Belajar dari Bali: Kasus Corona Menurun, Kematian Rendah

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Prof Wiku Adisasmito. Foto: BNPB
zoom-in-whitePerbesar
Prof Wiku Adisasmito. Foto: BNPB

Jubir pemerintah dan Satgas COVID-19, Prof Wiku Adisasmito mengapresiasi Pemprov Bali yang bisa menekan laju penularan virus corona. Menurut Wiku, Pemprov Bali bisa mendisiplinkan warganya. "Pembelajaran penting dari pulau Bali, kita perlu belajar dalam penanganan COVID-19 dan gimana mereka tegakkan kedisiplinan masyarakat," kata Wiku Adisasmito, saat konferensi pers, Kamis (20/8). Menurut Wiku, di Bali sebelumnya terjadi kasus mingguan pada bulan Juli yang sangat memuncak. Pada saat itu, jumlah kasus corona mencapai 554 orang. "Terlihat kasus mingguan memuncak pada bulan Juli yaitu 554, sedangkan sejak saat itu sampai sekarang turun terus menjadi 286. Jumlah kasus positif total 4.158, ini kontribusinya hanya 2,9 persen dari jumlah nasional," kata Wiku. Selain itu, persentase kesembuhan pasien corona di Bali mencapai 87,7 persen. Menurut dia, persentase itu di atas rata-rata dunia dan nasional. "Kematian 1,2 persen, di bawah rata-rata nasional dan dunia. Kondisi ini jadi perhatian penting bagi semua pihak dan satgas, lihat apa yang menarik di sana, ternyata Bali melalui pimpinannya telah bentuk satgas COVID-19 bahkan sebelum terbentuknya gugus tugas nasional. Kegiatan yang sangat antisipatif perlu diapresiasi," ujar Wiku. Lebih lanjut Wiku juga mengatakan salah satu yang membuat kasus penularan corona di Bali terkendali adalah bisa menghentikan aktivitas budaya dan keagamaan.

embed from external kumparan

"Tentunya termasuk dilakukan penutupan objek wisata termasuk sabung ayam atau tajen yang merupakan tradisi warga Bali, dan meniadakan beberapa kegiatan adat dan agama," kata Wiku. "Hal-hal ini telah digerakkan dan mengorganisir desa adat se-Bali, dengan satgas gotong royong dan lakukan kegiatan niskala dan sekala. Rupanya secara budaya mereka bisa temukan suatu ikatan tertentu untuk ingatkan warganya terhadap bahaya ini," lanjut Wiku.

Wiku juga menyoroti Pemprov Bali yang menyediakan hotel dan transportasi untuk tenaga medis yang tangani COVID-19. Selai itu, Pemprov Bali juga menyiapkan tempat karantina bagi pekerja migran Indonesia (PMI) dan ABK yang baru pulang dari luar negeri.

"Dengan fasilitas yang memadai, rapid test juga dilakukan terhadap semua PMI dan ABK di Bandara Ngurah Rai, Pelabuhan Benoa dan Gilimanuk. Gimana sebuah pulau menjaga masyarakat dan wisatanya untuk investasi ke depan ini dinilai sangat baik," kata dia. Wiku mengatakan Bali merupakan 1 di antara 514 kabupaten/kota dan 1 dari 34 provinsi yang besarnya hampir sama dengan penduduk Singapura.

"Bali merupakan 1 di antara 514 kab kota dan 1 dari 34 provinsi yang besarnya degn penduduk 4,2 juta dan Singapura 5,6 juta. Jadi besarnya kabupaten/kota dan provinsi di Indonesia merupakan tugas bersama kita. Dan kalau lakukan seperti Bali, tentunya Indonesia punya potensi yang luar biasa untuk keluar dari masalah COVID-19," ujar Wiku.

***

(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)

embed from external kumparan