Berkah Pascabencana, Rehab SDN 104231 Sugiharjo Bertambah Jadi Lima Ruang

Satgas PRR terus melakukan pemulihan pascabencana Sumatera untuk mengembalikan fungsi infrastruktur pelayanan dasar masyarakat, khususnya di sektor pendidikan. Pemerintah pusat berkomitmen menjaga keberlangsungan proses belajar mengajar yang diwujudkan lewat proyek rehabilitasi fasilitas belajar yang mengalami kerusakan fisik akibat bencana banjir.
Pekerjaan fisik sektor pendidikan ini berlokasi persis di SD Negeri 104231 Sugiharjo, Desa Sugiharjo, Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Pada skala satuan pendidikan dasar, rehabilitasi ini memiliki tingkat urgensi yang sangat mendesak mengingat bangunan sekolah selama bertahun-tahun menjadi langganan genangan air. Puncaknya terjadi saat bencana banjir melanda pada Desember 2025 yang merusak fasilitas sekolah serta mengganggu kenyamanan dan kelancaran proses pembelajaran siswa.
Program revitalisasi SDN 104231 Sugiharjo menelan anggaran sebesar Rp379.991.946 yang bersumber murni dari alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dengan supervisi Satgas PRR.
Perjanjian kerja sama (PKS) awal sejatinya hanya menetapkan rehabilitasi untuk tiga ruangan, yakni satu ruang administrasi dan dua ruang kelas.
Namun, berkat efisiensi penyerapan dan kecermatan perhitungan anggaran, pihak sekolah bersama Tim Pelaksana Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) berkonsultasi langsung dengan pihak fasilitator.
Realisasi sisa dana tersebut akhirnya berhasil dimaksimalkan untuk membiayai perbaikan tambahan dua unit ruangan lain yang mendesak, yakni ruang kepala sekolah dan satu ruang kelas tambahan.
Kepala UPT SPF SDN 104231 Sugiharjo, Agus Salim Lubis, S.Pd. (40) menjelaskan kronologi pengalihan dan optimalisasi anggaran tersebut saat ditemui di lokasi sekolah, Rabu (28/10/2026). Harapannya bantuan rehabilitasi tidak berhenti sampai di tahun ini saja, namun juga di tahun berikutnya agar sekolah bisa menjadi lebih baik lagi.
"Berdasarkan perjanjian kerja sama, awalnya kami mendapatkan bantuan rehabilitasi untuk tiga ruangan, yaitu satu ruang administrasi dan dua ruang kelas. Namun, kemarin saya bersama tim P2SP berkoordinasi dengan fasilitator yang menangani rehabilitasi di sekolah kami. Karena masih ada sisa anggaran, saya berkonsultasi dengan fasilitator mengenai kebutuhan lain yang masih perlu diperbaiki di sekolah. Saya menyampaikan bahwa kantor juga perlu direhabilitasi. Alhamdulillah, sisa anggaran tersebut dapat digunakan untuk menambah dua ruangan, yaitu satu ruang kepala sekolah dan satu ruang kelas. Dengan demikian, total ruangan yang mendapatkan bantuan revitalisasi menjadi lima ruangan, yakni satu ruang kepala sekolah, satu ruang administrasi atau ruang guru, dan tiga ruang kelas," ujar Agus Salim Lubis.
"Harapan saya, program bantuan revitalisasi ini tidak hanya dilaksanakan pada tahun ini. Kalau bisa, program ini terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya. Dengan demikian, sekolah-sekolah atau satuan pendidikan di seluruh Indonesia bisa menjadi lebih baik lagi. Itulah harapan saya,” tambahnya.
Perkembangan progres fisik di lapangan kini telah menunjukkan hasil signifikan. Bangunan sekolah tampak jauh lebih kokoh, bersih, dan rapi dengan lapisan cat baru. Walaupun pengadaan mebel baru masih berproses, ruangan kelas telah difungsikan kembali secara bertahap oleh para murid dengan memanfaatkan sarana meja dan kursi lama yang kondisinya masih layak.
Dampak manfaat pemulihan ini langsung dirasakan oleh warga sekolah; saat hujan lebat kembali memicu genangan di Sugiharjo pada September 2026, air hanya menggenangi halaman dan tidak lagi menembus lantai ruang kelas sebagaimana masa lalu. Keberadaan ruang belajar baru turut mendongkrak antusiasme para siswa untuk terus mendulang ilmu pengetahuan. Siswi kelas VI SDN 104231 Sugiharjo, Indah Syafira (12), mengungkapkan kegembiraannya bersama rekan-rekan sekelas.
"Ruangannya cantik dan nyaman untuk belajar. Kami mau membuat pojok baca dan berkreasi menggunakan bahan-bahan bekas untuk didaur ulang. Kami juga mau membuat karya sendiri, lalu menempelkannya di dinding kelas," ungkap Indah Syafira.
Strategi pelaksanaan pemulihan sektor pendidikan ini merujuk pada panduan Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Sumatera 2026–2028 yang disusun oleh Kementerian PPN/Bappenas. Dokumen Renduk PRRP menggariskan bahwa arah kebijakan pada bidang pendidikan diprioritaskan untuk pemenuhan layanan pendidikan dalam situasi darurat guna memastikan hak belajar anak tetap terpenuhi, serta memulihkan layanan pendidikan secara optimal, lebih baik, berkesinambungan, dan tangguh terhadap risiko bencana.
Pada strategi rehabilitasi, intervensi difokuskan pada revitalisasi satuan pendidikan dengan tingkat kerusakan ringan, sedang, hingga berat; penyediaan ruang kelas semi-permanen; pemenuhan paket perlengkapan belajar; hingga pendampingan trauma healing dan pemberian tunjangan khusus bagi pendidik dan tenaga kependidikan terdampak bencana.
Pelaksanaan di lapangan juga mengadopsi prinsip Build Back Better melalui penguatan struktur penahan beban bangunan dan penyesuaian elevasi lantai agar terhindar dari siklus banjir berulang.
Capaian pemulihan di SDN 104231 Sugiharjo merupakan bagian dari progres makro sektor pendidikan yang dihimpun dalam laporan harian Poskonas Satgas PRR. Pada skala regional Provinsi Sumatera Utara, dokumen Rencana Aksi Renduk PRRP mengalokasikan target revitalisasi mencapai 2.571 unit fasilitas pendidikan (sekolah, madrasah, pesantren, dan pendidikan keagamaan) serta penyaluran tunjangan khusus bagi 46.359 pendidik dan tenaga kependidikan (PTK).
Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Kasatgas PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan pentingnya sinergi seluruh pihak dalam mengeksekusi anggaran pemulihan.
"Harapan kami dengan koordinasi ini akan mempercepat semua proses dan teman-teman K/L semua bergerak dan juga bisa mendorong semua pemerintah daerah dengan anggaran masing-masing dan tambahan anggaran itu juga bisa bergerak dengan lebih cepat," tutup Tito.
