Berkunjung ke Xinjiang, China

kumparanNEWSverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemimpin media dari Indonesia berkunjung ke Xinjiang, China. Foto: Arifin Asydhad
zoom-in-whitePerbesar
Pemimpin media dari Indonesia berkunjung ke Xinjiang, China. Foto: Arifin Asydhad

Sejumlah pemimpin media dari Indonesia bersama Presiden Direktur Adaro Energy Garibaldi Thohir berkunjung ke Xinjiang, China. Perkembangan Xinjiang, provinsi terbesar di China, ini menakjubkan.

Selama dua hari, Jumat (15/11) hingga Sabtu (16/11) rombongan mengunjungi beberapa tempat di Urumqi. Kota Urumqi merupakan ibukota provinsi Xinjiang.

Kunjungan antara lain dilakukan ke The Precious Geological Heritage, The Xinjiang Islamic Institute, dan komunitas masyarakat di Distrik Hongmiaozi. Rombongan juga bertemu dan berdiskusi dengan Wakil Gubernur Xinjiang Arken Tuniyazi.

The Precious Geological Heritage merupakan salah satu tempat wisata yang menjadi daya tarik Urumqi. Di tempat ini, pengunjung bisa melihat aneka fosil-fosil kayu berumur ribuan tahun yang sangat indah. Salah satunya, fosil kayu Bobulus.

Foto Fosil kayu ribuan tahun di Geological Heritage di Urumqi. Foto: Arifin Asydhad

Di tempat ini juga pengunjung bisa melihat atraksi kuda, kandang kuda, dan galeri kuda. Banyak lukisan kuda dan benda-benda kuno terkait dengan kuda.

Atraksi berkuda salah satu show di Geological Heritage, Urumqi. Foto: Arifin Asydhad

Ada sekitar 200 kuda berbagai jenis di tempat wisata ini. Pengunjung bisa menghampiri kuda-kuda berbagai jenis ukuran ini di kandangnya sambil memberi makan dengan wortel.

Di The Xinjiang Islamic Institute, rombongan diterima oleh pimpinannya, Ustad Abdul Roqieb. Di kampus ini, rombongan diperkenalkan kepada para mahasiswa yang sedang belajar di kelas.

Ustadz Abdul Roqieb memperlihatkan suasana kelas dan mahasiswanya di The Xinjiang Islamic Institute. Foto: Arifin Asydhad

Abdul Roqieb menjelaskan mengenai institut yang sudah berumur 32 tahun dan perkembangannya, serta kurikulum-kurikulumnya. Menurut Roqieb, pemerintah China sangat mendukung institusi tersebut. Kini di kampus baru yang baru ditempati pada 2017, ada 1.100 mahasiswa yang menuntut ilmu.

Garibaldi Thohir dan para pemred berfoto dengan Abdul Roqieb seusai salat jumat. Foto: Arifin Asydhad

Di kampus yang megah ini, rombongan diajak makan siang bersama para mahasiswa. Setelah itu, rombongan juga melaksanakan salat Jumat di masjid di kampus ini.

Rombongan juga melihat pameran tentang terorisme dan kekerasan yang berada di gedung Xinjiang International Exhibition Centre. Pameran ini dibuka tahun lalu yang berisikan tentang data-data terorisme dan kekerasan yang terjadi di China. Pameran ini dibangun pemerintah China sebagai upaya untuk memerangi terorisme.

Bahan-bahan peledak yang digunakan teroris dipajang di Pameran Terorisme. Foto: Arifin Asydhad

Di malam hari, rombongan bertemu Wakil Gubernur Xinjiang Arken Tuniyazi dan jajarannya. Arken, yang seorang muslim dan asli Uighur, membeberkan perkembangan Xinjiang, terutama perkembangan ekonomi dan pariwisata.

Bertemu Wakil Gubernur Xinjiang Arken Tuniyazi. Foto: Arifin Asydhad

Dia juga menyinggung mengenai upaya antisipasi dan pemberantasan radikalisme dan terorisme di Xinjiang. “Saya bersyukur bahwa tiga tahun terakhir tidak ada kasus terorisme dan radikalisme yang terjadi di Xinjiang,” kata Arken.

Garibaldi Thohir - sering disapa Boy Thohir - yang memimpin delegasi menyampaikan terima kasih atas penerimaan yang sangat hangat dari wakil gubernur. Boy menyampaikan bahwa terorisme dan radikalisme adalah musuh bersama.

Suasana makan malam bersama Wakil Gubernur Xinjiang. Foto: Arifin Asydhad

Namun, Boy menegaskan bahwa tidak ada ajaran agama yang mengajarkan terorisme dan pembunuhan, termasuk ajaran Islam. “Islam adalah rahmatan lilalamien. Kalau ada orang yang mengaku-aku membawa agama dalam melakukan terorisme dan radikalisme, itu bukan pesan Islam,” kata Boy.

Boy juga menyampaikan akan mendorong pemerintah Indonesia untuk melihat Xinjiang dalam melakukan kerjasama yang saling menguntungkan. Salah satunya kerjasama pariwisata dan pemberantasan terorisme.

Garibaldi Thohir dan Wakil Gubernur Xinjiang Arken Tuniyazi melakikan toast jus buah merah delima. Foto: Arifin Asydhad

Pada hari kedua, rombongan mengunjungi pos komunitas di distrik Hongmiaozi. Di komunitas ini, tinggal 3.100 warga dari berbagai etnis. Pos ini melayani kebutuhan warga, dari soal masalah sosial, pendidikan, kesehatan, hukum, dan sebagainya.

Anak-anak sedang bersekolah di pos komunitas di distrik Hongmiaozi. Foto: Arifin Asydhad

Di pos ini, ada sekolah untuk anak-anak. Juga ada tempat pelatihan usaha, seperti memproduksi kue dan merangkai bunga. Pos ini merupakan salah satu dari 900 pos yang dibangun pemerintah untuk memastikan hidup masyarakat harmonis dan terjamin kebutuhannya.

Selama di Urumqi, rombongan juga melihat-lihat suasana kota. Meski terletak sangat jauh dari Bejing, sekitar 4 jam perjalanan lewat udara, namun kota Urumqi sangat maju.

Salah satu pemandangan infrastruktur jalan raya di kota Urumqi. Foto: Arifin Asydhad

Infrastruktur di kota ini, terutama jalan raya, sangat bagus. Kota dengan jumlah penduduk 3 juta jiwa ini juga sangat indah, bangunan tertata rapi dengan desain-desain yang sangat menarik.

Pendapatan per kapita provinsi Xinjiang ini sekitar US$ 7.600, sekitar dua kali lipat pendapat per kapita Indonesia. Salah satu perkembangan paling pesat adalah industri pariwisata. Bila tahun 2018, ada 150 juga wisatawan, baik domestik maupung asing yang datang ke Xinjiang, pada tahun 2019 ini meningkat tajam. Jumlah wisatawan dari Januari hingga Oktober 2019 saja sudah mendapai 200 juta wisatawan.