Benarkah Harga Listrik dari Nuklir Murah?

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. (Foto: Pixabay)

Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) memperkirakan rata-rata harga listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) sekitar 6-8 sen dolar AS per kWh, atau setara dengan Rp 810-1.080 per kWh.

Listrik dari energi nuklir diklaim relatif murah, cukup kompetitif dibanding sumber-sumber energi lain seperti batubara dan gas bumi.

Namun klaim tersebut dibantah Direktur Eksekutif Institute for Essensial Service Reform, Fabby Tumiwa. Fabby mengatakan, PLTN dengan teknologi terbaru, yaitu generasi 3+, tak bisa menghasilkan listrik semurah itu.

"Proyek-proyek PLTN dengan teknologi generasi 3+ enggak ada yang listriknya 6 sen dolar AS/kWh. Listriknya enggak murah," kata Fabby kepada kumparan (kumparan.com), Kamis (9/11)).

Contohnya adalah PLTN yang baru dibangun di Inggris. "Harga listrik PLTN di sana mencapai 15 sen dolar AS/kWh. Sementara rata-rata harga listrik di sana 7,5 sen dolar AS/kWh. Jadi harus disubsidi pemerintahnya," ungkap Fabby.

Selain harga listrik, harus dihitung pula biaya-biaya besar yang ditimbulkan oleh PLTN. Terutama biaya pengolahan limbah radio aktif. "Limbah nuklir tidak hilang selama beribu-ribu tahun, yang harus menanggung adalah publik di masa depan," ucapnya.

Ketika tak digunakan lagi, PLTN harus ditutup. Penutupan PLTN atau decommissioning juga membutuhkan biaya. "Di Jerman, penutupan PLTN keluar biaya lagi, di Amerika Serikat (AS) juga begitu," katanya.

Belum lagi kalau terjadi bencana seperti di Fukushima, Jepang. Masyarakat di satu kota harus dievakuasi akibat kebocoran nuklir.

Kerugian yang ditanggung masyarakat dan pemerintah sangat besar, diperkirakan mencapai 150 miliar dolar AS atau sekitar Rp 2.025 triliun, setara dengan belanja setahun di APBN Indonesia.

"Di Fukushima, pemerintah Jepang harus mengeluarkan kira-kira 150 miliar dolar AS untuk pembersihan dan evakuasi. Kalau kecelakaan lalu timbul biaya besar seperti itu di Indonesia, siapa yang menanggung biayanya?" tukas dia.