Bentrok Thailand-Kamboja Berujung Laporan ke Mahkamah Internasional
·waktu baca 2 menit

Kamboja akan membawa sengketa perbatasan dengan Thailand ke Mahkamah Internasional (ICJ). Langkah itu setelah seorang tentara Kamboja tewas dalam bentrokan terbaru dengan Thailand di wilayah perbatasan timur laut.
Perdana Menteri Hun Manet mengumumkan hal tersebut dalam pertemuan bersama anggota parlemen dan senator di Phnom Penh pada Senin (2/6).
“Kamboja berharap Thailand bersedia bersama-sama membawa persoalan ini ke Mahkamah Internasional, untuk mencegah konfrontasi bersenjata lebih lanjut akibat ketidakpastian batas wilayah,” ujar Hun Manet, mengutip AFP.
Bentrokan terjadi Rabu lalu di wilayah Segitiga Zamrud, perbatasan tiga negara—Kamboja, Thailand, dan Laos. Seorang prajurit Kamboja dilaporkan tewas.
Pemerintah Phnom Penh menyebut insiden itu sebagai “pelanggaran kedaulatan” dan telah mengirim surat protes ke Kedutaan Thailand di Kamboja, menuntut investigasi menyeluruh atas insiden yang dinilai sebagai “serangan tak beralasan”.
Menurut militer Kamboja, pasukannya diserang terlebih dahulu. Di sisi lain, Thailand mengeklaim bahwa tentaranya hanya merespons tembakan.
Kedua militer bertemu keesokan harinya dan sepakat untuk meredakan ketegangan. Thailand menyatakan Komite Perbatasan Bersama akan menggelar pertemuan dalam dua pekan mendatang.
Namun, menurut Hun Manet, jika Thailand menolak membawa sengketa ini ke ICJ, Kamboja akan tetap melanjutkan pengaduan secara sepihak.
Ia menilai situasi di perbatasan dipicu oleh “kelompok ekstremis kecil” di kedua negara, yang berpotensi menyulut bentrokan lanjutan.
Segitiga Zamrud menjadi salah satu titik yang akan disebut dalam dokumen pengaduan ke ICJ.
Wilayah lainnya termasuk Kuil Ta Moan Thom, yang sempat menjadi sorotan setelah video seorang perempuan menyanyikan lagu patriotik Khmer di lokasi tersebut beredar di media sosial.
Aksi itu memicu protes diplomatik dari Thailand.
Sengketa perbatasan antara Kamboja dan Thailand sudah berlangsung lama.
Garis demarkasi sepanjang lebih dari 800 kilometer antara kedua negara sebagian besar dirancang semasa pendudukan Prancis di Indochina.
Bentrokan paling serius sebelumnya terjadi pada 2008, menyangkut lahan di sekitar Kuil Preah Vihear, bangunan berusia 900 tahun yang terletak di perbatasan.
Konflik tersebut menewaskan sedikitnya 28 orang dan berlangsung selama beberapa tahun sebelum ICJ memutuskan area itu sebagai wilayah Kamboja.
Saat ini Pemerintah Kamboja menekankan penyelesaian melalui jalur hukum dan diplomasi, seraya berharap ketegangan tidak berkembang menjadi konflik terbuka yang berkepanjangan.
Sementara Kementerian Luar Negeri Thailand belum memberikan tanggapan atas rencana pengaduan ke ICJ.
