Bekas Algojo Duterte Angkat Bicara

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Arturo Lascanas, mantan algojo Duterte (Foto: Reuters/Romeo Ranoco)
zoom-in-whitePerbesar
Arturo Lascanas, mantan algojo Duterte (Foto: Reuters/Romeo Ranoco)

Seorang pensiunan polisi mengaku bekas algojo suruhan Rodrigo Duterte di kota Davao. Tergabung di "Skuad kematian Davao", tugasnya adalah menghabisi nyawa para kriminal, termasuk orang-orang yang mengancam posisi Duterte sebagai walikota saat itu.

Diberitakan Reuters, pria bernama Arturo Lascanas ini muncul di hadapan media pada Senin (20/2). Dia mengaku telah membunuh banyak orang, salah satunya adalah penyiar radio yang kritis terhadap pemerintahan Duterte.

Menurut Lascanas mereka dibayar untuk menghabisi nyawa orang-orang yang diincar Duterte. Perintah pembunuhan ini biasanya disampaikan oleh supir Duterte kepada para algojo.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte (Foto: Reuters/Ezra Acayan)
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Filipina Rodrigo Duterte (Foto: Reuters/Ezra Acayan)

"Untuk semua pembunuhan yang kami lakukan di Kota Davao, kami mengubur mereka atau melempar mereka ke laut. Kami dibayar oleh Walikota Rody Duterte," kata Lascanas dalam konferensi pers di kantor Senat di Manila.

"Seringkali kami dibayar 20 ribu peso (Rp 5,3 juta), kadang 50 ribu (Rp 13,2 juta) tergantung status target, kadang 100 ribu peso (Rp 26,5 juta)," lanjut dia.

Duterte menjadi walikota Davao selama 22 tahun sejak 1988. Duterte selalu membantah adanya kelompok skuad kematian Davao atau DDS. Kepala polisi Filipina mengatakan, skuad itu adalah fiksi yang diciptakan media.

Lascanas mengatakan DDS benar adanya. Sejak awal Duterte memimpin Davao, kata dia, polisi mulai membantai para kriminal. "Mereka adalah para tersangka kasus kriminal di Davao," ujar Lascanas.

Rodrigo Duterte. (Foto: Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Rodrigo Duterte. (Foto: Reuters)

Sebelumnya September lalu, mantan algojo Duterte lainnya juga muncul ke media. Dia adalah Edgar Matobato yang mengaku kepada Senat menyaksikan sendiri Duterte menembak mati seseorang dan memerintahkan polisi membunuh para penjahat.

Lembaga HAM mencatat sekitar 1.400 orang tewas misterius di Davao sejak awal tahun 1990-an. Pembunuhan yang terjadi di Davao persis seperti yang terjadi di Filipina saat ini usai Duterte mengumumkan perang terhadap narkoba.

Lebih dari 7.700 orang terbunuh dalam perang polisi melawan narkoba di seluruh Filipina. Hanya 2.500 di antaranya yang terdata polisi tewas dalam penggerebekan, sisanya diduga korban main hakim sendiri masyarakat yang telah direstui Dutete untuk membunuh bandar dan pemakai narkoba.