Bersih-bersih Istana, Bursa dan Perbankan Kena Imbasnya

Operasi bersih di istana kerajaan Arab Saudi dilaporkan berlanjut. Pangeran pewaris tahta kerajaan Muhammad bin Salman, atas nama Komisi Anti Korupsi menangkap dan menahan 11 pangeran lainnya, empat menteri, dan sejumlah pengusaha.
Mengutip sebuah sumber, Reuters pada Rabu (8/11) memberitakan operasi penangkapan masih berlanjut. Sasarannya masih di kalangan elite politik, serta pebisnis dari lingkungan kerajaan. Tak ayal aksi penegakan hukum ini juga berdampak terhadap kinerja bisnis negara kaya minyak itu.
Apalagi tuduhan yang disandangkan kepada mereka, adalah pencucian uang, penyuapan, pemerasan dan pemanfaatan jabatan publik untuk keuntungan pribadi.

Ribuan Rekening Perbankan Dibekukan Menyusul aksi penangkapan, otoritas Arab Saudi juga membekukan 1.700 rekening bank. Mengutip sumber dari kalangan perbankan, Reuters menyebut jumlah itu naik dari yang dilaporkan pada Selasa (7/11) sebanyak 1.200 rekening.
Direktur Program Timur Tengah di Center for Strategic and International Studies (CSIS) Washington DC, Amerika Serikat, Jon B. Alterman mengatakan hal ini akan membuat para investor takut. “Para investor akan bertanya-tanya tentang nasib mitra bisnis mereka,” katanya seperti dikutip dari csis.org.
Menyadari risiko ini, Muhammad bin Salman dan bank sentral Arab Saudi berusaha meredam kekhawatiran tentang operasi tersebut. Mereka mengatakan, hanya rekening bank pribadi atas nama yang berkasus hukum yang dibekukan. Sementara rekening perusahaan, termasuk yang sebagian atau seluruh sahamnya dimiliki para tahanan itu, tak akan diganggu.

Kinerja Bursa Melorot Selain kekhawatiran yang merebak di kalangan nasabah perbankan, kinerja bursa Arab Saudi juga melorot. Pada perdagangan Rabu (8/11) pasar saham terus turun di awal perdagangan, akibat kekhawatiran tentang dampak ekonomi dari operasi anti-korupsi ini.
Indeks Saudi TASI turun hingga 1,0% hanya setengah jam setelah pembukaan perdagangan. Anjloknya indeks, akibat tekanan dari saham-saham perusahaan yang terkait dengan orang-orang yang ditahan.
Saham Kingdom Holding, induk perusahaan bisnis milik Pangeran Alwaleed bin Talal, bahkan meluncur turun 10% pada Minggu (5/11) atau berselang sehari setelah penangkapannya. Ini akibat kekhawatiran sejumlah kalangan atas kelangsungan investasi Alwaleed di berbagai perusahaan global.
