Bentrokan Pecah di Suriah Pecah, 37 Orang Tewas

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
 orang-orang merayakan penggulingan presiden Suriah Bashar al-Assad di dekat patung Pedang Damaskus yang terkenal di Umayyad Square di pusat kota Damaskus pada tanggal 13 Desember 2024.  Foto: Sameer Al-Doumy/AFP
zoom-in-whitePerbesar
orang-orang merayakan penggulingan presiden Suriah Bashar al-Assad di dekat patung Pedang Damaskus yang terkenal di Umayyad Square di pusat kota Damaskus pada tanggal 13 Desember 2024. Foto: Sameer Al-Doumy/AFP

Bentrokan antara suku Badui (Badawi atau Bedouin) dan pejuang Druze di kota Sweida, Suriah, pecah dan menewaskan 37 orang. Otoritas Suriah mengirim aparat keamanan untuk meredakan situasi.

Bentrokan ini merupakan kekerasan mematikan pertama di wilayah itu sejak pertempuran antara anggota komunitas Druze dengan pasukan keamanan menewaskan puluhan orang pada April dan Mei lalu.

Dikutip dari AFP, Senin (14/7), Observatorium Suriah untuk HAM (SOHR) mengatakan setidaknya 37 orang tewas dalam bentrokan itu. 27 orang di antaranya pemeluk agama Druze, termasuk 2 orang anak, dan 10 di antaranya suku Badui.

SOHR juga melaporkan penutupan jalan raya Damaskus-Sweidia akibat bentrokan itu.

Kementerian Dalam Negeri Suriah menyebut jumlah korban tewas lebih dari 30 orang dan hampir 100 orang luka-luka. Pasukan juga akan dikerahkan ke sana berkoordinasi dengan Kementerian Pertahanan.

"Pasukan tersebut akan langsung memulai intervensi di wilayah itu untuk menyelesaikan konflik, menghentikan bentrokan, menegakkan keamanan, mengejar mereka yang bertanggung jawab atas insiden ini, dan menyerahkan mereka ke pengadilan yang berwenang," kata Kementerian Dalam Negeri dalam pernyataannya.

Media pemerintah Suriah, SANA, sebelumnya mengatakan pasukan keamanan telah dikerahkan ke perbatasan administratif antara provinsi Daraa dan Sweida untuk menangani situasi di sana.

Gubernur Sweida, Mustapha al-Bakur, meminta konstituennya untuk menahan diri dan menanggapi seruan reformasi nasional. Sejumlah pemimpin spiritual Druze Suriah juga meminta umat tetap tenang dan meminta Damaskus campur tangan.

Karena bentrokan itu, Kementerian Pendidikan mengumumkan penundaan ujian resmi sekolah menengah di Sweida hari ini hingga tanggal yang akan ditentukan selanjutnya.

Populasi Druze Suriah sebelum perang saudara berjumlah sekitar 700 ribu orang. Provinsi Sweida menjadi rumah bagi komunitas Druze di Suriah.

Faksi Badui dan Druze telah lama berseteru di Sweida. Bentrokan disertai kekerasan kadang terjadi di antara keduanya.

Kementerian Dalam Negeri mengatakan kekerasan yang terjadi merupakan hasil bentrokan yang terjadi antara kelompok militer lokal dan suku setempat.

"Dengan latar belakang ketegangan yang terakumulasi dari periode sebelumnya," ungkap Kementerian Dalam Negeri.

Sejak rezim Bashar al-Assad digulingkan, muncul kekhawatiran terkait hak dan keselamatan minoritas di bawah otoritas Islam yang baru, yang juga sedang berusaha membangun kembali keamanan.

Bentrokan antara pasukan keamanan baru dengan pejuang Druze pada April dan Mei menewaskan puluhan orang. Pemimpin dan tokoh keagamaan lokal menandatangani perjanjian untuk meredam eskalasi dan mengintegrasikan pejuang Druze ke dalam pemerintahan baru.