Belajar Keberagaman dari Sunan Bonang, Sang Pencipta ‘Tombo Ati’

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Menteri Khofifah mengunjungi makam Sunan Bonang (Foto: Antara/Aguk Sudarmojo)
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Khofifah mengunjungi makam Sunan Bonang (Foto: Antara/Aguk Sudarmojo)

Tombo ati iku limo perkarane

Kaping pisan moco Quran lan maknane

Kaping pindo salat wengi lakonono

Kaping telu wong kang sholeh kumpulono

Kaping papat kudu weteng ingkang luwe

Kaping limo zikir wengi ingkang suwe

video youtube embed

Pada tahun 2005, lagu Tombo Ati yang dinyanyikan oleh Opick meledak dan menjadi lagu wajib di bulan Ramadhan di sejumlah televisi. Cak Nun dengan Kiai Kanjeng-nya juga menembangkan lagu penuh nasihat yang populer di kalangan umat Islam ini pada tahun 1996.

Jika diindonesiakan, lirik lagu tersebut berbunyi:

Obat hati ada lima perkaranya

Yang pertama baca Quran dan maknanya

Yang kedua salat malam dirikanlah

Yang ketiga berkumpullah dengan orang saleh

Yang keempat perbanyaklah berpuasa

Yang kelima zikir malam perbanyaklah

Tembang Tombo Ati adalah karya monumental Sunan Bonang, salah satu dari sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa. Sunan Bonang lahir pada tahun 1465 Masehi dan wafat pada tahun 1525 Masehi.

video youtube embed

Mensos Berziarah ke Makam Sunan Bonang

Sunan Bonang dimakamkan di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, versi lain menyebut makamnya ada di 3 tempat yang berbeda. Makam Sunan Bonang tak pernah sepi dari peziarah.

Bahkan Mensos Khofifah Indar Parawansa juga menyempatkan berziarah pada Senin (22/5), usai meninjau proses pencairan bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) di Pendopo Kabupaten Tuban.

"Komplek makam Sunan Bonang ini merupakan salah satu destinasi unggulan untuk wisata religi di Jawa Timur. Semua fasilitas dan pelayanan tersedia. Mulai dari kios-kios suvenir, area pejalan kaki yang lebar dan teduh, area parkir yang memadai, tempat istirahat, tempat makan, tempat salat semuanya nyaman dan bersih, semua ditata dengan sangat baik," puji Mensos seperti siaran pers Kemensos yang diterima kumparan (kumparan.com).

Di sepanjang jalan menuju makam, terdapat lorong panjang yang di pinggirnya berderet kios-kios suvenir. Pedagang dan pengunjung berebut bersalaman dan berfoto bersama sang menteri. Satu per satu permintaan dilayani, Khofifah juga menyempatkan diri berbincang dengan mereka.

Toleransi dan Keberagaman Ala Sunan Bonang

Mensos mengatakan Sunan Bonang adalah sosok yang patut diteladani atas upayanyamembangun harmoni antar-umat beragama.

Hal ini antara lain tampak dari adanya sejumlah tempat ibadah di sekitar alun-alun Tuban yang hingga saat ini masih berdiri tegak dan digunakan untuk beribadah. Bangunan masjid, kelenteng, pura dan gereja yang membentuk seperti kompleks tersebut telah dibangun sejak zaman Sunan Bonang.

Sunan Bonang merangkul orang-orang selain muslim tinggal di tempat yang sama dan hidup dalam toleransi, rukun, serta damai. Ini yang harus kita teladani dan terapkan dalam kehidupan sekarang. Ajaran beliau masih sangat relevan mengenai toleransi dan keberagaman. Kita memang berbeda-beda, tapi tetap satu Indonesia.

Prasasti Kalpataru, Buah Pemikiran Sunan Bonang

Bukti toleransi dan keberagaman keberadaan tersebut tampak dalam Prasasti Kalpataru yang merupakan rangkuman dari buah pemikiran Sunan Bonang.

Pada prasasti setinggi 180 cm tersebut terukir empat tempat ibadah untuk agama berbeda-beda yakni masjid mewakili agama Islam, candi mewakili agama Hindu, Kelenteng mewakili Tridharma (Buddha, Tao dan Konghucu) serta wihara mewakili agama Buddha. Satu lagi, terdapat arca megalitik atau kebudayaan mewakili pemujaan leluhur.

"Melalui prasasti tersebut kita bisa memaknai sebagai adanya ajaran dan kepercayaan yang berbeda-beda tidak membuat mereka terpecah-belah. Melalui sikap toleransi dalam masyarakat berbeda-beda agama itulah kenapa Islam dapat menyebar secara luas," ungkap Khofifah.

Salah satu warisan budaya yang dibawa oleh Sunan Bonang adalah prasasti Kalpataru yang menunjukkan kearifan lokal, di mana pada saat itu berbagai agama Samawi dan kepercayaan lokal bisa hidup berdampingan secara harmonis. Hari ini kita perlu terus ingatkan toleransi dan keberagaman serta Tombo Ati.

Sunan Bonang dan Tombo Ati

Sunan Bonang merupakan putra Sunan Ampel buah perkawinannya dengan Nyai Ageng Manila, seorang putri dari Arya Teja, salah seorang Tumenggung dari kerajaan Majapahit yang berkuasa di Tuban. Nama kecilnya adalah Raden Maulana Makdum Ibrahim.

Sunan Bonang lahir pada tahun 1465 Masehi dan wafat pada tahun 1525 Masehi. Sunan Bonang dan Sunan Ampel merupakan dua dari Wali Sembilan (Wali Songo). Pada umur 7 tahun, Raden Ibrahim belajar mengaji ke Mesir selama 6 bulan.

Sunan Bonang. (Foto: Dok. Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Sunan Bonang. (Foto: Dok. Istimewa)

Sunan Bonang banyak menggubah sastra berbentuk suluk atau tembang tamsil. Antara lain Suluk Wijil yang dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa'id Al Khayr. Sunan Bonang juga menggubah tembang Tombo Ati (dari bahasa Jawa, berarti penyembuh jiwa) yang hingga kini sering dinyanyikan dan tak asing bagi umat Islam.

Tembang Tombo Ati bermakna penyembuh jiwa, menceritakan ada lima hal yang bisa dilakukan jika hati ingin tenang. Yaitu membaca Al Qur'an dan maknanya, menjalankan salat malam, berkawan dengan orang saleh, perut yang lapar (puasa) dan zikir malam.

Sunan Bonang Kreator Gamelan Jawa

Sunan Bonang juga menggubah sekaligus menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya memiliki nuansa zikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut).

Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Sunan Bonang menguasai ilmu fiqih, ushuluddin, tasawuf, seni, sastra, dan juga arsitektur.

Menteri Khofifah mengunjungi makam Sunan Bonang (Foto: Antara/Aguk Sudarmojo)
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Khofifah mengunjungi makam Sunan Bonang (Foto: Antara/Aguk Sudarmojo)