Berbagi Hidup dari Mangi Mangi di Teluk Bintuni

Nama Kabupaten Teluk Bintuni mungkin masih terdengar asing bagi sebagian orang. Wilayah yang terletak di Provinsi Papua Barat tersebut dikenal sebagai penghasil gas. Namun, di sisi lain, wilayah ini juga memiliki hutan mangrove yang luas.
Dari data yang diberikan Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni, ada seluas 225.367 hektare hutan mangrove di wilayah itu. Jumlah tersebut merupakan 52% dari keseluruhan hutan mangrove yang ada di Provinsi Papua Barat.
Mangrove di Teluk Bintuni terkenal dengan nama mangi mangi. Mangrove itu menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat. Dasar hutan mangrove itu menjadi tempat sembunyi kepiting yang menjadi komoditi terbesar di Teluk Bintuni.
Bintuni memang terkenal dengan kepiting yang khas. Kepiting dari wilayah ini banyak dikirim ke luar kota seperti Makassar dan Jakarta.
Rakiba Fiawe (38) warga Distrik Babo menuturkan, sudah sejak lama ia menangkap kepiting di sekitar hutan mangrove yang ada di Distrik Babo. Dengan berbekal kerambat yang dimilikinya, Rakiba bisa mendapat sebanyak 50 ekor kepiting dalam sehari. Kepiting itu kemudian dijual per kilogram ke penadah.
“Tergantung jenis kepitingnya ada yang BS dan Super. Kalau dadanya keras, berarti itu Super. Kalau BS itu Rp 13.000 per kilo, kalau supernya Rp 50.000 per kilo,” kata Rakiba di kediamannya, Selasa (2/4).
Kepiting tidak hanya dijual dalam bentuk hidup. Ada juga yang sudah diolah dalam bentuk abon dan tortilla. Seperti yang dilakukan oleh Ida Padwa (38) yang tinggal di Distrik Bintuni. Ia membuat tortilla dari bahan dasar kepiting. Selain itu ia juga membuat stik yang berbahan dasar udang.
Ida mengatakan keahlian dalam mengolah udang dan kepiting tersebut merupakan hasil dari pelatihan yang digelar Dinas Perekonomian Daerah Bintuni. Pelatihan tersebut digelar di Makassar pada 2016 lalu.
“Awalnya susah, tapi kalau sudah terbiasa ya mudah,” ujar Ida.
Ibu empat anak itu menuturkan produknya dijual Rp 15.000 dalam kemasan 200 gram. Namun saat ini produk tersebut belum dijual bebas karena belum mendapatkan sertifikasi dari BPOM. Maka dari itu ia hanya bisa menjualnya jika ada pesanan seperti dari Bank Indonesia maupun kelompok Bhayangkari untuk pameran UMKM.
“Kerjasama juga dengan Bank Indonesia, jadi setiap bulan kita kirim 20 bungkus. Kadang-kadang ibu-ibu bhayangkara juga pesan untuk pameran,” kata Ida.
Ida mengaku hanya mendapat keuntungan sebesar Rp 50.000 dari setiap pesanan yang ia dapat. Meski begitu ia tetap mensyukuri. Pasalnya meski keuntungannya kecil, uang itu bisa digunakan untuk membantu ekonomi keluarga.
“Banyak orang bilang perempuan Papua hanya duduk lihat suami. Jangan kita malu untuk berusaha. Karena sekecil apapun kita dapat kita bisa bantu keluarga. Karena saya bisa bantu anak saya kuliah di Jayapura dan Manado,” kata Ida.
Dikembangkan menjadi Ekowisata
Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni telah memiliki rencana lain untuk hutan mangrove yang ada di wilayahnya. Sekitar 1,4 hektare hutan mangrove akan dijadikan kawasan ekowisata.
“Pengembangan ekowisata sendiri yang dikembangkan di daerah Wamesa, terus di Desa Kuri, bahkan pun daerah Sebyar, terus daerah Babo. Memang ada banyak. Jadi Mungkin dari konsep ekowisata ini juga nanti dibahas di dalam FGD (focus group discussion) hutan mangrove di tanggal 5 dan tanggal 6 (April 2019),” kata Kepala Bagian Administrasi Perekonomian Kabupaten Bintuni Nicolaus Lettungun.
FGD yang dimaksud oleh Nico akan dihadiri oleh berbagai lembaga swadaya masyarakat seperti Panah Papua dan Econusa. Selain itu juga dihadiri oleh masyarakat adat.
Pertemuan tersebut akan membahas kelanjutan dari rencana ekowisata, serta festival mangrove sedunia. Tujuannya tentu untuk mengenalkan keragaman mangrove di Kabupaten Teluk Bintuni kepada dunia.
“Ini kita sudah masuk dalam tahapan kolaborasi. Nanti dalam tahapan kolaborasi akan ada beberapa pertemuan yang ini baru kita bahas FGD yang terkait festival hutan mangrove. Ini bisa diangkat di mata dunia terutama mangrove yang ada di Bintuni bisa terkenal,” ucap Nico.
Ia berharap festival tersebut tidak hanya mengenalkan mangrove Bintuni ke dunia, tetapi juga bisa meningkatkan ekonomi masyarakat.
“Pemerintah berharap lewat destinasi wisata, destinasi festival hutan mangrove ini bisa mengangkat, terutama meningkatkan ekonomi kerakyatan. Intinya di situ, mensejahterakan masyarakat. Bangun pagi kita tidak membicarakan gas, tapi bangun pagi kita berbica mangrove,” kata Nico.
