Bencana di Sumatera Jadi Pembelajaran, Upaya Antisipasi Filipina Bisa Jadi Acuan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Foto udara dampak banjir bandang yang melanda pemukiman penduduk di Jalan Murai, Sibolga, Sumatera Utara, Minggu (30/11/2025). Foto: Muhammad Irsal/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Foto udara dampak banjir bandang yang melanda pemukiman penduduk di Jalan Murai, Sibolga, Sumatera Utara, Minggu (30/11/2025). Foto: Muhammad Irsal/ANTARA FOTO

Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Wamenko Polkam), Lodewijk F. Paulus, meminta seluruh pihak mewaspadai dampak dari fenomena ekstrem iklim saat ini, terutama kemunculan Siklon Tropis Senyar.

Hal itu disampaikan Lodewijk dalam rapat koordinasi bersama kementerian/lembaga dan forkopimda, di Kantor Kemendagri, Jakarta, Senin (1/12).

Adapun Siklon Tropis Senyar itu menjadi salah satu pemicu bencana banjir bandang hingga longsor yang menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Dalam kesempatan itu, Lodewijk menyebut bahwa Siklon Tropis Senyar berada pada kondisi anomali. Ia pun menyinggung langkah Filipina yang melakukan antisipasi potensi bencana dengan lebih baik terhadap terbentuknya siklon tersebut.

"Kita juga harus mewaspadai dampak dari fenomena ekstrem iklim saat ini, yaitu terbentuknya Siklon Tropis Senyar dan Koto yang ada pada kondisi anomali yang sebenarnya tadi dijelaskan, nanti akan dijelaskan, sebenarnya sudah melewat, sudah lewat menuju Filipina," ujar Lodewijk dalam paparannya.

Wakil Menteri Koordinator bidang Politik dan Keamanan Lodewijk F Paulus menjawab pertanyaan wartawan usai melihat kondisi siswa yang terluka akibat ledakan di SMAN 72 Jakarta di RS Islam Cempaka Putih, Jakarta Timur, Jumat (7/11/2025). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan

"Ternyata Filipina, tadi sudah dijelaskan oleh Mendagri, setahun sepuluh kali, lebih dari sepuluh kali, tapi mereka sudah punya langkah-langkah antisipasi yang bagus," jelas dia.

Untuk itu, Lodewijk pun meminta semua pihak dapat menjadikan bencana banjir di wilayah utara Sumatera itu sebagai pelajaran mengantisipasi potensi bencana di masa mendatang.

"Nah, apa yang terjadi di Provinsi Aceh, Provinsi Sumatera Utara, dan Provinsi Sumatera Barat tentu menjadi pembelajaran bagaimana kita menghadapi cuaca ekstrem yang akan datang," imbuhnya.

Foto udara Jembatan Beutong Ateuh Banggalang yang putus diterjang banjir bandang di jalan lintas tengah Nagan Raya-Aceh Tengah di Desa Kuta Teugong, Beutong Ateuh Banggalang, Nagan Raya, Aceh, Minggu (30/11/2025). Foto: Syifa Yulinnas/ANTARA FOTO

Bencana banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mengakibatkan ratusan orang meninggal dunia. Hingga Minggu (30/11) malam, korban jiwa disebut telah mencapai 442 orang.

Hal tersebut disampaikan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dalam konferensi pers secara daring.

Berikut rinciannya:

  • Sumatera Utara: 217 orang tewas, 209 orang hilang

  • Sumatera Barat: 129 orang tewas, 118 orang hilang

  • Aceh: 96 orang tewas, 75 orang hilang