Belajar pada Longsor Cilacap, Retakan ‘Tapal Kuda’ Jadi Gejala Awal Longsor
·waktu baca 2 menit

Tanah longsor menerjang Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah pada Kamis (13/11) lalu. Longsor terjadi usai hujan deras yang mengguyur lokasi tersebut.
Guru Besar Teknik Geologi dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada, Dwikorita Karnawati, meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaannya terkait bencana tanah longsor saat musim hujan.
Menurutnya, ada sejumlah pertanda yang perlu diperhatikan untuk mengantisipasi terjadinya tanah longsor. Salah satu pertanda tanah akan longsor, katanya, muncul retakan tanah berbentuk melengkung menyerupai tapal kuda di area lereng.
"Retakan tapal kuda terbentuk pada batas antara lereng yang masih stabil dan bagian yang mulai bergeser. Begitu retakan ini muncul, risiko longsor meningkat signifikan," kata Dwikorita lewat keterangannya, Sabtu (15/11).
Dia menjelaskan, retakan berbentuk tapal kuda di sebuah lereng menjadi sebuah sinyal agar masyarakat yang berada di sekitar mengevakuasi diri. Masyarakat bisa mengungsi ke area yang lebih aman ke radius jarak 2 kali tinggi lereng.
Bila retakan sudah terlihat sejak cuaca cerah, menurut Dwikorita, perlu ada penanganan yang cepat. Misalnya, retakan ditutup menggunakan material yang kedap air.
Pasalnya, peningkatan tekanan air di dalam tanah merupakan penyebab utama pergeseran massa tanah dan pemicu longsor.
“Semakin banyak air yang meresap, semakin besar dorongan dari dalam lereng hingga akhirnya tanah meluncur,” jelas Dwikorita.
Selain retakan tanah, eks Kepala BMKG ini mengungkapkan, gejala lain sebelum tanah longsor terjadi adalah pohon yang tiba-tiba miring.
Munculnya rembesan air atau mata air baru di permukaan lereng juga menjadi pertanda peningkatan tekanan air di dalam tanah.
Kemudian, ada pula tanda lainnya seperti: lereng yang tampak menggembung, tanah ambles, serta retakan pada bangunan yang berada di sekitar lereng.
Apabila terjadi jatuhan tanah atau kerikil dan suara gemuruh, masyarakat perlu sesegera mungkin melarikan diri.
Dwikorita menambahkan, kewaspadaan ekstra juga perlu diterapkan pasca-longsor terjadi, khususnya saat proses pencarian korban. Curah hujan tinggi berpotensi menyebabkan longsor susulan.
“Pengamatan dini dan respons cepat adalah kunci untuk mencegah jatuhnya korban baru,” tutupnya.
Dalam insiden longsor di Cilacap, sebanyak 3 orang dilaporkan tewas dan 20 orang lainnya masih hilang. Upaya pencarian hingga kini masih dilakukan.
