Belgia Kembalikan Gigi Pejuang Kemerdekaan Republik Demokratik Kongo ke Keluarga
·waktu baca 2 menit

Pemerintah Belgia menyerahkan sebuah gigi pahlawan kemerdekaan Republik Demokratik Kongo, Patrice Lumumba, ke keluarganya pada Senin (20/6/2022). Gigi tersebut merupakan satu-satunya bagian dari jasad Lumumba yang berhasil ditemukan.
Kepala jaksa Belgia Frederic Van Leeuw menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna biru cerah berisi gigi itu kepada kerabat Lumumba dalam upacara yang disiarkan televisi di Istana Egmont, di pusat Brussel.
Gigi akan ditempatkan di peti mati dan segera diterbangkan ke Kongo.
"Tidak normal bagi Belgia untuk berpegang pada sisa-sisa salah satu bapak pendiri bangsa Kongo selama enam dekade," ungkap Perdana Menteri Belgia Alexander De Croo dalam pidatonya.
Dilansir Al Jazeera, Lumumba adalah Perdana Menteri pertama Republik Demokratik Kongo yang terpilih secara demokratis, setelah kemerdekaan dari Belgia pada 1960 lalu.
Pada masa pemerintahannya, Lumumba membuat khawatir Barat dengan tawaran yang ia buat untuk Moskow pada puncak Perang Dingin. Dia juga membuat marah Belgia dengan pidatonya yang mengkritik tahun-tahun penjajahan.
Pemerintahan Lumumba hanya bertahan tiga bulan sebelum dia digulingkan dan dibunuh oleh regu tembak. Saat itu Lumumba masih berusia 35 tahun. Pendukungnya dan beberapa sejarawan menuduh CIA telah memerintahkan pembunuhan sang kepala pemerintahan
Menurut sejumlah laporan, jasad Lumumba digali, dipotong-potong, dan dilarutkan dalam asam oleh petugas Belgia dan tidak pernah ditemukan. Salah satu petugas dilaporkan mengantongi gigi Lumumba sebagai trofi.
Penyelidikan parlemen Belgia atas pembunuhannya menyimpulkan pada tahun 2002 bahwa Belgia bertanggung jawab secara moral atas kematian Lumumba.
Pada 2016, pihak berwenang Belgia menyita gigi dari putri seorang polisi, Gerard Soete, setelah keluarga Lumumba mengajukan laporan.
Pada 2020, putri Lumumba, Juliana, menulis surat kepada Raja Belgia meminta pengembalian gigi Lumumba ke keluarganya. Usai upacara penyerahan pada Senin, Juliana mengaku masih banyak hal yang tidak ia ketahui tentang momen-momen terakhir kehidupan ayahnya.
"Yang kita tahu adalah bahwa dirimu dihukum dan tidak dapat membela diri sendiri," ungkap Juliana dalam sebuah pidato.
Menurut beberapa perkiraan, selama penjajahan Belgia, pembunuhan, kelaparan, dan penyakit merenggut nyawa hingga 10 juta warga Kongo dari tahun 1885 hingga 1960. Saat itu, Raja Leopold II memerintah Negara Bebas Kongo sebagai wilayah kekuasaan pribadinya.
Beberapa pekan lalu, Raja Phillipe Belgia dalam kunjungannya ke Kongo mengakui bahwa pemerintahan kolonial Belgia adalah masa kelam yang rasis dan tidak dapat dibenarkan. Namun, ia tidak menyampaikan ucapan maaf.
Penulis: Airin Sukono.
