Berita Hoaks Sempat Bikin Wisatawan Asing Enggan Datang ke Kamboja

Kamboja saat ini tengah sibuk memerangi hoaks. Direktur Jenderal International Relations Institute of Cambodia (IRIC), Kin Phea, bahkan bercerita bahwa hoaks menyebabkan wisatawan takut berkunjung ke negaranya.
Hal itu disampaikan Phea saat membuka workshop bertema ‘The Role of Media in Combating Disinformation and Fake News in AI Context for Regional Peace, Stability, and Prosperity’ di Phnom Penh, Kamboja yang diselenggarakan pada 5-6 Juni 2024. kumparan hadir dalam workshop tersebut.
Phea merujuk pada berita palsu yang diproduksi kreator konten asal Taiwan pada Februari lalu. Kala itu, YouTuber bernama Chen Neng-chuan dan temannya, Lu Tsu-hsien, mengaku disiksa aparat Kamboja.
Jadi, Chen dan Lu memulai siaran langsung dan mengeklaim dirinya memasuki sebuah kawasan penjahat di kota Sihanoukville, Provinsi Preah Sihanouk, Kamboja. Dalam siaran langsung tersebut, Chen menarasikan dirinya dikejar oleh seseorang yang mengenakan pakaian militer.
Rupanya, Chen dan Lu sudah mempersiapkan skenario tersebut. Nama Kamboja pun tercoreng akibat 'prank' yang dilakukan keduanya. Chen dan Lu kemudian ditangkap pada Minggu (18/2).
“Narasi palsu ini disebarluaskan secara online dan melalui media sosial. Ini telah mencoreng citra Kamboja. Menyebabkan wisatawan asing enggan datang ke Kamboja, memperburuk ketegangan sosial, serta mengikis kepercayaan terhadap pemerintah, dan menghambat kerja sama regional,” kata Phea di Royal Academic of Cambodia, Phnom Penh, Rabu (5/6).
Phea menyebut berita hoaks kemudian kian diperparah dengan munculnya artificial intelligence (AI). Menurutnya, AI dapat dijadikan senjata oleh kekuatan politik eksternal untuk menciptakan manipulasi di media sosial.
Sementara itu, Sekretaris Kementerian Informasi Chum Kosal menyebut pihaknya mendeteksi 3.000 kasus berita hoaks pada 2023. Jumlah tersebut, kata dia, meningkat 160 persen dibandingkan 2020 yang jumlahnya mencapai 1.300 kasus.
“Hoaks menyebabkan perpecahan dalam persatuan nasional. Hal ini berdampak pada keamanan nasional dan hubungan luar negeri, serta menimbulkan ketidakpercayaan, perpecahan kelas, dan kekerasan,” ujarnya.
