Berkubang Kuman di Air Banjir

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Banjir Kemang Utara (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Banjir Kemang Utara (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Pekatnya air banjir tidak saja merendam rumah, namun juga membuat masyarakat terkepung bakteri dan zat kimia dari berbagai tempat kotor yang ada di sekitar lingkungan mereka.

Air Jakarta memiliki reputasi sebagai air dengan kualitas buruk dan bahkan mengandung racun. Penyebabnya adalah, tingginya polusi udara dan pengelolaan limbah yang bisa dibilang belum baik.

Menurut data Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta tahun 2016, air tanah di Jakarta tidak sepenuhnya aman bagi penduduk karena memiliki tingkat pencemaran sampai 63 persen.

Sumber air di sungai juga mengalami pencemaran yang sangat signifikan. Masih dalam laporan BPLHD DKI Jakarta, diteliti 258 titik dari 20 sungai di Jakarta sebagian besar mengalami pencemaran. Terdapat 43 titik mengalami cemar ringan, 99 titik mengalami cemar sedang, dan 114 titik cemar berat.

Sejauh ini bakteri yang paling mengancam adalah bakteri eschercia coli atau biasa dikenal bakteri e coli. Bakteri yang biasa menjadi biang penyakit diare ini berkontribusi cukup tinggi terhadap buruknya kualitas air di Jakarta. Endapan limbah rumah tangga yang dihasilkan warga membuat kondisi air di Jakarta menjadi tercemar.

Normalnya, aliran air setidaknya mengandung 20 ribu bakteri e coli per 100 milimeter air. Sebagai contoh, Sungai Kramat Jati memiliki 13.700.000 bakteri e coli. Angkanya bervariasi dari satu sungai dengan sungai yang lainnya, namun jumlahnya selalu jauh di atas angka batas normal. Jumlah tersebut menggambarkan bahwa e coli selalu ada setiap saat dan bisa menjadi hantu yang terus membayangi.

Belum lagi ancaman bakteri e coli lainnya yaitu bakteri e coli tinja yang berasal dari feses manusia dan juga septic tank. Faktor mendasar kondisi air di Jakarta yang buruk tentu menjadi lebih buruk ketika banjir tiba.

Debit air dari sumber yang penuh polusi akibat sampah bercampur aduk dengan kandungan septic tank dan parit yang kemudian membanjiri tempat tinggal manusia. Kandungan bakteri e coli tinja di Jakarta jauh di atas angka normal yaitu 2000 bakteri per 100 mililiter air, dengan angka bervariasi dari masing-masing daerah dan bantaran sungai.

Itu baru berkaitan dengan limbah rumah tangga yang ada di sungai dan kotoran manusia. Parit yang menjadi saluran air di permukiman penduduk belum termasuk dalam hitungan di atas. Parit yang dipenuhi sampah plastik dan endapan zat kimia lainnya.

Kandungan kimia benar-benar menjadi ancaman. Data dari laporan berjudul Daya Tampung Beban Pencemaran Sungai tahun 2014, zat kimia seperti posfat (PO4), MBAS (Deterjen), Fenol, dan Mangan tercatat mencemari air Jakarta di atas standar yang telah ditetapkan oleh Baku Mutu.

Sehingga, banjir tidak hanya menghambat aktivitas sehari-hari, namun juga membuat air tercemar yang ada di sungai dan sumber lainnya menjadi dekat bahkan bersentuhan langsung dengan warga. Catatan bakteri e coli hanya satu sisi tentang warna coklat yang nampak di air banjir. Masih ada kemungkinan bakteri lain bakal muncul.