Bentrok Geng di Penjara Ekuador, 44 Tewas dan 108 Napi Kabur
ยทwaktu baca 3 menit

Kerusuhan mengerikan pecah di penjara di Ekuador pada Senin (9/5/2022). Sedikitnya 44 narapidana tewas dan ratusan lainnya melarikan diri usai bentrokan.
Insiden bermula dari perkelahian antara geng kriminal Los Lobos dan R7. Mereka ditahan dalam penjara Bellavista di Santo Domingo de los Colorados.
Para korban dibantai di sel dan ruang umum penjara. Para napi kemudian angkat senjata. Mereka memanfaatkan kerusuhan itu untuk melarikan diri. Otoritas setempat masih mencari persenjataan tersebut.
"Ini adalah akibat yang disayangkan dari kekerasan geng," cuit Presiden Ekuador, Guillermo Lasso, dikutip dari AFP, Selasa (10/5/2022).
Menteri Dalam Negeri Ekuador, Patricio Carrillo, sempat membuat klaim keliru. Dia mengatakan, seluruh tahanan kabur telah ditangkap.
Kepala Polisi Ekuador, Fausto Salinas, mengungkap sebaliknya. Hingga 108 napi itu masih hilang. Sementara itu, 112 tahanan lainnya telah ditangkap kembali.
Para napi yang terluka telah dilarikan ke fasilitas medis. Mereka mengalami cedera pada wajah.
Otoritas Penjara Amerika Selatan (SNAI) lantas turun tangan. Pihaknya telah mengaktifkan protokol keamanan.
Enam pemimpin geng pun dipindahkan ke dua penjara lain. Fasilitas-fasilitas tersebut memiliki keamanan maksimum.
Ekuador telah berulang kali menyaksikan peristiwa serupa. Lima kerusuhan penjara telah meletus sejak Februari 2021.
Sekitar 350 napi tewas dalam rentetan bentrokan itu. Pada April 2022, sedikitnya 20 napi juga tewas di penjara El Turi di Cuenca.
Lasso menyebut masalah di dalam penjara mencerminkan realita di luar. Geng-geng narkoba masih berlomba-lomba mengendalikan rute perdagangan.
Persaingan antara napi terkadang meledak menjadi kekerasan. Mereka tak urung memenggal kepala anggota geng saingannya dengan parang.
"Mayoritas korban, kalau tidak hampir 100 persennya, dibunuh dengan pisau dan bukan senjata api," ungkap Carrillo.
"Tubuh mereka yang dimutilasi ditinggalkan begitu saja," lanjut Carrillo.
Pemerintah telah mengambil berbagai cara untuk memberantas kekerasan. Mereka mengalirkan investasi untuk sistem keamanan penjara.
Pihaknya juga membentuk komisi dan kebijakan baru. Para tahanan paling berbahaya kini ditahan di satu lembaga pemasyarakatan. Namun, langkah-langkah itu tidak mengurangi pertumpahan darah.
Kapasitas yang telah mencapai maksimum juga menjadi masalah. Terdapat 35.000 tahanan di 65 penjara berbeda. Fasilitas-fasilitas itu hanya memiliki daya tampung 30.000 napi.
Penjara Bellavista pun hanya berkapasitas 1.200 orang. Tetapi, bangunan itu menaungi 1.700 napi.
Ekuador juga menyaksikan peningkatan kejahatan jalanan. Perdagangan narkoba pun kian marak. Ekuador bahkan telah mencatat rekor baru dalam penyitaan narkoba.
Negara itu menyita 210 ton obat-obatan pada 2021. Pemerintah kemudian menyita 82 ton lagi pada 2022.
Ekuador berbatasan dengan dua produsen kokain terbesar di dunia, Kolombia dan Peru. Sehingga, negara itu kerap digunakan sebagai titik ekspor bubuk putih tersebut ke AS dan Eropa.
Merespons situasi, pemerintah mengumumkan keadaan darurat di tiga provinsi paling terdampak. Wilayah-wilayah itu ialah Guayas, Manabi, dan Esmeraldas.
