Berpakaian Hitam, Massa di Hong Kong Kembali Turun ke Jalan

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Salah satu demonstran yang menolak RUU anti ekstradisi saat berkumpul di Victoria Park di Hong Kong, China, Minggu (11/8). Foto: REUTERS / Thomas Peter
zoom-in-whitePerbesar
Salah satu demonstran yang menolak RUU anti ekstradisi saat berkumpul di Victoria Park di Hong Kong, China, Minggu (11/8). Foto: REUTERS / Thomas Peter

Massa antipemerintah di Hong Kong kembali berunjuk rasa, Minggu (11/8). Jika sebelumnya hanya menyerukan penghapusan RUU Ekstradisi, kali ini, mereka menuntut reformasi total dan penegakan demokrasi.

Aksi ini untuk menindaklanjuti demonstrasi yang sempat pecah pada Sabtu (10/8) lalu. Mereka menganggap aparat telah bertindak represif saat menghalau massa, tak hanya menggunakan tembakan gas air mata semata.

Demonstran yang menolak RUU anti ekstradisi saat berkumpul di Victoria Park di Hong Kong, China, Minggu (11/8). Foto: REUTERS / Thomas Peter

Hari ini, aparat juga menangkap 16 pendemo di Hong Kong atas tuduhan kepemilikan senjata ilegal. Sepanjang Juni-Agustus, sudah ada 600 pendemo yang ditangkap.

Reuters melaporkan, Minggu sore, massa berpakaian hitam memadati aula kedatangan Bandara Hong Kong, seraya meneriakkan "Bebaskan Hong Kong, Revolusi Zaman Kami".

Di waktu yang bersamaan, massa juga menggelar long march di Sham Shui Po dan Victoria Park. Tak hanya orang dewasa, anak-anak juga ikut beraksi di tengah terik matahari, menuntut aparat dan pemerintah mendengarkan permohonan mereka.

kumparan post embed

Jason Liu, 29, salah satu pendemo, mengaku amarahnya tersulut lantaran melihat sikap polisi yang bertindak seperti memusuhi daripada melindungi warga Hong Kong. "Tapi target utama kita jelas pemerintah. Mereka tidak menanggapi permintaan kita," tuturnya.

Saat ini, RUU Ekstradisi sedang ditangguhkan. Namun, warga protes karena ingin RUU tersebut dihapus seluruhnya.

Demonstran yang menolak RUU anti ekstradisi di Sham Shui Po, Hong Kong, China, Minggu (11/8). Foto: REUTERS/Issei Kato

Mereka khawatir RUU Ekstradisi hanya akan menguntungkan China. Mereka memastikan Hong Kong adalah negara otonom yang memiliki kebijakan negara sendiri.

Demonstran yang menolak RUU anti ekstradisi menutup jalan di Sham Shui Po, Hong Kong, China, Minggu (11/8). Foto: REUTERS/Issei Kato
Demonstran yang menolak RUU anti ekstradisi di Sham Shui Po, Hong Kong, China, Minggu (11/8). Foto: REUTERS/Issei Kato

Jika RUU ini digulirkan, massa meyakini RUU tersebut akan digunakan pemerintah China untuk mengincar musuh-musuh politik mereka di Hong Kong. Mereka juga tidak percaya dengan sistem pengadilan China yang disebut sejumlah lembaga HAM internasional kerap melakukan pelanggaran hak asasi terhadap tahanan, termasuk penyiksaan, pengakuan paksa, hingga ketiadaan akses pengacara.