Belajar Membuat Tanaman Hidroponik dari Warga Pancoran

Tanaman hijau yang dipadu bunyi gemericik air dari kolam ikan membuat suasana permukiman padat penduduk ini tak telihat kumuh. Puluhan tanaman dengan menggunakan teknik penanaman hidroponik bisa dijumpai di setiap titik.
Kampung hidroponik, begitulah sebutannya. Daerah yang terletak di Pengadegan, Pancoran, Jakarta Selatan, ini memiliki ciri khasnya sendiri. Ada beberapa jenis tanaman hidroponik yang dibudidayakan oleh masyarakat sekitar.
Adalah Suparno yang pertama kali memiliki ide penanaman hidroponik di lingkungan tempat tinggalnya. Suparno yang juga ketua RT 01 tersebut mengaku ide membuat tanaman hidroponik mengalir begitu saja. Menurutnya, penanaman ini sudah dilakukan hampir 9 bulan lamanya.

"Muncul tiba-tiba aja idenya. 4 tahun yang lalu saya juga pernah kurus di ITB di kursusin lah sama CSR PT Korindo. Ini sudah 9 bulan resminya tanggal 31 Desember 2017," ucap Suparno saat ditemui kumparan (kumparan.com) Jumat (30/3).
Berbekal ilmu yang didapat Suparno lantas mempraktikkan di lingkungan tempat tinggalnya. Pertama kali ia membuat 1 set hidroponik dengan 6 paralon yang dilubangi beberapa bagian.

Suparno menjelaskan untuk membuat satu set tanaman hidroponik memang membutuhkan 6 paralon. Paralon tersebut nantinya untuk mengairi air ke tanaman hidroponik.
Setiap paralon dibuat lubang dengan jarak masing-masing 10 cm. Pipa paralon ini disambungkan dengan pompa akuarium untuk mengalirkan air. Di setiap lubang paralon dimasukkan gelas-gelas plastik lalu dimasukkan nutrisi di dalamnya.
"Busa, batangnya dijepit, akarnya ke bawah sendiri. Air buat supply nutrisi. Airnya bukan air biasa dicampur nutrisi, ademik. Pipanya ukuran 3 inci satu set 6 pipa," tuturnya.
Ternyata untuk merawat tanaman hidroponik itu tidaklah mudah. Bila musim panas, air akan cepat berkurang dan tanaman hidroponik membutuhkan perhatian khusus yaitu dengan cara selalu dicek kondisinya setiap saat. Menanam hidroponik sebenarnya ada kelebihan dan kekurangannya.

"Ngerawatnya gampang-gampang susah. Kalau panas gini airnya pasti cepat berkurang, mesti sering-sering dicek," ucap Suparno.
"Kelebihannya lebih higienis tanpa pestisida. Kangkung konvensionalkan bolong-bolong, ini enggak," lanjut dia.
Sementara untuk kekurangannya, Suparno menyampaikan bila musim hujan nutrisi akan cepat mencair karena terkena air hujan. Hal itu bisa membuat pengeluaran menjadi lebih besar.
"Kalau musim hujan kita tekor, karena nutrisi cepat mencair dengan air hujan. Bisa tekor jadinya," ucap Suparno.
Kini total ada sebelas set tempat untuk menanam hidroponik. Tak hanya tanaman saja, kampung ini juga diramaikan dengan lima kolam ikan yang menambah suasana asri.
