Begini Ritual Ruwatan yang Dilakukan Dukun hingga Menewaskan Anak di Temanggung

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kasat Reskrim Polres Temanggung Setyo Hermawan (kanan) dan Kapolres Temanggung AKBP Benny Setyowadi (tengah) dalam konferensi pers terkait bocah yang tewas usai diruwat, Rabu (19/5). Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kasat Reskrim Polres Temanggung Setyo Hermawan (kanan) dan Kapolres Temanggung AKBP Benny Setyowadi (tengah) dalam konferensi pers terkait bocah yang tewas usai diruwat, Rabu (19/5). Foto: kumparan

Polisi mengungkap kasus meninggalnya seorang anak berinisial A (7) di Temanggung. Ia meninggal usai kepalanya dibenamkan di sebuah bak kamar mandi oleh orang tuanya, M dan S, dan dukun H dan asistennya B.

Para pelaku yang kini sudah jadi tersangka itu percaya, A adalah anak titisan genderuwo yang harus diruwat agar tak menimbulkan masalah di kemudian hari.

Sebelum dibenamkan A juga menjalani beberapa prosesi tertentu, seperti memakan cabai dan biji mahoni.

"Kita dapatkan info sebelumnya korban dipaksa untuk memakan cabe dan biji mahoni. Itu berdasarkan keterangan para pelaku. Tapi setelah kita cek TKP kemarin kita tidak mendapati, artinya barang bukti itu, atau sisa-sisa itu itu belum bisa memastikan terkait itu," ucap Kasatreskrim Polres Temanggung, AKP Setyo Hermawan kepada wartawan di Mapolres Temanggung, Rabu (19/5).

Setelah itu, dukun memerintahkan agar A dibenamkan di bak kamar mandi yang berukuran 1x2 meter. Proses pembenaman terjadi dua kali, yakni pada akhir Desember 2020 dan awal Januari 2021.

"Yang kedua sekitar awal Januari mengakibatkan hilangnya nyawa korban," kata Setyo.

Rumah bocah di Temanggung, Jawa Tengah, yang meninggal karena diruwat. Foto: kumparan

Jasad korban lalu disimpan di dalam kamar oleh orang tuanya. Mereka percaya bahwa A akan kembali hidup seperti yang diucapkan oleh dukun.

"Jadi dukun menyakinkan kedua orang tuanya bahwa dia memiliki kemampuan menghidupkan kembali. jadi atas pengaruh dari dukun tersebut, kedua orang tua yakin anak ini akan hidup lahir kembali dan hilang sifat nakalnya," kata Setyo.

Empat bulan berlalu, namun ternyata apa yang diharapkan orang tua A tidak terjadi. Justru jasad A berubah tinggal kulit dan tulang.

Selama 4 bulan itu orang tua korban menyimpan sang anak di sebuah kamar dan diberi wewangian. Sehingga bau jenazah tidak dapat tercium dari luar.

Hal ini terlihat dari beberapa barang bukti yang ditemukan di lokasi.

"Ada beberapa pengharum ruangan, ada tissue, cotton bud untuk merawat selama empat bulan, lalu ada keranjang sampah untuk membuang hasil perawatan," kata Setyo.

Barang bukti kasus bocah diruwat hingga meninggal dunia di Bejen, Temanggung, Jawa Tengah. Foto: Dok. Istimewa

Orang tua korban mengaku sudah beberapa kali berkonsultasi dengan sang dukun. Dari informasi yang digali polisi, mereka telah menghabiskan duit sebesar 6 juta rupiah.

"Dari hasil konsultasi antara si orang tua dengan dukun, orang tua ini sudah memberikan beberapa uang walaupun jumlahnya tidak sama setiap saat. Dengan kurun waktu dari kejadian sampai kemarin informasi yang kita dapatkan sudah terkumpul Rp 6 juta lebih," kata Setyo.

Kedua orang tua korban sendiri bekerja sebagai penderes karet dan membuka usaha jahitan.