersebut sarat dengan nilai budaya sekaligus makna spiritual.

Melalui penyelenggaraan bedah buku ini, panitia berharap tercipta ruang dialog antara akademisi, seniman, budayawan, dan masyarakat luas untuk memperdalam pemahaman mengenai kekayaan budaya Nusantara, khususnya tradisi Bali. Kegiatan ini juga menjadi upaya memperkenalkan kembali penggunaan material alami beserta filosofi warna tradisional yang mulai tergeser oleh penggunaan cat sintetis di era modern.

Rangkaian diskusi buku "Warna Bali" akan terus berlanjut di Yogyakarta dan Bali. Melalui kegiatan tersebut, penyelenggara berharap dapat menghimpun berbagai masukan sekaligus memperluas pemahaman publik mengenai pentingnya pelestarian warisan budaya melalui pendekatan akademik, artistik, dan lintas disiplin.