Benarkah Data Center AI Menghabiskan Banyak Air? Ini Hitung-hitungannya

Data center untuk kecerdasan buatan (AI) kerap dituding "menghabiskan" air. Anggapan itu ikut menguat seiring pembangunan fasilitas data center di Indonesia. Salah satunya adalah fasilitas data center di Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat.
Meski demikian, menurut konsultan data center Devy Endry, tudingan itu perlu diluruskan. Persentase air yang benar-benar hilang, kata dia, jauh lebih kecil daripada yang dibayangkan.
"Benar data center haus air pendingin, tapi harus diingat bahwa air yang benar-benar habis menjadi uap itu sebesar 3-4 persen dari jumlah air yang dibutuhkan sistem selama beroperasi. Sisanya tetap bersirkulasi," ungkap Devy Endry kepada kumparan, Selasa (6/10).
Air Bersirkulasi, Tidak Langsung Terbuang
Devy Endry menyebut pendinginan AI data center kini memakai dua loop. Di loop pertama, kata dia, panas dari server AI diserap cairan pendingin (coolant) yang bersirkulasi antara server dan coolant distribution unit (CDU). Di loop kedua, CDU didinginkan air dari cooling tower, dry cooler, atau adiabatic dry cooler. Sebuah data center hanya bisa memilih salah satunya.
"Air adalah media pendingin untuk CDU yang berasal dari Cooling Tower/Dry cooler ini pada hakikatnya bersirkulasi atau tidak terbuang," ungkap dia.
Menurutnya, seberapa banyak air yang hilang bergantung pada sistem yang dipakai. Penjelasannya sebagai berikut:
1. Cooling Tower
Air disemprotkan menjadi butiran kecil, kemudian dipertemukan dengan aliran udara, air yang disemprotkan ini menjadi lebih dingin, tetapi ada bagian bagian yang menguap dan terbawa udara, besarnya kurang lebih 3-4 persen dari jumlah air yang bersirkulasi.
Air dingin hasil pendinginan ini dilarikan kembali ke CDU untuk mendinginkan liquid coolant.Karena ada air yang menguap, maka pada system cooling tower ada make up water yang ditambahkan setiap saat, untuk menjaga volume air yang bersirkulasi.
2. Drycooler
Air di dalam pipa drycooler didinginkan dengan cara meniup pipa dan sirip dengan udara sekitar. Air yang telah dingin dikembalikan ke CDU untuk mendinginkan liquid coolant. Dalam sistem ini sama sekali tidak ada air yang menguap/losses, 100 persen bersirkulasi.
3. Dry Cooler Adiabatic
Sistem ini sama dengan Dry Cooler, tetapi pada saat temperatur udara luar sangat tinggi, ada mekanisme penyemprotan sirip sirip drycooler (Sirip dry cooler ini mirip sirip sirip radiator mobil) untuk membantu pendinginan, oleh karenanya ada make up water yang ditambahkan.
Berapa Banyak Air yang Dibutuhkan?
Devy Endry lalu mengirimkan gambaran kebutuhan air untuk data center dengan beban 1 megawatt (MW). Nah, hasilnya sangat bergantung pada sistem yang dipilih.
Table Embed
Menampilkan 10 data dari 3 data
Sistem | Air bersirkulasi (m³/jam) | Air tambahan/make-up water (m³/jam) |
|---|---|---|
Cooling tower | 86,0 | 3,4 |
Dry cooler | 143,5 | 0 |
Adiabatic dry cooler | 143,5 | 0,8 |
Adapun make-up water adalah air tambahan yang dimasukkan ke sistem untuk menggantikan air yang hilang karena menguap dan terbawa angin. Make-up water ada supaya volume air dalam loop tetap terjaga.
Berdasarkan hitung-hitungan kumparan terhadap simulasi dari Devy Endry, air tambahan pada cooling tower sebesar 3,4 meter kubik per jam itu setara 82 ribu liter air tambahan per hari. Angka tersebut setara dengan 4.300 galon air berukuran 19 liter.
Sementara pada dry cooler, kebutuhan air tambahan nol. Adapun adiabatic dry cooler membutuhkan 0,8 meter kubik per jam, atau sekitar 19 ribu liter per hari jika terus-menerus menyala.
Antara Habiskan Listrik atau Air
Tiga sistem pendingin data center yang ada saat ini, kata Devy Endry, pada dasarnya adalah tawar-menawar antara listrik dan air. Cooling tower, misalnya, lebih boros air ketimbang dry cooler. Sementara dry cooler memang tidak mengkonsumsi air, tetapi penggunaan listriknya lebih boros.
Di sejumlah data center, kata Devy Endry, sistem yang digunakan memang harus salah satu. Tidak bisa dicampur. Di Jakarta, misalnya, ada data center yang menggunakan sistem cooling tower. Sementara di Cikarang Bekasi, ada yang pakai drycooler adiabatic.
"Hemat listrik boros air, atau hemat air boros listrik. Jika tidak diregulasi, tentu mereka akan mencari yang paling cost effective," ujarnya.
Gambaran perbandingan sistemnya adalah sebagai berikut.
Lantas apa yang paling cocok untuk Indonesia?
"Untuk AI server kapasitas maksimum 30 KW/rack masih bisa memakai air cooling konvensional dengan sejumlah improvisasi thermal management. Namun 30 KW/rack ke atas lebih cocok efisien adalah direct to chip liquid cooling, kapasitas lebih tinggi dapat memakai immersion cooling. Lokasi data center sangat mempertimbangkan ketersediaan air, listrik dan connectivity," ungkap Devy Endry.
Aturan dan Masa Depan Data Center di Indonesia
Menurut Devy Endry, belum ada regulasi khusus pemanfaatan air untuk data center. Fasilitas ini, kata dia, masih tunduk pada regulasi umum di lokasi pemanfaatan air, termasuk kewajiban mengurus izin penggunaan air.
Pada prinsipnya, lanjut dia, data center bisa memakai air dari sumber mana pun selama persyaratan perpindahan panas dan karakter airnya masih dalam koridor yang bisa diterima. Dia pun mendorong pemerintah menyiapkan regulasi, mengingat bahwa proyeksi pertumbuhan data center di Indonesia mencapai 11 giga wat pada 2030 mendatang.
"Proyeksi pertumbuhan data center di Indonesia menurut IDPRO (Indonesia Datacenter Provider Organization) adalah 11 GW pada 2030. Keuntungan kehadiran industri data center di Indonesia adalah mendukung pertumbuhan ekonomi digital dan serta efek dominonya, termasuk industri jasa konstruksi serta turunannya, kedaulatan & keamanan data nasional, penurunan latensi dan peningkatan kinerja layanan digital," ungkapnya.
